Last Affection: Burung dalam Sangkar (Buku 1)

Marion Drossi
Chapter #16

Terkepung di Bukit Naulus

Rocket float melesat membelah langit senja dengan kecepatan yang tak pernah kubayangkan.

Di bawah kami, Gurun Xino berganti rupa dengan cepat. Bukit-bukit pasir yang tadinya bergelombang perlahan menipis, digantikan dataran batu retak yang warnanya merah kecokelatan seperti luka yang mengering. Perjalanan yang semestinya memakan sepuluh hari dengan berjalan kaki, kami tempuh dalam beberapa jam saja. Angin menampar wajahku begitu keras hingga mataku berair, dan setiap kali aku menoleh, aku melihat Achila di sebelah kiriku, rambutnya berkibar liar, kedua tangannya mencengkeram kemudi seolah benda itu satu-satunya hal yang memisahkannya dari kematian. Di sebelah kananku, Alexio terbang dengan satu tangan, tangan lainnya menahan topi lebar barunya, topi jerami pemberian Thomas, agar tak diterbangkan angin.

Ketika matahari tenggelam, sebuah bukit menjulang di hadapan kami. Gelap, tandus, dan sunyi.

Bukit Naulus.

Kami mendarat di lerengnya saat bulan mulai naik. Kakiku gemetar begitu menyentuh tanah karena tubuhku belum terbiasa berhenti setelah melaju secepat itu. Sabuk rocket float yang melilit dadaku terkunci terlalu rapat, dan jari-jariku yang kaku oleh angin tak sanggup membukanya.

“Alexio,” panggilku. “Bantu aku dengan benda ini.”

Ia mendengus, tetapi tetap mendekat. Dengan satu sentakan, gesper itu terlepas. “Seekor Akila yang sanggup membelah baja, tapi kalah oleh sabuk,” gumamnya. “Kalau Acacio melihat ini, ia akan tertawa sampai mati.”

Achila sudah lebih dulu merebahkan diri di atas tanah, kedua tangannya terentang, napasnya masih tersengal. Bukit Naulus sama sekali tak serupa dengan Bukit Montius. Tak ada rumput, tak ada mata air, tak ada buah merah yang menggantung di dahan. Hanya batu hitam dan tanah keras yang retak-retak, seolah sesuatu pernah membakar tempat ini hingga ke akarnya dan tak ada yang berani tumbuh lagi sesudahnya. Kata Umba, di balik bukit ini terletak Kota Forlibia. Satu malam lagi, dan kami akan sampai.

Lalu terdengar bunyi panjang yang memecah keheningan. Bunyi yang begitu nyaring hingga Achila terduduk dengan mata terbelalak.

“Darien?” Ia menatapku curiga. “Itu perutmu?”

“Bukan.” Aku menoleh ke arah Alexio, yang dengan tenang menyalakan rokoknya seolah tak mendengar apa-apa.

“Alexio!”

“Baiklah, baiklah.” Ia mengangkat kedua tangan. “Aku lapar sejak kita meninggalkan Montius. Tapi aku akan makan setelah rokok ini habis.”

“Tidak ada tawar-menawar.” Achila bangkit, menepuk-nepuk debu dari pakaiannya, lalu berkacak pinggang di depan Alexio. “Kau ingat pesan Umba, kan? Makan teratur, minum teratur, atau gurun akan memakanmu lebih dulu. Kau pikir rokok bisa menggantikan roti?”

Alexio menatapku, meminta pertolongan. Aku hanya mengangkat bahu. Di antara kami bertiga, aku sudah lama belajar bahwa ada satu orang yang tak bisa dibantah, dan orang itu bukan Akila.

Achila berbalik menuju ransel-ransel yang kami tumpuk di dekat rocket float. Aku mengikutinya, dan untuk sesaat, di bawah bulan yang pucat dan di atas bukit yang mati, rasanya seperti kami hanya tiga orang biasa yang sedang bersiap makan malam.

Lalu udara mulai bergetar.

Awalnya hanya dengung samar, nyaris tak terdengar, seperti serangga yang terbang terlalu dekat dengan telinga. Namun, dengung itu semakin dalam, semakin berat, hingga aku bisa merasakannya di dadaku. Aku pernah mendengar suara seperti ini. Di lapangan tanah merah, pada pagi pelantikanku. Di atas dataran gersang, pada perang pertamaku.

Aku menengadah.

Tiga titik hitam muncul dari balik punggung bukit, membesar dengan cepat, lampu-lampu merahnya berkedip di antara bintang-bintang. Helikopter. Bukan helikopter tambal sulam seperti milik Thomas, melainkan helikopter Plataia, utuh, mulus, dan berlambang menara bersayap di lambungnya.

