Last Affection: Burung dalam Sangkar (Buku 1)

Marion Drossi
Chapter #11

Penyatuan Dua Kota (Eretium)

Lantai istana itu begitu mengilap hingga aku bisa melihat bayanganku sendiri di dalamnya.

Untuk sesaat, aku terpaku menatapnya. Bayangan itu mengenakan jubah lusuh berdebu, rambutnya kusut oleh angin laut, dan matanya tampak lebih tua daripada umurnya. Aku tak tahu kapan terakhir kali aku melihat wajahku sendiri. Di Sangkar tak ada cermin. Akila tak perlu tahu seperti apa rupanya.

Istana ini adalah markas besar pertahanan Kota Byzantium, berdiri di atas bukit kecil yang menghadap ke pelabuhan. Pilar-pilar marmernya menjulang tinggi, dan di sepanjang dinding aula, puluhan prajurit berseragam biru tua berdiri berbaris dengan senapan di bahu. Tak seorang pun bergerak, tetapi aku bisa merasakan setiap pasang mata mengikuti langkahku.

Di ujung aula, di atas undakan batu, sebuah singgasana berlapis emas berdiri megah. Pria yang duduk di atasnya bertubuh tinggi dan besar, dengan janggut panjang yang mulai beruban dan bekas luka yang membelah mata kanannya, lurus dari alis hingga ke pipi. Ia tak perlu berdiri untuk membuat seisi ruangan merasa kecil.

Alexander. Pemimpin Kota Byzantium. Lima ribu prajurit siap bergerak atas perintahnya, dan ratusan lainnya masih ditempa di lapangan latihan di balik bukit. Dialah orang yang setiap malam mengirim nelayan dan petani ke padang perbatasan.

“Jadi,” suaranya berat dan dalam, memantul di pilar-pilar marmer, “siapa kau, berani datang ke istanaku tanpa diundang?”

Aku berlutut dengan satu kaki dan meletakkan tangan kanan di depan dada, persis seperti yang diajarkan pemilik penginapan pagi tadi. “Maafkan kelancangan saya, Yang Mulia.”

“Katakan apa maumu.”

Aku mengangkat wajah. “Saya ingin berbicara tentang Byzantium dan Eretria, Yang Mulia. Saya ingin perang ini berakhir.”

Hening sejenak. Lalu tawa Alexander meledak, menggema ke seluruh aula. Beberapa prajurit ikut menyeringai.

“Jadi kau utusan si tua bodoh itu?” Ia mencondongkan tubuhnya ke depan. “Apa Aconteus akhirnya bersedia menyerahkan tanah itu kepada kami?”

“Tidak, Yang Mulia. Lagi pula, tanah itu bukan milik siapa pun. Di sana pernah berdiri kuil Para Dewa, tempat yang dulu disucikan oleh kedua kota ….”

“Dewa?” Alexander memukul sandaran singgasananya. “Jangan bodoh, Anak Muda! Kalau para Dewa memang ada, di mana mereka saat Plataia membakar separuh dunia? Di mana mereka saat anak-anak kami kelaparan? Dewa hanyalah dongeng orang dulu, tempat manusia yang lemah berpangku tangan. Jangan bawa-bawa mereka ke dalam istanaku.”

“Kalau begitu, saya tidak akan membicarakan Dewa,” kataku. “Saya akan membicarakan manusia. Tanah itu tidak seberapa luasnya dibandingkan wilayah Byzantium, Yang Mulia. Namun, setiap malam lebih dari seratus orang mati memperebutkannya. Apakah Anda tidak merasa kasihan kepada mereka?”

“Mereka mati dengan terhormat. Itulah yang mereka ….”

“Terhormat?”

Suaraku meninggi sebelum aku sempat menahannya. Para prajurit di sepanjang dinding menegang. Aku mengepalkan kedua tangan, menekan bara yang tiba-tiba menyala di dadaku. Di kepalaku muncul wajah pria berambut ikal itu, matanya yang masih terbuka, tubuh anaknya yang roboh beberapa langkah darinya.

“Semalam saya melihat seorang ayah mati, Yang Mulia. Lalu anaknya. Tak ada yang terhormat dari itu,” kataku. “Mereka menginginkan kedamaian, bukan kematian. Mati tetaplah mati. Tak peduli apa sebutannya.”

Aula itu menjadi sunyi. Begitu sunyi hingga aku bisa mendengar debur ombak di kejauhan, di bawah bukit. Alexander menatapku lama, tanpa ekspresi.

“Lalu apa yang bisa kau tawarkan kepadaku, Anak Muda?” tanyanya akhirnya. Ia bangkit dari singgasananya dan menuruni undakan batu itu satu per satu, undakan yang memisahkan penguasa dari rakyatnya. “Kau datang tanpa senjata, tanpa pasukan, tanpa nama. Apa yang kau punya selain keberanian yang sembrono?”

Aku mengangkat tangan kananku perlahan dan membuka telapaknya.

Langkah Alexander terhenti. Matanya membelalak. “Akila?”

Dalam sekejap, puluhan senapan terangkat. Bunyi pengaman yang dilepas bersahutan di sepanjang dinding aula. Tak satu pun prajurit di ruangan itu perlu dijelaskan apa arti deretan angka hitam di telapak tanganku. Di dunia ini, tak ada ancaman yang lebih besar daripada seorang Akila.

“Turunkan senjata kalian,” kataku tanpa bergerak. “Dengarkan dulu apa yang ingin saya katakan.”

Alexander mengangkat sebelah tangannya. Satu per satu, senapan-senapan itu turun, meski tak satu pun mata berhenti mengawasiku.

“Nomor itu milik anjing-anjing Plataia,” katanya pelan. “Jadi kau salah satu dari mereka.”

Lihat selengkapnya