Last Affection: Burung dalam Sangkar (Buku 1)

Marion Drossi
Chapter #19

Serum Pembunuh

Sementara itu, jauh di selatan, di sebuah bukit yang tak tercatat di peta mana pun ….

Anak panah bambu itu melesat tanpa suara dan menembus perut seekor kijang di tepi semak. Hewan itu meronta, berlari beberapa langkah, lalu roboh di antara rerumputan kering.

Lelaki yang melepaskannya menurunkan busur perlahan. Rambutnya sebahu, sebagian sudah memutih di pelipis, dan matanya biru pucat seperti langit di musim kemarau. Ia berjalan menghampiri buruannya, berlutut, lalu menyentuh leher hewan itu sejenak sebelum memanggulnya ke bahu. Dari cara tubuhnya bergerak, tak ada yang akan mengira bahwa usianya sudah melewati empat puluh tahun.

Di puncak bukit, sebuah gubuk reyot tanpa pintu berdiri membelakangi angin. Lelaki itu membanting kijang itu ke tanah di depannya. “Hanya ini yang kudapat pagi ini.”

Seorang perempuan muncul dari dalam gubuk. Matanya biru seperti mata lelaki itu, dan rambut pirangnya yang lusuh tergerai hingga ke punggung. Ia menatap hewan yang tergeletak itu. Tulang-tulang rusuknya menonjol di balik kulit.

“Tubuhnya kurus sekali,” katanya pelan.

“Semakin hari semakin sedikit yang tersisa di hutan.” Lelaki itu mencuci tangannya di sebuah ember kecil. Air di dalamnya berubah merah muda. “Bersyukurlah, Aeka. Kita masih bisa makan.”

Aeka mengangguk. Namun, matanya tak lepas dari arah barat laut, dari cakrawala kelabu yang jauh di balik bukit-bukit, tempat menara-menara perak yang tak terlihat dari sini menjulang menembus awan.

Lelaki itu menghela napas. Ia tak perlu bertanya. Dua puluh tahun hidup bersama telah mengajarinya membaca setiap diam istrinya.

“Kabar dari pesisir itu, ya?”

“Seorang Akila muda menghentikan perang di Eretium,” bisik Aeka. “Seorang Akila muda menghancurkan guillotine di Plataia, lalu menyuruh orang-orang pulang. Julio, Akila mana yang melakukan hal seperti itu?”

Julio tidak menjawab. Ia menatap telapak tangan kanannya sendiri, telapak yang selama dua puluh tahun selalu ia balut dengan kain lusuh, bahkan saat tidur.

“Aku tahu,” katanya akhirnya. “Aku juga merasakannya. Hari ini aku akan berangkat. Aku akan mencari kawan-kawan yang lain.” Sudut bibirnya terangkat sedikit, senyum miring yang tak sepenuhnya berhasil menyembunyikan kecemasannya. “Dulu aku tidak bisa menyelamatkannya. Kali ini aku akan mencoba.”

Aeka menatapnya lama. Lalu ia mengangguk, sekali, seolah menyerahkan seluruh harapannya ke dalam tangan suaminya.

“Siapkan api yang besar,” kata Julio. “Aku akan memotong hewan ini. Perjalananku akan panjang.”

 

Hal pertama yang kurasakan adalah rasa sakit di belakang kepalaku. Hal kedua adalah rantai.

Kedua lenganku terentang ke samping, pergelangan tanganku dibelit rantai logam hitam yang ujung-ujungnya diikatkan ke dua batang pohon besar di kiri dan kananku. Rantai yang sama dengan yang membelenggu kami di Departemen Pertahanan. Aku bisa merasakannya menyedot tenagaku sedikit demi sedikit, seperti lintah yang menempel di kulit. Aku menariknya sekuat tenaga. Batang pohon itu bahkan tak bergoyang.

Ingatan terakhirku datang berkeping-keping. Tanah lapang di tepi hutan. Helikopter yang terangkat. Achila yang berteriak dari pintunya. Puluhan Akila muda berseragam hitam. Hantaman di belakang kepala. Dan sebelum semuanya menjadi gelap, sekilas wajah yang menjulang di atasku, dengan bekas luka melintang dari pelipis hingga dagu.

Sang Penakluk. Jadi, suara berat itu miliknya.

Aku mengangkat kepala dan memandang sekeliling. Untuk sesaat, kukira aku kembali ke Sangkar. Pohon-pohon menjulang di sekitarku, tanah di bawah kakiku lembap dan tertutup daun gugur, dan udara berbau lumut. Namun, ketika aku mendongak, aku tak melihat langit. Yang kulihat adalah langit-langit kaca raksasa, jauh di atas puncak pepohonan, dan barisan lampu putih yang meniru cahaya matahari. Di kejauhan, di antara batang-batang pohon, berdiri pilar-pilar beton yang menyangga atap itu.

Hutan di dalam bangunan. Sangkar di dalam sangkar.

“Hei!” teriakku. Suaraku memantul di antara pilar-pilar, lalu hilang. Tak ada jawaban. Tak ada kicau burung, tak ada dengung serangga. Hutan ini terlalu sunyi untuk menjadi hutan sungguhan.

Aku menunggu. Aku tak tahu berapa lama. Lampu-lampu di atasku tak pernah bergerak, jadi aku tak bisa menghitung waktu dari bayangan.

Lalu terdengar langkah kaki.

Berat. Lambat. Setiap langkah membuat daun-daun kering di tanah bergetar. Sosok itu muncul dari balik salah satu pilar, dan napasku tertahan di tenggorokan.

Ia lebih besar daripada Sang Penakluk. Kulitnya hitam pekat, kepalanya botak licin, dan otot-otot di lengan serta dadanya menggembung seperti batu yang dipahat. Di tangan kanannya ia menyeret sebuah flail, gada berantai dengan bola besi berduri seukuran kepala manusia. Rantainya bergemerincing setiap kali bola itu bergulir di atas tanah.

Namun, yang membuat darahku membeku adalah matanya. Merah. Bukan merah karena lelah atau marah, melainkan merah seluruhnya, merah seperti darah segar, tanpa bagian putih sedikit pun. Aku sudah melihat ribuan Akila sepanjang hidupku. Tak satu pun memiliki mata seperti itu.

“Grrrhh ….”

Geraman itu keluar dari dalam dadanya, bukan dari tenggorokan. Bukan suara manusia. Bukan pula suara Akila.

“Hei.” Aku berusaha agar suaraku tetap tenang. “Apa kau datang untuk ….”

Bola berduri itu menghantam perutku.

Lihat selengkapnya