Last Affection: Burung dalam Sangkar (Buku 1)

Marion Drossi
Chapter #15

Bukit Montius

Bukit Montius muncul di cakrawala seperti dusta.

Selama dua hari terakhir, setiap kali melihat bayangan hijau di kejauhan, aku mengira mataku sedang menipuku. Xino sudah terlalu sering melakukannya, menampakkan danau yang lenyap begitu didekati, menampakkan pepohonan yang ternyata hanya batu hitam yang bergetar di balik udara panas. Namun, kali ini bayangan hijau itu tidak lenyap. Semakin dekat kami melangkah, semakin nyata ia jadinya, hingga pada sore hari keempat setelah meninggalkan kota bawah tanah, kakiku menginjak sesuatu yang bukan pasir.

Rumput.

Aku berlutut dan menyentuhnya. Basah oleh embun yang belum kering, dingin, dan begitu lembut hingga aku hampir tak percaya ia tumbuh dari tanah yang sama dengan gurun di belakang kami. Di atasku, pepohonan menjulang dengan daun-daun lebar yang bergemerisik ditiup angin. Ada sulur-sulur yang merambat di batu, bunga-bunga kecil berwarna ungu dan kuning, dan buah-buahan merah yang bergelantungan rendah, cukup rendah untuk dipetik tanpa memanjat. Di suatu tempat yang tak terlihat, air mengalir.

Hutan di Sangkar juga hijau. Namun, hijau di sana adalah hijau yang ditanam, diukur, dan dipagari listrik. Hijau di sini tumbuh karena ia ingin tumbuh.

“Kita berhasil,” bisik Achila. Ia menjatuhkan diri ke rerumputan dan merentangkan kedua tangannya, menatap langit di sela dedaunan dengan mata berkaca-kaca. “Darien, kita benar-benar berhasil.”

Alexio tak mengatakan apa-apa. Ia hanya berjalan lurus ke arah suara air, berlutut di tepi sebuah mata air kecil yang jernih, lalu membenamkan seluruh kepalanya ke dalamnya. Ketika ia mengangkat wajahnya lagi, air menetes dari rambut dan kumisnya, dan untuk pertama kalinya sejak Dystychía, ia tertawa. Tawa pendek, serak, tetapi tawa sungguhan.

Kami mengisi kantung-kantung air hingga penuh, memetik buah-buahan merah yang ternyata manis dan sedikit asam, lalu duduk di bawah pohon terbesar yang bisa kami temukan. Untuk beberapa saat, tak seorang pun dari kami berbicara. Kami hanya duduk, makan, dan mendengarkan bunyi daun-daun. Setelah Xino, keheningan semacam ini terasa seperti hadiah.

Dari tepi bukit, aku bisa melihat gurun yang baru saja kami lalui. Hamparan kuning keemasan itu membentang hingga ke cakrawala, tak berujung, tak bercela, dan terlihat begitu tenang dari ketinggian ini, seolah ia tak pernah mencoba mengubur kami hidup-hidup. Di arah sebaliknya, di balik punggung bukit, tanah kembali gersang, cokelat dan retak-retak, membentang ke selatan menuju Bukit Naulus.

Montius hanyalah sebuah pulau. Sepetak hijau di tengah dunia yang sekarat.

“Kau melamun lagi,” kata Achila. Ia sudah duduk di sampingku entah sejak kapan.

“Aku sedang berpikir,” jawabku. “Dulu, barangkali seluruh dunia seperti bukit ini. Lalu Plataia menyalakan gelombangnya, dan yang tersisa hanya ini.” Aku menunjuk ke arah gurun. “Aku ingin semuanya hijau lagi, Achila. Bukan hanya di sini.”

Ia memandangi gurun itu bersamaku untuk beberapa saat. “Tidak akan semudah itu,” katanya akhirnya. “Kau sudah melihat sendiri, Darien. Dystychía. Pantai di Byzantium. Kota di bawah pasir. Dunia ini tidak rusak di satu tempat saja. Ia rusak di mana-mana, dan dengan cara yang berbeda-beda.” Ia menyentuh rumput di antara kami dengan ujung jarinya. “Tapi rumput ini tetap tumbuh. Kurasa itu sudah cukup sebagai alasan untuk mencoba.”

 

Alexio duduk agak jauh dari kami, membongkar senjatanya di atas sehelai kain.

Senapan replika berlaras ganda itu memang berhasil ia temukan setengah terkubur setelah badai, tetapi sejak itu ia jarang menyentuhnya. Kini aku mengerti alasannya. Pasir halus Xino telah menyusup ke setiap celah. Butirannya menempel di mekanisme tuas, mengendap di sambungan laras, dan menyumbat lubang kecil tempat sel energinya terpasang. Setiap kali Alexio mencoba menyalakannya, senjata itu hanya berdengung lemah, lalu padam.

“Butuh berhari-hari untuk membersihkannya,” gumamnya tanpa menoleh saat aku mendekat. “Dan sel energinya hampir kosong. Kalau kita bertemu sesuatu di jalan, benda ini tak lebih berguna daripada sepotong besi.”

Aku mencabut dua bilah pisau pemberiannya dari pinggangku dan menyodorkan salah satunya. “Kalau begitu, pakai ini dulu.”

