Asap itu berbau belerang dan kayu terbakar.
Kami berlari menembusnya tanpa bisa melihat lebih dari dua langkah ke depan. Tubuh Dokter Elasmus terkulai di punggungku, ringan sekali, napasnya pendek-pendek di telingaku. Di depanku, Achila menggenggam ujung jubahku agar tak terpisah. Di belakang, Alexio sesekali menoleh, mengayunkan popor senapan yang entah ia rampas dari siapa, lalu berlari lagi.
Penjaga muda itu memimpin jalan. Ia tak berbicara sepatah kata pun. Ia hanya berbelok di setiap sudut seakan sudah menghafal setiap batu jalan di kota ini, membawa kami menjauh dari lapangan, menuruni tangga-tangga sempit, melewati lorong-lorong di belakang gedung perak yang dindingnya bergetar setiap kali ledakan berikutnya terdengar.
Sirene meraung dari setiap menara. Kota Plataia, yang pagi tadi bersorak meminta darah, kini berlarian ke segala arah. Aku melihat wajah-wajah bersih yang pucat ketakutan, pakaian-pakaian mahal yang kotor oleh debu, seorang pria gemuk yang terjatuh dan merangkak di atas batu jalan sambil memeluk kotak perhiasannya. Untuk pertama kalinya, barangkali, mereka merasakan sedikit saja dari apa yang dirasakan kota-kota lain setiap hari.
Aku tidak merasa puas melihatnya. Aku hanya merasa lelah.
Di ujung sebuah lorong, sekelompok orang berzirah logam kelabu menunggu kami. Zirah itu ramping dan berkilat, berbeda dengan seragam loreng hitam-putih milik Plataia, dan di dada kiri setiap orang terukir lambang kecil seekor burung yang sedang mengepakkan sayap. Burung yang sama dengan yang terukir di altar kuil Eleusina.
Seorang pria bertubuh tegap, pemimpin regu itu, melangkah maju. “Kalian terlambat,” katanya pada penjaga muda itu.
“Robertinus memindahkan jadwalnya,” jawab si penjaga muda singkat. Itulah kalimat terpanjang yang kudengar darinya.
Penjaga muda itu melepas helm Plataia-nya. Di baliknya, rambut cokelat pendek basah oleh keringat, dan ada bekas luka kecil di dagunya. Ia menoleh kepadaku, lalu kepada tubuh yang terkulai di punggungku. Rahangnya mengeras. “Dokter.”
“Antonius,” Dokter Elasmus tersenyum lemah dari balik bahuku. “Jadi, selama ini kau yang ada di dalam.”
“Dua tahun, Dokter. Pak Acacio tak akan memaafkanku kalau semua itu sia-sia.” Antonius, tangan kanan Acacio, ternyata sudah lama menyamar di jantung Plataia. Ia memberi isyarat kepada dua orang anak buahnya. Dengan hati-hati, mereka mengambil Dokter Elasmus dari punggungku dan membaringkannya di atas tandu kain. “Hutan barat. Sekarang. Pak Acacio menahan jalan di belakang.”
Kami tiba di tepi hutan saat matahari sudah tinggi. Asap dari kota masih membubung di belakang kami, hitam dan bergulung-gulung di langit yang biru, seperti luka yang belum berhenti berdarah.
Di sebuah tanah lapang di antara pepohonan, tiga mesin raksasa menunggu dengan baling-baling yang masih berputar pelan. Aku mengenali salah satunya. Badannya tambal sulam, catnya belang-belang, dan di sisinya tulisan pudar itu masih terbaca: Black Hawk II.
“Thomas,” gumamku tak percaya.
“Ia bilang ia berutang kepadamu karena sudah menghentikannya membuat kebodohan,” kata Antonius sambil membantu menaikkan tandu Dokter Elasmus. “Dua lagi milik kota bawah tanah itu juga. Kami menerbangkannya rendah sepanjang malam, di bawah selubung hider. Tiga hari, katanya. Tidak lebih.” Ia melirik langit. “Dan hari ini adalah hari ketiga.”
Satu per satu, para prajurit berzirah keluar dari pepohonan dan naik ke dalam helikopter-helikopter itu. Jumlah mereka jauh lebih sedikit daripada yang kubayangkan. Barangkali hanya dua ratus orang. Dua ratus orang yang menyerbu kota paling kuat di dunia, demi seorang dokter tua dan tiga orang pengembara.
Lalu Acacio muncul dari balik pepohonan.
Zirahnya keemasan, kotor oleh jelaga, dan di punggungnya tersandang sebuah busur panjang. Senyum di wajahnya masih sama dengan yang kulihat di pasar Eleusina, senyum yang menyembunyikan terlalu banyak. Namun, ketika matanya menemukan tandu Dokter Elasmus, senyum itu runtuh sejenak, dan yang tersisa hanyalah seorang pria yang nyaris kehilangan sahabatnya.
Ia berlutut di samping tandu itu. “Kau benar-benar keras kepala, Pak Tua.”
“Kau juga,” jawab Dokter Elasmus. “Kubilang jangan datang.”
“Kau bilang jangan datang dengan seluruh pasukan.” Acacio menepuk tangan sahabatnya. “Aku hanya membawa dua ratus.”
Lalu ia bangkit dan berbalik kepadaku. Sebelum aku sempat mengatakan apa pun, ia menarikku ke dalam pelukan singkat yang kuat, lalu melepaskanku dan menatapku dari ujung kaki sampai ujung kepala, seakan memeriksa apakah semua bagian tubuhku masih utuh.
“Anak bodoh,” katanya. “Kau datang ke Plataia hanya bertiga.”
“Kami tidak punya pilihan.”
“Selalu ada pilihan. Kalian memilih yang paling bodoh.” Ia tersenyum lagi, kali ini sungguh-sungguh. “Tapi aku juga, jadi aku tak berhak menghakimi.”
“Tidak ada yang terbunuh, kan?” tanyaku. Pertanyaan itu sudah menggantung di tenggorokanku sejak ledakan pertama. “Di kota itu. Tidak ada …?”
Acacio terdiam sejenak. “Panah pertamaku hanya mengenai tangan algojo itu. Peledak di sudut lapangan hanyalah asap dan suara. Kami datang untuk mengambil kalian, bukan untuk berperang.” Ia memalingkan wajah ke arah asap di kejauhan. “Tapi aku tak bisa menjanjikan apa-apa tentang lorong-lorong di belakang kita. Prajurit Plataia tidak semuanya mau diajak bicara.”
Itu bukan jawaban yang ingin kudengar. Namun, itu jawaban yang jujur, dan aku sudah belajar bahwa kejujuran di dunia ini jarang sekali terasa manis.
Kami masih punya waktu sebentar sebelum para pilot selesai memeriksa mesin. Di bawah sebatang pohon besar di tepi tanah lapang, Acacio duduk di atas akar yang menyembul, dan aku duduk di hadapannya. Achila dan Alexio berdiri tak jauh dari kami. Dokter Elasmus sudah dinaikkan ke helikopter pertama, tetapi pintunya dibiarkan terbuka.