Last Affection: Burung dalam Sangkar (Buku 1)

Marion Drossi
Chapter #12

Perjalanan Berlanjut

Matahari tenggelam perlahan ke dalam laut, seakan ditelan ombak.

Aku duduk di atas batu karang di ujung pantai selatan Eretium, jauh dari pantai berbatu di utara tempat para pengungsi dulu menggigil di bawah hujan. Kini sebagian besar dari mereka sudah pindah ke rumah-rumah kayu di padang perbatasan. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat asap tipis dari tungku-tungku mereka membubung di kejauhan, bercampur dengan cahaya jingga senja. Pemandangan sederhana, tetapi aku tak pernah bosan memandanginya.

Sudah hampir sebulan kami tinggal di kota ini. Terlalu lama, kata Alexio. Setiap hari yang kami habiskan di satu tempat adalah satu hari tambahan bagi Plataia untuk mencium jejak kami.

“Jadi, kau benar-benar akan pergi besok pagi?”

Alexander berjalan pelan menyusuri pasir, menghampiriku. Ia tak lagi mengenakan jubah kebesarannya, hanya kemeja linen sederhana yang lengannya digulung hingga siku. Tanpa singgasana emas dan barisan prajurit, ia tampak seperti nelayan tua yang baru pulang melaut.

“Iya,” jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari laut. “Masih banyak yang harus kucari.”

Ia duduk di sampingku dengan dengusan kecil, lututnya berbunyi saat ditekuk. “Kau bisa tinggal di sini. Rumah di padang itu masih bisa ditambah satu lagi. Kota ini berutang padamu, Darien, dan kami tidak terbiasa membiarkan utang tak terbayar.”

Aku memungut sebutir batu kecil dan melemparkannya ke arah ombak. Batu itu lenyap tanpa suara. “Kalau aku tinggal, Plataia akan datang ke sini. Cepat atau lambat. Dan aku tidak ingin kota ini terbakar karena aku.” Aku menoleh kepadanya. “Lagi pula, kedamaian kalian belum benar-benar milik kalian. Kalian masih harus membayar upeti setiap musim.”

“Harga kedamaian,” gumam Alexander getir.

“Harga sebuah sangkar,” koreksiku. “Suatu hari aku akan kembali, Alexander. Dan ketika hari itu tiba, aku ingin Eretium berdiri di sisiku.”

Ia menatapku lama, lalu mengangguk. “Saat hari itu tiba, kau tak perlu meminta. Kami akan datang.”

Ombak berdebur di bawah kaki kami. Seekor burung laut melayang rendah di atas air, lalu menukik dan menghilang di balik buih. Aku mengikutinya dengan mataku sampai ia muncul lagi dengan seekor ikan kecil di paruhnya.

“Ada yang ingin kutanyakan sejak lama,” kata Alexander. “Tapi aku tak tahu apakah pantas.”

“Tanyakan saja.”

“Tentang ras kalian.” Ia mengusap bekas luka di wajahnya, sebuah kebiasaan yang mulai kukenali setiap kali ia sedang berpikir keras. “Bertahun-tahun aku mendengar cerita tentang Akila. Kota-kota yang dibakar dalam semalam. Pasukan yang tertawa sambil membantai. Mengapa? Apa yang mereka kejar?”

Aku terdiam cukup lama. Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya tidak.

“Sebagian karena mereka tidak tahu cara lain untuk hidup,” kataku akhirnya. “Sejak bisa berjalan, kami diajari bahwa membunuh adalah kehormatan. Kami tak pernah diberi pilihan untuk percaya pada hal lain. Dan sebagian lagi ….” Aku menatap telapak tanganku. “Karena Sang Penakluk.”

“Pemimpin kalian?”

“Gelar,” jawabku. “Diberikan kepada Akila dengan korban terbanyak. Ia memimpin seluruh ras, makan lebih banyak, tidur di tempat yang lebih hangat, dan berdiri lebih dekat dengan Orang Berwibawa daripada siapa pun di antara kami. Di Sangkar, tak ada yang lebih tinggi dari itu. Setiap anak Akila tumbuh dengan memimpikannya.”

Aku teringat seringai lebar 341 di lapangan tanah merah. Aku akan jadi Sang Penakluk berikutnya. Dadaku terasa sesak sejenak.

“Tapi ia tetap tinggal di dalam Sangkar,” lanjutku. “Ia tetap membawa nomor di telapak tangannya. Ia tetap berangkat ke medan perang setiap kali Plataia memerintah. Gelar itu hanya rantai yang dicat emas. Semakin berkilau rantainya, semakin keras Akila berjuang untuk mendapatkannya, dan semakin lupa mereka bahwa itu tetap rantai.”

Alexander tertawa kecil, tetapi tak ada kegembiraan dalam tawanya. “Rantai yang dicat emas,” ulangnya. “Kedengarannya tidak hanya berlaku untuk Akila.” Ia melirik ke arah istana di atas bukit, ke arah singgasana yang ia tinggalkan di sana. “Lalu kau? Kau tidak pernah memimpikannya?”

“Tidak.” Jawaban itu keluar lebih cepat daripada yang kuduga. “Aku tidak pernah benar-benar tahu apa yang kuinginkan. Tapi aku tahu bukan itu.”

“Kenapa?”

Aku menatap cakrawala, tempat langit dan laut bertemu dalam satu garis tipis berwarna jingga. Garis itu persis seperti yang ada di dalam mimpiku.

“Karena aku bermimpi,” kataku pelan. “Sejak kecil. Aku tak ingat kapan pertama kali, hanya saja mimpi itu selalu ada. Laut yang birunya tak berujung. Pegunungan yang diselimuti kabut. Salju yang turun pelan-pelan. Dan orang-orang yang tertawa sambil berbagi makanan, tanpa senjata, tanpa nomor di tangan mereka. Di Sangkar tak ada laut, tak ada salju, tak ada orang yang tertawa seperti itu. Aku tak pernah mengerti dari mana mimpi itu datang. Aku hanya tahu, setiap kali terbangun, aku merasa kehilangan sesuatu yang tak pernah kumiliki.”

Lihat selengkapnya