Alexio menatap pisau itu, lalu menatapku. “Itu pisau ayahku. Aku memberikannya kepadamu karena aku tidak pandai menggunakannya.”

“Kalau begitu, belajarlah.”

Ia mendengus, tetapi tangannya tetap terulur. “Baik, Guru.” Ia bangkit dan mencabut pisau sepanjang lima belas sentimeter itu dari sarungnya. “Sebelum matahari terbenam dan aku berubah pikiran.”

Kami berhadapan di atas rerumputan. Achila menarik kedua lututnya ke dada dan menonton dari bawah pohon, dagunya bertumpu di atas lutut, seperti penonton yang tak sabar menunggu pertunjukan dimulai.

Hal pertama yang kuperhatikan adalah kakinya. Alexio berdiri seperti penembak, tegak, kedua kaki rapat, seluruh berat tubuhnya bertumpu di tumit. Posisi yang sempurna untuk membidik dari kejauhan, dan posisi yang buruk untuk segala hal lainnya.

“Kuda-kudamu terlalu tinggi.” Aku mendorong lutut kanannya dengan ujung kakiku hingga ia menekuk, lalu melebarkan jarak di antara kedua kakinya. “Turunkan berat tubuhmu. Pisau di tangan kanan, tangan kiri di depan dada. Tangan kirimu bukan hiasan. Ia perisaimu.”

Aku memasang kuda-kuda di hadapannya, memegang pisau rendah di depan perut dengan ujung bilah sedikit miring ke kiri. Para pelatih di Sangkar mengajarkan ini kepada kami sejak umur tujuh tahun. Sepuluh ribu kali ulangan, sampai tubuh kami bergerak sebelum pikiran kami sempat memerintah. Aneh rasanya mengajarkannya kepada orang lain, di tempat yang begitu jauh dari lapangan tanah merah itu, dan bukan untuk membunuh.

“Siap?”

“Tidak,” jawab Alexio. “Tapi silakan.”

Aku melesat. Ujung pisauku mengarah ke lehernya, cukup lambat untuk bisa ditangkis, dan ia menangkisnya. Logam berdenting nyaring. Aku menyerang lagi, dari kiri, dari bawah, dari kanan, setiap kali sedikit lebih cepat. Alexio menangkis yang pertama, yang kedua, yang ketiga. Matanya terpaku pada bilah pisauku, mengikutinya ke mana pun ia bergerak, dan wajahnya mulai menampakkan sesuatu yang menyerupai kepercayaan diri.

Saat itulah aku menyapu kaki kanannya.

Ia jatuh telentang di atas rumput, napasnya tersentak keluar. Sebelum ia sempat bangkit, ujung pisauku sudah berhenti sejengkal dari matanya.

Untuk sesaat, kami berdua membeku. Di balik pisau itu, aku melihat mata Alexio membelalak. Bukan karena kalah, melainkan karena sesuatu yang lain, sesuatu yang dingin. Aku tahu apa yang ia lihat. Ia melihat Akila. Ia melihat apa yang dilihat prajurit-prajurit di tepi sungai, di dataran gersang, di atas tembok Eretria, tepat sebelum mereka mati.

Aku menarik pisauku dan mundur selangkah. Tanganku sedikit gemetar.

“Matamu terlalu sibuk mengikuti pisauku,” kataku, berusaha membuat suaraku terdengar biasa. “Lawan tidak hanya punya pisau. Ia punya kaki, bahu, kepala. Perhatikan seluruh tubuhnya, bukan hanya senjatanya.”

Alexio masih terbaring di sana, menatap langit. Lalu ia tertawa kecil. “Kau tahu? Selama ini aku selalu lupa,” katanya, meraih tanganku yang terulur dan membiarkanku menariknya berdiri. “Kau terlalu sering bicara soal perasaan dan mimpi sampai aku lupa bahwa kau dibesarkan untuk ini.”

“Aku tidak lupa,” sahutku. “Tidak pernah.”

Ia menatapku lebih lama, lalu menepuk bahuku. “Sekali lagi,” katanya, kembali memasang kuda-kuda, kali ini lebih rendah. “Dan kali ini, jangan berhenti sejengkal dari mataku. Berhentilah dua jengkal. Jantungku sudah tidak muda lagi.”

Di bawah pohon, Achila tertawa.

 

Malam di Montius tak seperti malam di Xino. Udaranya sejuk, bukan dingin yang menggigit, dan langit di atas kami begitu jernih hingga bintang-bintang tampak bisa diraih dengan tangan. Kami menyalakan api kecil dari ranting-ranting yang berlimpah, dan untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, perut kami kenyang.

Alexio tertidur lebih dulu, bersandar di batang pohon dengan senjata yang setengah dibongkar di pangkuannya. Dengkurnya terdengar pelan di antara bunyi serangga malam.

Achila tidak tidur. Ia duduk di tepi bukit, memeluk lutut, menatap gurun yang kini berwarna perak di bawah cahaya bulan.

Aku duduk di sampingnya. Untuk beberapa saat, kami hanya diam.

“Mimpimu,” kataku akhirnya. “Di Xino. Kau bilang kau sudah lupa.”

Lihat selengkapnya