Aku masih di sana.
Itulah hal pertama yang kusadari. Aku tidak mati, tidak tertidur, tidak lenyap. Aku masih di sana, tetapi bukan lagi di tempat yang biasa. Rasanya seperti terkunci di dalam sebuah ruangan sempit di belakang mataku sendiri, menatap dunia lewat jendela kaca yang kotor dan retak. Aku bisa melihat. Aku bisa mendengar, meski suara-suara di luar sana terdengar jauh dan teredam, seakan aku berada di dasar sungai. Aku bahkan bisa merasakan. Dingin batu di bawah kakiku. Hangat pergelangan kaki yang kugenggam.
Namun, aku tidak bisa bergerak. Tidak satu jari pun.
Sesuatu yang lain sedang memakai tubuhku.
Aku melihat tanganku melepaskan pergelangan kaki Robertinus, lalu, dalam satu gerakan yang terlalu cepat untuk diikuti mata siapa pun, berpindah ke lehernya. Aku merasakan denyut nadinya di bawah telapak tanganku. Aku merasakan tubuhku bangkit, mengangkat pria berkumis itu hingga kakinya tak lagi menyentuh tanah.
“Kau ….” Untuk pertama kalinya, suara Robertinus tidak tenang. “Tidak mungkin. Tubuhmu sudah hitam sampai ke wajah. Kau semestinya sudah ….”
“Mati?”
Itu suaraku. Itu mulutku. Namun, bukan aku yang mengucapkannya. Suara itu lebih berat, lebih serak, dengan sesuatu di dalamnya yang menyerupai tawa. Suara yang sama dengan yang berbisik di menara, di jalan menuju Dystychía, di padang perbatasan. Selama ini ia hanya berbisik. Sekarang ia berbicara.
“Kau menyuntikkan racun ke dalam tubuhku dan menyebutnya hukuman,” lanjut suara itu. “Bodoh. Kau memberiku makan.”
Berhenti. Aku menjerit di dalam ruangan sempit itu. Lepaskan dia. Ini bukan yang kumau. Aku membukakan pintu untukmu supaya kau menyelamatkan mereka, bukan untuk ini!
Tak ada yang mendengar. Bahkan diriku sendiri pun tidak.
Bunyi tembakan bersahutan. Para prajurit Plataia di sekeliling alun-alun akhirnya tersadar dari keterkejutan mereka. Peluru-peluru menghantam punggungku, bahuku, perutku. Aku merasakan setiap butirnya menembus kulit, merasakan panasnya, merasakan dagingku terkoyak. Lalu aku merasakan semuanya menutup kembali, lebih cepat daripada yang pernah terjadi sebelumnya. Butiran-butiran timah itu terdorong keluar dan berjatuhan di atas batu seperti kerikil. Rasa sakitnya ada. Hanya saja, makhluk itu tidak peduli.
Dari kejauhan, teredam, aku mendengar suara Antonius. “Tuan … itu bukan dia. Lihat matanya. Itu bukan Darien yang kita kenal.”
Lalu suara Acacio, lemah, tersengal. “Darien … Nak ….”
Aku ingin menoleh kepadanya. Aku ingin berkata, aku di sini, aku masih di sini. Namun, tubuhku hanya mempererat cengkeramannya.
Wajah Robertinus memerah, lalu membiru. Kedua tangannya mencakar lenganku. Di sela napasnya yang tercekik, matanya menatap mataku, dan di sana, untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat di wajah pria itu. Bukan kebencian. Bukan pula kesombongan.
Takut.
Ia menatapku persis seperti aku menatap kegelapan di laboratorium Sangkar dulu. Pria yang menepuk bahuku seperti menepuk anjing pemburu. Pria yang mengirim Gola untuk membawakan kepala Acacio. Pria yang menendang seorang anak di depan mataku. Ia takut kepadaku, dan bagian dari diriku, bagian yang terkunci di dalam ruangan sempit itu, membenci dirinya sendiri karena merasa puas.
Jangan, bisikku. Tolong. Jangan.
Makhluk itu tersenyum dengan wajahku.
Lalu terdengar bunyi yang tak akan pernah bisa kulupakan seumur hidupku.
Tubuh Robertinus terkulai. Tanganku melepaskannya, dan ia jatuh ke atas batu-batu alun-alun seperti karung kosong, tepat di depan kuil Para Dewa, tempat yang dulu kukira menjadi rumah. Ia tidak bergerak lagi.
Aku sudah membunuh banyak orang. Di dataran gersang, di tepi sungai, di menara kota mati, di padang perbatasan, di Bukit Naulus. Setiap kematian itu meninggalkan sesuatu di dadaku. Namun, ini berbeda. Kali ini aku tidak memilih. Kali ini aku menonton. Dan entah mengapa, itu terasa jauh lebih buruk.
Setelah itu, alun-alun berubah menjadi kekacauan.
Seorang prajurit bertubuh tinggi dengan tiga garis perak di bahunya, komandan mereka, berteriak, “Dia bukan manusia! Mundur! Kembali ke helikopter!” Ia yang pertama berbalik lari.
Makhluk itu tertawa. Tawanya keluar dari tenggorokanku dan menggema di antara dinding-dinding toko yang hangus.
Aku hanya melihat potongan-potongan. Tubuhku melesat. Tanganku terulur. Sebuah teriakan yang terputus. Sebuah helikopter yang mencoba naik, lalu jatuh kembali ke tanah dengan baling-baling yang patah. Para prajurit berhamburan ke segala arah, dan tubuhku memburu mereka satu per satu seperti serigala memburu kawanan domba yang tercerai-berai. Aku mencoba menutup mataku. Aku tidak bisa. Mata itu bukan milikku lagi.
Lalu tanah bergetar.
Dari balik reruntuhan gerbang timur, sesosok raksasa melangkah keluar. Duri-duri tulang mencuat dari bahu dan punggungnya. Urat-urat hitam merambati kulitnya yang gelap. Matanya menyala merah seperti bara. Bola berduri di ujung rantainya terseret di atas batu, meninggalkan jejak panjang yang menghitam.
Gola.
Ia berhenti di tepi alun-alun, mengendus udara seperti binatang. Lalu ia menatap ke arahku, dan menggeram.
Aku merasakan makhluk di dalam diriku menggeram balik.