Last Affection: Burung dalam Sangkar (Buku 1)

Marion Drossi
Chapter #17

Guillotine

Malam itu tak seorang pun dari kami tidur.

Kami duduk melingkar di balik batu-batu hitam Bukit Naulus, tanpa api, sebab nyala sekecil apa pun bisa terlihat dari langit. Bangkai helikopter yang terbakar di lereng bawah sudah lama padam, menyisakan asap tipis yang naik lurus ke arah bulan. Di sekeliling kami, tubuh-tubuh berseragam hitam-putih masih tergeletak di tempat mereka jatuh. Aku tidak sanggup menatap ke sana. Aku tahu berapa jumlahnya. Robertinus sudah menyebutkannya untukku.

“Jadi,” Alexio akhirnya memecah keheningan. Ia memutar-mutar rokok yang belum dinyalakan di antara jari-jarinya. “Apa yang akan kita lakukan, Darien?”

Aku tidak menjawab.

“Plataia ada di barat laut. Forlibia ada di timur, satu malam perjalanan dari sini.” Ia mengetukkan rokok itu ke lututnya. “Kalau kita ke timur, kita mungkin masih punya kesempatan menemukan orang tuamu. Kalau kita ke barat laut, kita masuk ke mulut serigala.”

“Aku tahu.”

“Lalu?”

“Aku tahu, Alexio!” Suaraku memantul di bebatuan, lebih keras daripada yang kumaksud. Achila tersentak di sampingku. Aku menunduk, menekan kedua telapak tanganku ke wajah. “Maaf.”

Alexio tidak membalas bentakanku. Ia hanya menatapku lama, lalu menghela napas. “Dengar. Aku tidak sedang mengujimu. Aku hanya ingin tahu apa yang ada di kepalamu sebelum kau melakukan sesuatu yang bodoh.”

“Yang ada di kepalaku,” kataku pelan, “adalah tiga puluh tiga orang yang mati di bukit ini karena mencariku. Seorang ayah dan anaknya di padang Byzantium. Seorang perempuan muda di Dystychía yang kuberi dua butir kentang. 341.” Aku menatap kedua telapak tanganku dalam gelap. “Setiap orang yang mendekatiku berakhir dengan cara yang sama. Dan sekarang Dokter Elasmus.”

“Jadi kau mau menyerahkan diri,” kata Alexio datar. Itu bukan pertanyaan.

“Kalau aku menyerah, mungkin mereka akan melepaskannya.”

“Mereka tidak akan melepaskannya.” Alexio akhirnya menyalakan rokoknya. Nyala kecil itu menerangi wajahnya sekejap, lalu ia buru-buru menutupinya dengan telapak tangan. “Kau tahu itu. Robertinus tidak menginginkan pertukaran. Ia menginginkan pertunjukan. Seekor Akila yang lepas dari Sangkar, dipenggal di depan seluruh kota, bersama pengkhianat yang membantunya. Setelah itu, setiap orang di Plataia akan tidur lebih nyenyak, dan setiap kota yang sedang berpikir untuk berhenti membayar upeti akan berpikir dua kali.”

“Lalu apa yang harus kulakukan? Lari ke timur, dan membiarkannya mati?”

Alexio tidak menjawab. Rokoknya menyala merah di dalam genggamannya.

“Kalian berdua tidak sedang bertengkar soal pergi atau tidak.”

Kami menoleh. Achila duduk memeluk lututnya, mantel tebal pemberian Thomas membungkus tubuhnya yang kecil. Matanya berkilat di bawah cahaya bulan.

“Kalian sudah tahu kita akan pergi,” lanjutnya. “Darien tidak akan bisa hidup kalau membiarkan Dokter Elasmus mati. Dan kau, Alexio,” ia menoleh pada Alexio, “kau tidak akan membiarkan Darien pergi sendirian, sebanyak apa pun kau menggerutu. Yang kalian perdebatkan hanya satu hal: siapa yang akan menanggung kesalahannya kalau semua ini berakhir buruk.”

Alexio membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

“Kalau begitu, biar kujawab,” kata Achila. “Tidak ada. Kita pergi bersama, dan apa pun yang terjadi, kita tanggung bersama.”

Untuk sesaat, yang terdengar hanya angin yang menyusup di antara bebatuan.

Lalu Alexio tertawa pendek, tawa yang lebih mirip dengusan. “Kau tahu apa yang paling menyebalkan dari gadis ini, Darien?” Ia mematikan rokoknya di batu. “Ia selalu benar.”

Aku menatap Achila. Ia membalas tatapanku tanpa berkedip.

“Kita tidak akan menyerah,” kataku akhirnya. “Robertinus ingin aku datang ke gerbang kota sebelum fajar hari ketiga. Itu artinya ia akan menungguku di gerbang. Kita tidak akan datang lewat gerbang.”

 

Rocket float membawa kami melintasi langit malam, menjauhi Xino, menuju barat laut.

Perjalanan yang dulu memakan berminggu-minggu dengan berjalan kaki kini terlewati dalam semalam dan sehari. Di bawah kami, gurun berganti padang, padang berganti bukit, dan bukit berganti hutan. Aku melihat titik-titik cahaya kecil di kejauhan. Barangkali Eretium. Barangkali pos-pos penjagaan Plataia. Aku tidak tahu, dan aku tidak berani terbang cukup rendah untuk memastikannya.

