Last Affection: Burung dalam Sangkar (Buku 1)

Marion Drossi
Chapter #20

Dirundung Nestapa

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku tergantung di antara dua pohon itu.

Di dalam hutan buatan beratap kaca, waktu tak punya tanda. Lampu-lampu di langit-langit tak pernah padam, dan cahaya putihnya tak pernah berubah. Aku mencoba menghitung dengan cara lain: berapa kali Gola datang, berapa kali penjaga mengganti air di mangkuk logam yang tak pernah sanggup kuraih, berapa kali aku tertidur dan terbangun dengan urat-urat hitam yang semakin panjang. Namun, hitunganku selalu kacau di tengah jalan. Racun itu tidak hanya menggerogoti tubuhku. Ia juga menggerogoti ingatanku tentang kapan.

Urat-urat hitam itu kini sudah mencapai leherku. Aku bisa merasakannya berdenyut di bawah kulit, menjalar seperti akar yang mencari air. Setiap kali tubuhku mencoba menyembuhkan diri, akar itu tumbuh sedikit lebih jauh. Jadi aku belajar melakukan sesuatu yang belum pernah diajarkan siapa pun kepada seorang Akila: aku belajar untuk tidak melawan rasa sakit.

Suara di dalam kepalaku tidak pernah berhenti.

Biarkan aku keluar. Biarkan aku keluar, dan rantai ini tak akan berarti apa-apa.

Aku tidak menjawabnya. Aku memikirkan hal lain. Laut di Byzantium. Ladang gandum Eretria. Roti hangat di meja oval Aconteus. Tangan Achila yang tak lagi dingin di tengah padang. Satu per satu, kujadikan semuanya pagar di sekeliling sesuatu yang terus menggeram di dasar diriku.

Lalu, entah pada hari keberapa, pintu besi di ujung hutan itu terbuka, dan aku mendengar suara langkah yang kukenal. Langkah yang tenang, teratur, tak tergesa. Diikuti dentum langkah lain yang jauh lebih berat.

“Ia masih bertahan,” kata Robertinus. Ia berdiri cukup jauh, di luar jangkauan apa pun yang mungkin masih tersisa dariku. “Mengagumkan. Ayahnya pun tak sekeras kepala ini.”

Aku mengangkat kepala. Itu saja sudah menghabiskan separuh tenagaku.

“Kau pasti bertanya-tanya mengapa belum ada yang datang menyelamatkanmu.” Ia tersenyum tipis. “Jawabannya sederhana. Mereka tidak akan sempat. Burung-burung kecil itu sudah terlalu lama bersarang di bawah kuil mereka. Sudah waktunya sarang itu dibersihkan.”

Ia menoleh ke belakang. Gola berdiri di sana, menjulang di antara batang-batang pohon, bola besi berduri tergantung di ujung rantainya. Mata merahnya menatapku tanpa berkedip.

“Pergilah, Gola,” kata Robertinus pelan, seakan sedang menyuruh seekor anjing mengambil tongkat. “Ke timur. Ke kota para pedagang. Bawakan aku kepala lelaki yang suka tersenyum itu.”

Gola menggeram. Lalu ia berbalik, dan setiap langkahnya membuat daun-daun di atasku gemetar.

“Jangan ….” Suaraku serak. “Jangan sentuh mereka ….”

Robertinus tidak menoleh lagi. Pintu besi itu menutup di belakangnya.

Aku menarik rantai itu. Sekali. Dua kali. Sekuat yang masih bisa kulakukan. Rantai inti komet itu bahkan tak berderit. Yang berderit hanyalah tulang-tulangku sendiri. Urat-urat hitam di leherku berdenyut lebih cepat, dan suara di kepalaku tertawa.

Lihat? Tanpa aku, kau tak bisa menyelamatkan siapa pun.

Aku memejamkan mata. Di balik kelopakku, wajah Achila muncul, dan aku teringat tiga kata yang ia teriakkan dari helikopter, tiga kata yang belum sempat kujawab.

Tidak, pikirku. Belum. Aku belum boleh mati di sini.

 

Sementara itu, di Kota Eretium ….

Julio tiba di Eretium menjelang tengah hari, dan dalam waktu kurang dari satu jam, ia sudah dikepung lima orang.

Ia tidak bermaksud membuat keributan. Ia hanya berjalan menyusuri pasar di tepi padang yang dulu menjadi medan perang, padang yang kini dipenuhi rumah-rumah kayu sederhana dan anak-anak yang berlarian. Seorang bocah menabrak gerobak buah, apel-apel kecil berjatuhan ke tanah, dan Julio membungkuk untuk memungutnya. Saat ia berdiri dengan beberapa apel di tangan, pemilik gerobak sudah berteriak “Pencuri!” dan para pria di sekitar pasar sudah mengelilinginya.

Barangkali karena pakaiannya yang lusuh oleh perjalanan berhari-hari. Barangkali karena busur bambu di punggungnya. Atau barangkali karena kain yang selalu membalut telapak tangan kanannya, kain yang membuat orang-orang menatapnya lebih lama daripada yang semestinya.

“Pergi dari kota ini!” bentak salah seorang dari mereka, pria paruh baya dengan perut buncit. “Kami tidak butuh pencuri di sini!”

“Aku tidak mencuri apa pun.” Julio meletakkan apel-apel itu kembali ke gerobak, satu per satu, dengan sangat tenang. “Aku hanya memungut yang jatuh.”

“Pembohong!”

Julio menghela napas. Sudah dua puluh tahun ia belajar untuk tidak menarik perhatian, dan hanya dalam satu jam di kota ini, semua pelajaran itu sia-sia.

Seorang pria berambut putih menyelinap dari belakang dengan sebatang tongkat. Julio mendengarnya bahkan sebelum tongkat itu terangkat. Ia berbalik, menangkap tongkat itu dengan satu tangan, lalu memelintir pergelangan si penyerang, tidak cukup keras untuk mematahkannya, tetapi cukup keras untuk membuatnya menjerit.

“Aw! L-lepaskan! Ampun!”

Para pria lainnya mundur selangkah. Lalu dua langkah. Lalu mereka berbalik dan lari, meninggalkan rekan mereka sendirian.

Julio menatap mata pria berambut putih itu. Untuk sesaat, sesuatu yang dingin dan sangat tua berkilat di balik bola mata birunya yang pucat, sesuatu yang membuat pria itu berhenti meronta dan hanya gemetar. Lalu kilatan itu padam. Julio melepaskannya, dan pria itu lari terbirit-birit tanpa berani menoleh.

“Kau punya cara yang menarik untuk memperkenalkan diri, Kisanak.”

Julio menoleh. Seorang pria bertubuh tinggi dan besar berdiri tak jauh darinya, janggutnya panjang dan beruban, dan sebuah bekas luka membelah mata kanannya dari alis hingga pipi. Dua pengawal berseragam biru tua berdiri di belakangnya, tetapi pria itu memberi isyarat agar mereka tetap di tempat.

Lihat selengkapnya