Last Affection: Burung dalam Sangkar (Buku 1)

Marion Drossi
Chapter #13

Kota Bawah Tanah (The Underground Town)

Aku terbangun karena tanah di bawah telingaku berdengung.

Bulan sudah condong ke barat. Api unggun tinggal bara yang memerah samar, dan udara gurun yang tadi siang membakar kini dingin menusuk tulang. Achila masih terlelap, kepalanya bergeser dari bahuku ke atas gulungan kain. Alexio tidur meringkuk di sisi lain bara, topi lebar menutupi wajahnya. Selain napas mereka, gurun itu sunyi sepenuhnya.

Namun, dengung itu tetap ada.

Aku menempelkan telinga ke pasir. Suaranya semakin jelas. Dentang logam yang beradu, berirama, seperti palu yang dipukulkan berulang kali. Di bawahnya, samar-samar, ada dengung panjang yang tak putus, suara yang hanya pernah kudengar di satu tempat: di dalam lambung pesawat yang membawa kami ke perang pertama.

Mesin.

Bulu kudukku meremang. Di dunia ini, hanya Plataia yang punya mesin. Begitu kata Dokter Elasmus. Begitu kata Alexio. Begitu yang kulihat sendiri selama perjalanan ini, dari Eleusina hingga Eretium, tak ada satu pun benda yang bergerak tanpa ditarik tangan, kaki, atau hewan.

Kalau ada mesin di bawah gurun ini, berarti ada Plataia di bawah gurun ini.

Aku bisa membangunkan Alexio. Barangkali seharusnya begitu. Namun, jika aku keliru, jika yang kudengar hanyalah angin yang bermain di celah reruntuhan, aku hanya akan merampas tidur mereka yang sudah terlalu sedikit. Aku meraih salah satu pisau pemberian Alexio, menyelipkannya di pinggang, lalu bangkit tanpa suara.

Suara itu menuntunku ke lereng bukit rendah di belakang perkemahan, tempat bongkahan-bongkahan beton dunia lama menyembul dari pasir seperti gigi raksasa yang patah. Di sana dengungnya paling kuat. Aku melangkah di antara reruntuhan itu dengan hati-hati, menguji setiap pijakan.

Kaki kananku amblas.

Tidak dalam, sekitar sejengkal, tetapi cukup untuk membuatku tahu bahwa tak ada tanah padat di bawahnya. Aku menarik kaki itu pelan-pelan, lalu, dengan rasa penasaran yang belakangan kusadari bodoh, menekan permukaan yang sama dengan kaki kiriku.

Tanah itu runtuh sepenuhnya.

Aku jatuh menembus pasir, kayu lapuk, dan sesuatu yang berdentang seperti lembaran besi. Kegelapan menelanku, lalu punggungku menghantam dasar yang keras. Napasku tersentak keluar. Rasa nyeri menjalar dari bahu hingga pinggang, dan untuk beberapa tarikan napas, aku hanya bisa berbaring menatap lubang bercahaya bulan jauh di atasku, menunggu tubuhku menambal apa pun yang baru saja retak.

Setelah nyerinya mereda, aku bangkit dan memandang sekeliling.

Aku berada di dalam sebuah lorong. Bukan gua alami. Dindingnya digali rapi dan diperkuat dengan balok-balok besi berkarat yang dipasang berselang. Obor-obor menyala di sepanjang dinding, masing-masing berjarak tak lebih dari satu langkah panjang dari yang lain, menerangi jalan yang menurun landai ke dalam perut bumi. Dentang dan dengung itu datang dari ujungnya.

Aku menggenggam gagang pisau, lalu mengikuti cahaya.

Lorong itu berakhir di sebuah tepian batu, dan di bawahnya, terhampar sesuatu yang membuatku lupa bernapas.

Sebuah ruangan raksasa, lebih luas daripada lapangan tanah merah di tepi Sangkar, digali di bawah gurun. Langit-langitnya disangga pilar-pilar besi setebal batang pohon purba, dan lampu-lampu kekuningan bergantung pada rantai, berayun pelan, menerangi lantai yang dipenuhi benda-benda yang tak pernah kubayangkan akan kulihat di luar Plataia. Bangkai-bangkai kendaraan berlapis baja berjajar seperti hewan yang sedang tidur, sebagian sudah dicat ulang, sebagian masih terbuka perutnya. Tumpukan rongsokan dunia lama menggunung di sudut-sudut, dan di antara mereka, puluhan orang berkeringat sedang memukul, mengelas, dan memasang.

Di tengah ruangan, berdiri sebuah helikopter.

Bukan helikopter Plataia yang mulus dan hitam mengilap. Lambungnya tambal sulam dari lempengan logam berwarna berbeda, seolah dijahit dari selusin bangkai yang lain. Namun, bilah-bilah baling-balingnya utuh, dan di sisinya, seseorang telah menulis dengan cat putih yang mulai mengelupas: Black Hawk II.

