Last Affection: Burung dalam Sangkar (Buku 1)

Marion Drossi
Chapter #14

Gurun Xino

Gurun Xino tidak membunuh dengan cepat. Ia membunuh dengan sabar.

Itulah yang dikatakan Umba sebelum kami berangkat, dan pada hari kedua aku mulai mengerti maksudnya. Tak ada musuh yang bisa kulawan di sini. Tak ada tembok untuk dipanjat, tak ada penjaga untuk dilumpuhkan. Yang ada hanya pasir, sejauh mata memandang, bergelombang seperti laut yang membeku, dan matahari yang menggantung di atasnya seperti mata raksasa yang tak pernah berkedip. Panasnya merembes menembus kain tebal pemberian Thomas yang membalut tubuh kami dari kepala hingga kaki, menyisakan celah sempit untuk mata.

Menurut Umba, banyak orang pernah mencoba menyeberangi gurun ini. Pedagang, pengungsi, pasukan pemberontak yang ingin menghindari mata Plataia. Sebagian besar dari mereka kini menjadi bagian dari pasir yang kami injak. Di hari pertama, kami melewati tulang belulang seekor unta yang sudah memutih, setengah terkubur. Di hari kedua, kami melewati sesuatu yang lebih kecil, yang tak ingin kulihat terlalu lama.

Namun, hari itu Xino tampak tenang. Angin hanya berembus pelan, langit bersih tanpa awan, dan menurut hitungan Alexio, Bukit Montius tinggal dua hari perjalanan lagi.

“Darien.” Suara Achila serak di balik kain penutup wajahnya. “Bisakah kita berhenti sebentar?”

Aku menoleh. Langkahnya sudah melambat sejak tengah hari, dan aku sengaja tidak menyinggungnya karena tahu ia tak akan suka. Achila tak pernah mengeluh. Sejak Dystychía, sejak menara di kota mati itu, ia tak pernah sekali pun meminta kami berhenti. Kalau sekarang ia meminta, berarti tubuhnya sudah benar-benar tak sanggup.

“Kita istirahat di sana.” Aku menunjuk sebuah bukit pasir yang cukup tinggi untuk menyisakan sepetak bayangan di sisi timurnya.

Achila menjatuhkan diri ke pasir dan membuka penutup wajahnya. Kulitnya memerah, bibirnya pecah-pecah. Aku menyodorkan kantung air kepadanya.

“Minumlah. Jangan ditahan-tahan.”

“Kita harus berhemat ….”

“Minum.”

Ia menurut, meneguk tiga kali, lalu menyodorkan kantung itu kepada Alexio. Pria itu menggeleng, mengeluarkan sebatang rokok dari balik mantel panjangnya, dan menyalakannya dengan korek yang entah bagaimana masih berfungsi di tengah panas seperti ini.

“Nanti saja,” katanya. “Setelah ini habis.”

“Kau akan mati kehausan dengan asap di mulutmu,” kata Achila.

“Setidaknya aku mati dengan bahagia.” Alexio mengembuskan asap ke langit, lalu menunduk, memainkan pasir di telapak tangannya. Butir-butirnya mengalir di sela jari-jarinya seperti air. “Dua hari lagi ke Montius, kalau Umba tidak berbohong. Sepuluh hari lagi ke Naulus. Lalu Forlibia.”

Aku menerima kantung air dari tangannya dan meneguk sedikit. Rasanya hangat dan sedikit asin, seperti kulit kambing yang menampungnya. Namun, di tengah Xino, tak ada yang lebih nikmat daripada itu.

“Aku punya firasat buruk,” kata Achila tiba-tiba. Ia memeluk lututnya, menatap hamparan pasir yang membentang tanpa ujung. “Sejak tadi pagi. Seperti ada yang sedang mengawasi kita.”

“Di sini tidak ada siapa-siapa,” kataku.

“Justru itu.”

Aku tak tahu harus menjawab apa. Aku mengikuti arah pandangnya ke barat, ke cakrawala yang bergetar oleh panas. Tak ada apa pun di sana. Hanya garis kabur tempat pasir bertemu langit.

