Dari balik kaca yang kotor itu, aku melihatnya.
Seorang pria berdiri di samping Achila. Aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas, sebab tubuhku tak mau menoleh terlalu lama ke arah mana pun selain Gola. Namun, aku melihat busur bambu di punggungnya, dan tangan kanannya yang terbalut kain lusuh, bertengger di bahu Achila seperti seseorang yang hendak menyingkirkan ranting dari jalannya.
Makhluk di dalam diriku menggeram. Bukan kepada Gola. Kepada pria itu.
Ia berbahaya, bisiknya dengan suaraku. Untuk pertama kalinya sejak pintu itu terbuka, suara itu terdengar waspada.
Sementara itu, di tangga kuil ….
Achila tak sanggup mengalihkan pandangan dari mata pria asing itu.
“Siapa kau?” bisiknya.
Pria itu tidak segera menjawab. Ia menatap alun-alun yang hancur, Gola yang mengamuk di antara puing, lalu sosok berambut panjang yang menerjangnya berulang kali. Rahangnya mengeras.
“Tetaplah di sini,” katanya akhirnya. Suaranya dalam dan tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang sedang menatap neraka. “Apa pun yang terjadi, jangan mendekat.”
“Tunggu! Ia bukan ….”
Namun, pria itu sudah melangkah turun. Alexander melompat dari kudanya, terhuyung karena kakinya kebas setelah tiga hari berkuda, dan meraih lengan Achila sebelum gadis itu sempat mengejar.
“Biarkan dia, Nak,” katanya terengah. “Kalau ada orang di dunia ini yang bisa mendekati anak itu sekarang, orangnya dia.”
Di belakang mereka, Acacio bersandar pada pilar kuil, satu tangan menekan perutnya yang berbalut kain merah. Antonius berdiri di sampingnya. Alexio muncul dari balik reruntuhan dengan pedang pinjaman yang sudah patah separuh.
“Siapa dia?” tanya Acacio lirih.
Alexander menelan ludah. “Ia datang ke Eretium lima hari lalu, mencari seseorang. Namanya Julio.” Ia ragu sejenak. “Dan di telapak tangan kanannya ada nomor, Acacio. 665.”
Hening.
Antonius yang pertama kali bersuara. “Itu …. Kalau angkanya hanya selisih satu ….”
Achila tidak mendengar sisanya. Ia sudah tahu. Ia tahu sejak melihat mata biru pucat itu.
Pria itu berjalan melintasi alun-alun seolah tak ada apa pun di antara dirinya dan Gola. Puing-puing berderak di bawah sepatunya. Racun di udara membuat napas orang biasa tersedak, tetapi ia tidak melambat sedikit pun.
Gola melihatnya lebih dulu. Raksasa itu berbalik, meninggalkanku, dan mengayunkan bola besi berdurinya ke arah pria itu.
Ia menunduk. Hanya itu. Bola besi itu mendesing di atas kepalanya, dan sebelum Gola sempat menariknya kembali, pria itu sudah melepaskan busur bambu dari punggungnya. Satu anak panah. Dua. Tiga. Ketiganya menancap di tempat yang sama, di celah di antara duri-duri tulang di bahu Gola, tempat urat-urat hitamnya berdenyut paling kencang.
Gola meraung. Untuk pertama kalinya sejak ia menghancurkan gerbang timur, raungannya terdengar seperti kesakitan.
Pria itu menjatuhkan busurnya, berlari, lalu melompat. Tangannya yang terbalut kain menghantam tengkuk Gola dengan bunyi yang membuat seluruh alun-alun terdiam.
Raksasa itu tumbang. Kali ini, ia tidak bangkit lagi. Cahaya merah di matanya meredup perlahan, seperti bara yang disiram air, dan duri-duri tulang di punggungnya berhenti bergetar.
Hanya Akila murni, aku teringat kata-kata Elasmus, entah dari mana. Hanya Akila murni yang bisa mengalahkannya.
Lalu pria itu berbalik, dan menatapku.
Makhluk di dalam diriku tidak menunggu. Tubuhku melesat ke arahnya, secepat kilat, lebih cepat daripada yang pernah kulakukan seumur hidup. Tinjuku melayang ke wajahnya.
Ia menangkapnya.
Begitu saja. Telapak tangannya yang terbalut kain menggenggam kepalan tanganku seolah menangkap buah yang jatuh dari pohon. Ia memelintirnya, dan sebelum makhluk itu sempat memahami apa yang terjadi, tubuhku sudah terbanting ke tanah. Debu berhamburan. Dari balik kaca, aku merasakan punggungku menghantam batu, merasakan napasku terenggut.
“Lihat dirimu, Nak.” Ia berdiri di atasku. Untuk pertama kalinya aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Keras, berdebu, penuh garis yang ditorehkan waktu. Dan matanya. Matanya biru pucat. “Bagaimana bisa kau membiarkannya keluar?”