SMA Swasta Harapan Bangsa beroperasi dengan lalu lalang antara siswa dan guru memeriahkan suasana. Lantai demi lantai dipenuhi langkah yang brisik ketika bel istirahat berseru kepada para siswa seolah menjadi pahlawan dibalik rasa lelahnya belajar.
Siang yang cerah seperti biasa, menjadi waktu yang sesuai untuk membaca. Dibalik lorong yang sesak nan panas, Raiden yang umum dipanggil Rei bersama temannya Sila,Rena, dan William dalam perjalanan mendaki lantai demi lantai menuju perpustakaan sekolah. Langkah demi langkah dari lantai 2 menuju lantai 3 terasa ringan bagi Rei seorang ketika hatinya dipenuhi api semangat yang membara.
Sila menatap lantai sepanjang perjalanan dengan wajah lesu seolah menjadi milyarder yang kehilangan seluruh asetnya, helaian rambut yang diikat kebelakang khas ponytail menegaskan bentuk wajahnya yang cantik dengan hitam rambutnya yang halus memancarkan seluruh tekstur yang rapi dan lurus. Lekukan tubuh yang indah menjadi pilihan ideal bagi banyak pria.
Rena memasang wajah cemberut dengan bibir yang mancung beberapa senti kedepan, shortcut hair dengan wajah yang manis membuatnya menjadi cewe paling imut disekolah. Tekstur bergelombang nan indah dari rambutnya memancarkan aura yang unik dari tubuhnya yang mungil.
Pembenci belajar yang lebih suka menghabiskan waktu untuk menonton film dibanding membaca. Commahair cut dengan rahang wajah yang tegas dan tubuh yang tinggi tegap seolah sudah menjadi model internasional. Ia lah William, rambutnya terus menerima gesekan per gesekan dari tangannya karena rasa kesalnya yang harus bertemu dengan mimpi buruknya ketika jam istirahat padahal ia sudah lelah belajar matematika dari jam sebelumnya.
"Cih males kali sih rasanya"gumam William.
Ia kesal karena harus menghabiskan waktu istirahat yang terbatas di tempat membosankan seperti Perpustakaan. Rei berasal dari keluarga biasa yang tidak memberikan support yang cukup kepadanya. Orang tuanya tidak terlalu peduli kepada apapun yang dilakukannya. Ia berhasil masuk ke SMA Harapan Bangsa melalui jalur beasiswa yang didapatkan dari usaha kerasnya. Hal itu membawa rasa kagum sejak pertama kali Rena melihatnya di hari pertama sekolah dan memperkenalkan Ia kepada Sila dan William, seperti itulah bagaimana mereka bisa berteman sampai sekarang di kelas XI. Kerja keras Rei yang tidak pernah mendapat dukungan keluarga serta harus berjuang sendiri selama ini seolah membangkitkan rasa empati yang sangat kuat dari mereka seolah sudah menjadi keharusan dari temannya untuk menggantikan peran pendukung tersebut. Hal ini tidak luput dari menemani Rei dalam belajar.
Namun rasa malas William kini sedang berada dipuncak Everest, sehingga ia mencoba memancing Rei untuk tidak ke perpustakaan.
"Oi Rei, beneran nih mau ke perpus? Yakin gk pingin kantin aja, sekalian ngisi perut" ujar William.
"Lah ngapain nanya lagi, tadi kan kau udah setuju ikut ke perpus, udahlah jalan aja. Aku bahkan masih ingat kau bilang dah sarapan" balas Rei.