Last Affection: Burung dalam Sangkar (Buku 1)

Marion Drossi
Chapter #21

Hari Kebangkitan

Aku tidak tahu lagi sudah berapa hari berlalu.

Lampu-lampu di bawah atap kaca menyala dan padam mengikuti jadwal yang tak pernah berubah, tetapi aku sudah berhenti menghitungnya. Waktu di hutan palsu itu tidak diukur dengan siang dan malam. Waktu diukur dengan seberapa jauh urat-urat hitam itu merambat.

Pagi itu, atau entah apa namanya, urat-urat itu sudah sampai di wajahku. Aku bisa merasakannya merayap di bawah kulit pipiku seperti akar yang mencari air, dingin dan berdenyut. Lenganku yang terentang di antara dua pohon tak lagi terasa seperti lenganku. Rantai inti komet itu masih menyedot sisa-sisa tenagaku, tetapi kini tak banyak lagi yang bisa disedot.

Dua penjaga berdiri di dekat pintu besi. Mereka mengira aku sudah terlalu lemah untuk mendengar.

“Tuan Robertinus berangkat subuh tadi,” kata salah satunya. “Sepuluh helikopter. Para Tuan Besar ikut juga.”

“Ke mana?”

“Ke timur. Kota para pedagang itu.” Penjaga itu tertawa kecil. “Katanya ingin melihat sendiri bagaimana kota pembangkang terbakar. Gola sudah sampai di sana sejak kemarin.”

Kota para pedagang. Eleusina.

Aku memejamkan mata, dan untuk sesaat, aku melihat semuanya dengan jelas, seolah aku sedang berdiri di sana. Pasar yang riuh. Pedagang tua dan kentang-kentangnya. Kuil Para Dewa dengan ukiran burung di altarnya. Acacio dengan senyumnya yang seperti dinding. Alexio yang menyalakan rokok dengan tangan gemetar. Dan Achila.

Achila, yang meneriakkan sesuatu dari pintu helikopter, dan aku belum sempat menjawabnya.

Kau tahu apa yang akan terjadi pada mereka.

Suara itu. Kali ini tak lagi berbisik. Suara itu berbicara dengan tenang, nyaris lembut, seperti seseorang yang sudah lama menunggu di depan pintu dan tahu pintu itu akhirnya akan dibuka.

Makhluk itu akan menghancurkan kota mereka. Lelaki tua yang suka tersenyum itu akan mati. Si perokok akan mati. Dan gadis itu, gadis yang memberimu nama, akan menjadi abu, sementara kau tergantung di sini seperti daging di tukang jagal.

“Diam,” bisikku.

Biarkan aku keluar.

“Kalau aku membiarkanmu keluar, kau akan membunuh semua orang.”

Aku akan membunuh mereka yang perlu dibunuh. Itulah yang kau takutkan, bukan? Bukan aku. Melainkan betapa mudahnya semua itu.

Aku tidak menjawab. Aku teringat kata-kata Achila di Bukit Montius, di bawah langit yang penuh bintang. Kau adalah apa yang kau pilih. Selama ini aku memilih untuk menutup pintu itu rapat-rapat. Di menara, di jalan menuju Dystychía, di padang perbatasan, di Bukit Naulus. Setiap kali pintu itu terbuka sedikit, Achila-lah yang menutupnya kembali dengan memanggil namaku.

Namun, Achila tidak ada di sini. Dan racun ini akan membunuhku sebelum aku sempat melihatnya lagi.

Jika aku tetap menutup pintu itu, aku akan mati sebagai Darien, dan mereka semua akan mati bersamaku. Jika aku membukanya, barangkali aku akan berhenti menjadi Darien, tetapi setidaknya mereka punya kesempatan.

Itu bukan pilihan yang bersih. Sejak keluar dari Sangkar, aku belum pernah menemukan satu pun pilihan yang bersih.

Kau adalah apa yang kau pilih.

Baiklah. Aku memilih mereka.

Aku menarik napas sedalam yang masih bisa kutarik, lalu menggenggam satu-satunya hal yang ingin kubawa ke dalam kegelapan itu: sebuah nama. Bukan nomor yang dirajah di telapak tanganku, melainkan nama yang diberikan seorang gadis kumal di depan sebuah kuil, dari cerita ibunya tentang seorang kesatria. Darien. Ia yang mempertahankan. Kuikat nama itu di dalam dadaku erat-erat, seperti seseorang mengikat tali di pinggangnya sebelum menyelam ke dasar sungai.

Lalu aku berhenti melawan.

 

Yang terjadi selanjutnya hanya kuingat sepotong-sepotong.

Panas. Panas yang tidak datang dari luar, melainkan dari dalam tulang-tulangku, membakar urat-urat hitam itu seperti api membakar ranting kering. Racun itu tidak lenyap. Racun itu ditelan. Sesuatu di dalam diriku membuka mulutnya lebar-lebar dan menelan racun itu bulat-bulat, seakan racun itu bukan ancaman, melainkan makanan.

Bunyi logam yang retak. Rantai inti komet itu, rantai yang konon mampu menjinakkan Akila mana pun, berderak di pergelangan tanganku. Barangkali benar rantai itu menyedot kekuatan Akila. Namun, yang bangkit malam itu bukan lagi kekuatan Akila yang mereka kenal.

Teriakan dua penjaga di pintu besi. Lalu tak ada lagi teriakan.

Lorong-lorong putih. Alarm yang meraung. Kaca yang pecah. Udara malam yang dingin di wajahku, dan bau hutan di tepi barat Kota Plataia, hutan tempat kami menyembunyikan rocket float sebelum menyusup ke Departemen Pertahanan, berhari-hari yang lalu, seumur hidup yang lalu.

Logam perak berbentuk tombak, terselip di bawah semak-semak, masih di tempatnya. Kemudi di bawah telapak tanganku. Tombol merah di sisi kiri.

Rocket float itu membaca kehendak penggunanya. Malam itu, kehendak yang dibacanya hanya satu.

Timur.

Dan di dasar kegelapan itu, sangat jauh, sangat kecil, seperti cahaya lilin di ujung lorong yang panjang, sebuah nama masih menyala.

 

Sementara itu, di Kota Eleusina ….

Lihat selengkapnya