Lalu garis itu mulai menggelap.

Mulanya hanya seperti noda. Seberkas warna cokelat kehitaman yang merayap naik dari cakrawala, perlahan, seolah seseorang menuangkan tinta ke dalam air. Lalu noda itu melebar, meninggi, dan berputar. Awan-awan hitam bergulung di puncaknya, padahal sesaat yang lalu langit masih bersih. Kilat menyambar di dalamnya, tanpa suara, terlalu jauh untuk didengar.

Achila berdiri perlahan. Wajahnya pucat.

“Kalian berdua kenapa ….” Alexio mendongak, dan rokoknya jatuh dari bibirnya.

Pusaran itu tumbuh di depan mata kami. Sebuah dinding pasir setinggi gunung, berputar dan menderu, menelan cakrawala sedikit demi sedikit. Untuk pertama kalinya, aku mendengar suaranya. Bukan deru angin. Lebih mirip lolongan, panjang dan rendah, seperti makhluk raksasa yang terbangun dari tidurnya.

Badai, kata Umba. Yang datang tanpa tanda.

“Lari!” teriak Alexio.

Kami berlari ke timur. Pasir menelan setiap langkahku hingga ke mata kaki, membuat kakiku terasa seberat besi. Kain penutup wajahku terlepas, dan angin mulai menampar wajahku dengan butiran pasir yang tajam seperti jarum. Di depanku, Alexio berlari dengan topi lebar yang ditekannya ke kepala. Di belakangku, langkah Achila semakin tertinggal.

Aku berbalik, meraih tangannya, dan menariknya sekuat tenaga.

“Jangan lepaskan!” teriakku. Suaraku nyaris tenggelam. “Apa pun yang terjadi, jangan lepaskan tanganku!”

Namun, badai itu jauh lebih cepat daripada kami.

Dunia berubah cokelat, lalu hitam. Angin menghantam punggungku seperti kepalan raksasa, mengangkat tubuhku dari tanah. Aku merasakan genggaman Achila di tanganku, erat, lalu semakin longgar, lalu ….

Lalu tak ada apa-apa lagi.

 

Aku berada di dalam sebuah ruangan.

Ruangan itu berlangit-langit tinggi, temaram, dan dingin. Deretan bangku kayu berjajar menghadap sebuah meja panjang di atas panggung kecil. Di belakang meja itu duduk seorang pria berjubah hitam, dan di dinding di atas kepalanya tergantung lambang yang sudah sangat kukenal. Menara bersayap.

Aku tak tahu bagaimana aku bisa sampai di sini. Tubuhku tak terasa. Aku tak bisa bergerak, tak bisa berbicara, persis seperti mimpi di laboratorium bertahun-tahun yang lalu. Bedanya, kali ini tak ada yang menyadari keberadaanku. Aku hanya bisa melihat.

Di hadapan meja itu, dua sosok berdiri dengan tangan terbelenggu. Seorang laki-laki dan seorang perempuan. Seragam mereka seragam Akila, sama dengan yang pernah kukenakan. Laki-laki itu jangkung, bahunya lebar, dan punggungnya tegak meski rantai di pergelangan tangannya tampak berat. Perempuan di sampingnya lebih kecil, rambutnya hitam dan diikat ke belakang. Perutnya membuncit.

Aku tak bisa melihat wajah mereka karena mereka membelakangiku.

“Keputusan telah dijatuhkan.” Suara pria berjubah hitam itu menggema di seluruh ruangan. “Kesalahan pertama kalian adalah mencoba melarikan diri dari Sangkar. Kesalahan kedua, yang tak dapat dimaafkan, adalah membangkang kepada para petinggi Plataia. Akila dengan kode 665 akan dikirim ke medan perang untuk terakhir kalinya, dan tidak akan kembali. Akila betina dengan kode 756 akan dihukum mati setelah anak yang dikandungnya berusia lima tahun.”

Lihat selengkapnya