Elasmus benar. Hanya saja, mereka datang lebih cepat daripada yang ia perkirakan.

“Lari!” teriak Alexio.

Aku meraih tangan Achila dan berlari ke arah timur, menuruni lereng yang licin oleh kerikil. Di belakang kami, angin dari baling-baling mulai mengamuk, menerbangkan debu dan pasir hingga aku nyaris tak bisa melihat apa pun.

“Darien! Ransel kita!” Achila menarik tanganku, mencoba berbalik. “Makanan kita, airnya ….”

“Biarkan saja!”

“Tapi ….”

“Kalau mereka menangkap kita, kita tidak akan butuh makanan lagi!”

Aku tak bermaksud membentaknya. Namun, tak ada waktu untuk meminta maaf. Cahaya sorot menyapu lereng di samping kami, lalu kembali, lalu berhenti tepat di atas kepala kami. Dua helikopter melesat melewati kami dan berputar di depan, satu lagi menutup dari belakang. Dalam hitungan detik, kami terkepung di dalam lingkaran cahaya putih yang menyilaukan, dan angin dari ketiga baling-baling itu menekan kami hingga sulit berdiri.

Tali-tali dijatuhkan dari pintu lambung. Satu per satu, prajurit berseragam hitam-putih meluncur turun dan mendarat di atas batu, senapan mereka langsung teracung. Sepuluh. Dua puluh. Aku berhenti menghitung di angka tiga puluh.

Kami tak bisa lari lagi.

Aku menempatkan diriku di depan Achila dan Alexio. Tubuhku bergerak sendiri, seperti yang dilakukannya di gerbang timur Eleusina, seperti yang dilakukannya setiap kali seseorang mengarahkan senjata kepada mereka. Di antara kami bertiga, akulah yang paling sulit dibunuh. Hanya itu yang bisa kuberikan.

“Darien,” bisik Alexio di belakangku. Tangannya bergerak ke pinggang, mencari senjata yang tak lagi berfungsi sejak badai pasir. Lalu ia teringat, dan tangannya terkulai. “Bagaimana sekarang?”

“Aku tidak tahu.”

Itu jawaban yang jujur. Dan aku membencinya.

Barisan prajurit itu terbelah. Seorang pria melangkah maju dari tengahnya. Tubuhnya tegap, berjanggut pendek kasar, dan di bahu kirinya ada tiga garis perak yang menandakan pangkatnya. Ia berjalan santai, seperti seseorang yang sedang menghampiri seekor hewan yang sudah terjerat, lalu berhenti hanya sejengkal dariku. Napasnya berbau tembakau dan anggur.

“Jadi kau orangnya.” Ia menatap telapak tangan kananku. Matanya berkilat. “666. Anjing yang menggigit tangan majikannya.”

“Apa mau kalian?”

“Mauku?” Ia tertawa kecil. “Mauku sederhana. Membawa pulang kepalamu. Hidup atau mati, kata Tuan Robertinus. Tapi kalau boleh jujur, aku lebih suka yang kedua.”

“Biarkan mereka pergi,” kataku. “Kalian hanya menginginkanku. Kalau kalian menyentuh mereka, aku akan ….”

“Akan apa?” Ia mencondongkan wajahnya lebih dekat. “Hm? Kau akan apa, ras terkutuk?”

Tinjunya datang tanpa peringatan.

Pukulan itu menghantam pipiku dengan keras. Kepalaku terlempar ke samping, dan rasa asin darah memenuhi mulutku. Aku bisa saja menghindarinya. Tubuhku tahu caranya. Namun, ada tiga puluh senapan yang teracung, dan tak satu pun dari senapan itu mengarah kepadaku. Semuanya mengarah ke belakangku.

“Hei!” Alexio menerjang maju dan mencengkeram kerah seragam pria berjanggut itu. Sebutir peluru menghantam batu di samping kakinya. Lalu dua prajurit menyergapnya dari kedua sisi, memuntir lengannya ke belakang, dan sebuah popor senapan menghantam perutnya. Ia terbatuk, tubuhnya melengkung, dan ia jatuh berlutut.

Dua prajurit lain menyeret Achila menjauh dariku. Ia meronta, tetapi tangannya sudah dipelintir ke belakang, dan bunyi logam yang mengatup terdengar begitu jelas di telingaku. Borgol. Lalu satu lagi, di pergelangan tangan Alexio.

Dan suara itu kembali.

Lihat selengkapnya