Sepanjang perjalanan, aku memikirkan kata-kata terakhir Dokter Elasmus di Bukit Montius. Seseorang harus tetap berada di Menara. Ia tahu. Ia tahu ini akan terjadi, dan ia tetap kembali.

Mengapa?

Menjelang senja hari kedua, hutan di bawah kami mulai terasa akrab. Pepohonannya terlalu rapi, terlalu sejajar, seperti ditanam oleh tangan yang sama. Di kejauhan, di balik kabut tipis, aku melihat menara-menara Plataia menjulang ke langit yang memerah, lebih tinggi daripada bangunan mana pun yang pernah kulihat, berkilat seperti tombak-tombak perak yang ditancapkan ke bumi. Dan jauh di sebelah utara, di balik barisan bukit, ada kilau pagar listrik yang sangat kukenal.

Sangkar.

Aku pernah hidup dua puluh tahun hanya beberapa jam berjalan kaki dari menara-menara itu, dan tak sekali pun aku melihatnya dari dekat.

Kami mendarat di tengah hutan, beberapa kilometer dari tembok kota. Achila menyembunyikan ketiga rocket float di bawah semak-semak dan menutupinya dengan dedaunan. Ransel dan bekal kami ikut ditinggal di sana. Tak ada yang kami bawa kecuali pakaian di badan, dua bilah pisau pemberian Alexio, dan senapan yang Alexio rampas di Bukit Naulus.

“Kalau kita tidak kembali,” kata Achila sambil menepuk dedaunan terakhir, “setidaknya tak ada yang akan menemukan barang-barang ini.”

“Kita akan kembali,” kataku.

Ia menatapku sejenak, lalu tersenyum kecil. “Aku tahu.”

 

Hutan itu dijaga.

Robertinus tidak sebodoh yang kuharapkan. Ia memang menungguku di gerbang, tetapi ia juga menebar pasukannya di sepanjang hutan yang mengelilingi kota. Kami melihat mereka sebelum mereka melihat kami: regu-regu kecil berseragam hitam-putih, empat sampai lima orang, bergerak di antara pepohonan dengan senter yang dibalut kain agar cahayanya tak terlalu terang.

Aku sudah memutuskan sesuatu sejak di Bukit Naulus. Tidak ada lagi yang akan mati malam ini karena tanganku. Tidak satu pun.

Alexio menatapku saat aku mengatakannya, seolah aku baru saja meminta ia terbang tanpa rocket float. Namun, ia tidak membantah. Ia hanya membalik senapannya dan menggenggam larasnya, menjadikan popor kayunya sebagai pentungan.

“Kalau aku mati karena prinsipmu,” bisiknya, “aku akan menghantuimu seumur hidup.”

Kami bergerak seperti bayangan. Pelajaran dari sepuluh tahun di Sangkar yang tak pernah ingin kuingat kini kembali dengan sendirinya: cara melangkah tanpa mematahkan ranting, cara bernapas tanpa suara, cara mendekati seseorang dari titik buta matanya. Penjaga pertama kulumpuhkan dengan satu tekanan di sisi lehernya. Penjaga kedua dengan siku di pelipis. Alexio menghantam tengkuk penjaga ketiga dengan popor senapannya, lalu menangkap tubuhnya sebelum jatuh berdebam ke tanah. Achila mengikuti di belakang kami, menahan napas setiap kali ada yang roboh.

Satu regu. Dua regu. Tiga.

Setiap kali seorang penjaga terkulai di tanganku, aku memeriksa napasnya. Setiap kali, napas itu masih ada. Dan setiap kali, sesuatu di dadaku menjadi sedikit lebih ringan.

Di ujung hutan, pepohonan mulai menipis. Di baliknya terbentang lapangan rumput yang dipangkas rapi, dan di seberang lapangan itu berdiri sebuah bangunan kelabu yang sangat besar, dengan lambang menara bersayap terpahat di atas pintunya. Departemen Pertahanan Plataia. Menurut peta yang pernah dibuat Dokter Elasmus untuk Acacio, yang Alexio hafalkan sebelum kami meninggalkan Eleusina, penjara bawah tanah kota itu ada di bawah gedung ini.

Kami tinggal satu pohon lagi dari lapangan itu.

Lalu Achila menjerit.

Jeritan itu terputus sebelum sempat selesai. Aku berbalik, dan dunia di sekitarku menyempit menjadi satu titik. Seorang prajurit bertubuh besar telah muncul dari balik batang pohon yang baru saja kami lewati. Satu tangannya membekap mulut Achila, tangan yang lain menempelkan moncong pistol ke pelipisnya.

“Jangan bergerak.”

Aku membeku.

Pistol itu. Pelipis itu. Bukit Naulus. Pisau di leher Achila di gerbang timur Eleusina. Pola yang sama, lagi dan lagi, seakan dunia ini hanya tahu satu cara untuk menghentikanku.

Tanganku bergerak perlahan ke belakang, memberi isyarat pada Alexio. Satu ayunan popor senapan. Itu saja yang dibutuhkan.

Tak ada yang terjadi.

Aku menoleh perlahan. Alexio berlutut di atas rumput, kedua tangannya terangkat di samping kepala. Dua prajurit berdiri di belakangnya, laras senapan mereka menempel di tengkuknya. Senapan rampasannya tergeletak di tanah, sudah ditendang jauh.

Mereka sudah menunggu di sini sejak awal.

Lalu lampu-lampu menyala.

Lihat selengkapnya