Mereka membangunnya sendiri, pikirku, terpana. Di bawah hidung Plataia.

“Hei! Siapa kau?!”

Dentang palu berhenti serentak. Puluhan kepala menoleh ke arahku. Seorang pemuda yang memegang obeng menjatuhkannya, dan bunyinya bergema di seluruh ruangan. Beberapa orang meraih kunci besi dan potongan pipa. Di dekat helikopter, seorang lelaki berkepala botak melompat turun dari tangga dan meraih senapan yang tersandar di roda kendaraan.

Aku mengangkat kedua tangan. Pisau di pinggangku tetap di sarungnya.

“Aku bukan musuh,” seruku. “Aku jatuh dari atas. Ada lubang di lereng bukit.”

“Lubang?” Lelaki botak itu berjalan mendekat, laras senapannya tak sedikit pun menyimpang dari dadaku. Tubuhnya pendek dan kekar, lengannya penuh luka bakar kecil dan noda oli, dan dari cara yang lain menunggu perintahnya, aku tahu dialah yang berkuasa di sini. “Itu pintu kami. Kami menutupnya dengan reruntuhan, lembaran besi, dan pasir setebal dua lengan. Tak ada orang yang bisa jatuh ke sana kecuali ia sengaja menginjaknya.”

“Aku memang sengaja menginjaknya,” akuku. “Aku mendengar suara kalian dari atas. Kukira … kukira kalian orang Plataia.”

Lelaki itu menyipitkan mata. “Kau mendengar kami? Dari permukaan?”

Aku tak menjawab. Tak ada jawaban yang tak akan membuatnya semakin curiga.

“Jadi kau bukan pasukan ….”

“Plataia?” Aku menggeleng. “Bukan. Aku pengembara. Dua temanku sedang tidur di kaki bukit di atas sana.”

Ia menatapku lama, menimbang. Lalu, perlahan, ujung senapannya turun beberapa jari. “Pengembara tidak berjalan ke tengah Xino tanpa alasan.”

“Kami sedang menuju selatan,” kataku. “Tempat apa ini?”

Lelaki itu mendengus, nyaris tertawa. Ia menurunkan senapannya sepenuhnya, lalu berbalik ke arah helikopter tambal sulam itu, seolah aku tak lagi cukup berbahaya untuk ditatap. “Ini kota kami.”

“Kota?” Aku memandang langit-langit batu di atas kepalaku. “Di bawah tanah?”

“Di bawah tanah,” ulangnya. “Kami menyebutnya Kota Bawah Tanah. Orang-orang yang lebih suka bahasa dunia lama menyebutnya The Underground Town. Nama tak terlalu penting kalau tak ada yang boleh tahu tempatmu.”

Ia meraih sehelai kain dari saku celananya dan mengusap lambung helikopter dengan gerakan yang nyaris penuh kasih. “Dulu kota kami berdiri di atas sana. Kota kecil di tepi gurun, dengan bengkel dan pandai besi. Kami membuat pompa air, kincir angin, gerobak beroda besi. Hal-hal kecil. Lalu suatu hari orang-orang Plataia datang dan memberi kami peringatan: tak ada kota yang boleh membuat mesin. Tak ada yang boleh lebih pintar dari mereka.”

“Apa yang terjadi?”

“Kami tidak mendengarkan.” Tangannya berhenti mengusap. “Jadi mereka kembali, dan kali ini mereka tidak memberi peringatan. Separuh kota terbakar dalam satu malam. Pemimpin kami mati bersama bengkelnya. Yang tersisa turun ke bawah, ke ruang-ruang bawah tanah peninggalan dunia lama yang dulu kami pakai sebagai gudang. Kami menggali. Dan kami terus menggali.” Ia menoleh. “Dua puluh tahun, Pengembara. Dua puluh tahun Plataia mengira kami sudah musnah.”

Aku menatap kendaraan-kendaraan baja itu, tumpukan rongsokan, wajah-wajah lelah yang masih mengawasiku dengan curiga. Dua puluh tahun bersembunyi di bawah pasir, membangun sesuatu yang tak boleh ada.

“Dan semua ini,” kataku pelan, “untuk apa?”

Matanya kembali menajam. “Kau banyak bertanya untuk seorang pengembara. Jangan-jangan kau mata-mata?”

“Kalau aku mata-mata, aku tak akan jatuh ke tengah kotamu seperti karung gandum.”

Untuk pertama kalinya, sudut bibirnya terangkat. Beberapa pekerja di belakangnya terkekeh. “Masuk akal,” katanya. Ia mengulurkan tangannya yang kasar dan hitam oleh oli. “Thomas.”

Lihat selengkapnya