Hara sedang duduk di bawah pohon bungur yang tumbuh subur di taman rumah sakit jiwa. Di sebelahnya, Billa duduk sambil menggambar dengan pensil di buku sketsanya. Perempuan itu rupanya menggambar wajah Hara, dari sketsa yang pernah dia buat berbulan-bulan sebelumnya ketika pertama Hara memperkenalkan diri.
"Kamu ingat," kata Billa yang membuat Hara menoleh padanya. "Kamu bilang padaku kalau kamu laki-laki paling tampan di seluruh universitas."
Hara tertawa sejenak, lalu membela diri, "Aku benar, aku ganteng." Lalu Hara tersenyum dengan penuh kemenangan saat Billa selesai menggambarnya. "Kamu nggak percaya?"
"Percaya apa?" Billa menyerahkan gambarnya pada Hara.
"Lihat gambarmu lalu lihat wajahku," kata Hara menyandingkan hasil gambar Billa dengan wajahnya. "Percaya kalau aku ini ganteng, memang paling ganteng di seluruh kampus, kok."
Billa merebut buku sketsanya lagi, lalu menuliskan kalimat yang Hara ucapkan. "Tapi," kata Bila. "Sebenarnya Zain lebih tampan darimu tahu!"
Billa tersenyum saat mengatakan itu, lalu Hara mencuri bibirnya dengan cepat. Perempuan itu tentu terkejut, pipinya memerah lalu menatap Hara kesal. "Apa tadi?"
"Bukan apa-apa," kata Hara ringan. "Kalau Zain lebih ganteng dariku, tapi kamu bisa tersenyum bersamaku, bukan masalah."
"Zain juga lucu," kata Billa memancing Hara sambil tersenyum. "Dia punya banyak tebak-tebakan konyol."
Hara mendengus kesal. "Laki-laki humoris memang paling disukai," katanya menghela napas. "Ya udah, panggil Zain aja untuk menemani kamu."
Ketika Hara berdecak kesal dengan bergaya seperti perempuan yang ngambek, Billa lalu mencium pipi Hara dalam sekejap. Membuat laki-laki itu segera menoleh dengan mata membulat sempurna. "Apa itu tadi?"
"Bukan apa-apa," jawab Billa sambil berdiri. "Aku mau bermain tebak-tebakan dengan Zain saja."