Retakan di kaca itu memanjang, bercabang, lalu berhenti.
Aku bisa merasakan jemariku. Aku bisa merasakan kasarnya kain di bahu Achila, dingin batu di bawah lututku, perih di sudut bibirku yang robek. Untuk sesaat, aku hampir yakin bisa mendorong kaca itu sampai pecah dan melangkah keluar. Aku hanya perlu satu dorongan lagi.
Namun, tubuhku sudah terlalu lelah.
Makhluk itu telah memakai tubuhku sejak di hutan beratap kaca. Ia memakainya untuk mematahkan rantai, menyeberangi langit, menghadapi Gola, dan menghadapi ayahku. Dan ketika makhluk itu akhirnya mundur, ia tidak meninggalkan apa pun untukku. Tak ada sisa tenaga. Tak ada sisa darah yang belum terkuras. Dari balik kaca yang retak itu, aku melihat lututku sendiri tertekuk, dan tanah alun-alun naik menyongsong wajahku.
Lalu air.
Begitulah rasanya. Bukan gelap, melainkan air. Hitam, berat, dan sangat dingin, seperti sungai cokelat keruh di perang keduaku, hanya saja tak berdasar. Aku tenggelam perlahan. Suara-suara di atas permukaan masih terdengar, tetapi semakin jauh, semakin teredam, seakan seseorang berbicara dari balik dinding yang tebal.
Aku tidak melawan. Barangkali memang beginilah semestinya. Barangkali setelah semua yang dilakukan tubuhku hari ini, aku memang pantas tinggal di dasar sana.
Yang terakhir kudengar sebelum semuanya teredam adalah suara Achila, memanggil namaku berulang-ulang.
Sementara itu, di tangga kuil Para Dewa ….
Elasmus melepaskan diri dari papahan Antonius dan berjalan tertatih menuruni anak tangga. Jas putihnya robek di bahu, pergelangan tangannya masih terbalut, dan kacamatanya yang retak melorot di ujung hidung. Ia berhenti di depan pria berambut sebahu itu, cukup dekat untuk melihat matanya.
“Dua puluh tahun,” katanya pelan. “Kau masih hidup.”
Julio menatapnya lama. Pisau di tangannya sudah turun, tetapi belum disarungkan. “Dan kau masih bekerja untuk mereka, Dokter?”
“Tidak lagi.” Elasmus tersenyum tipis, senyum yang lebih menyerupai luka. “Mereka baru saja mencoba memenggal kepalaku. Anakmu yang menyelamatkanku.”
Pandangan Julio beralih ke tubuh yang tergeletak di pangkuan Achila. Darien tak bergerak. Urat-urat hitam di wajahnya perlahan memudar, menyisakan kulit yang pucat seperti kertas, dan napasnya begitu pendek hingga Achila terus menempelkan telinga ke dadanya untuk memastikan jantung itu masih berdetak.
“Kau melihat apa yang ada di dalam dirinya,” kata Julio. “Hal yang sama yang ada di dalam diriku. Hari ini ia kembali karena gadis itu. Lain kali, mungkin tidak.” Suaranya merendah. “Aku tidak bisa membiarkan sesuatu seperti itu berjalan bebas di dunia ini, Dokter. Bahkan kalau ia anakku sendiri.”
“Kalau begitu, kenapa tidak kau habisi saja semua Akila yang masih hidup?”
Julio menoleh.
Alexio berdiri beberapa langkah di belakang Achila. Topi jeraminya sudah lama hilang, rambutnya kusut oleh debu dan keringat, dan pedang pinjaman di tangannya patah separuh. Jari-jarinya bergerak gelisah di depan bibir, mencari sebatang rokok yang sudah tak ia punya sejak pagi.
“Sepuluh ribu di dalam Sangkar,” lanjutnya. “Yang di sana tidak pernah menahan diri seperti dia. Mereka membunuh karena disuruh dan tertawa sambil melakukannya. Mulailah dari mereka kalau memang itu tujuanmu.”
“Siapa kau?”
“Temannya.” Alexio terdiam sebentar, seolah kata itu kurang tepat. “Bukan. Sahabatnya.” Ia melangkah maju hingga berdiri tepat di antara Julio dan Achila. “Dan kalau kau menyentuhnya lagi, aku tidak peduli kau ayahnya atau bukan.”
Julio menatap pedang patah itu, lalu kembali menatap wajah Alexio. Sudut bibirnya terangkat, getir. “Lucu. Dua puluh tahun lalu, orang-orang seperti kalian lari terbirit-birit setiap kali melihat nomor di telapak tangan kami. Dan sekarang kalian berdiri di depan seekor Akila, menghunus senjata demi seekor Akila yang lain.”
“Orang-orang seperti kami?” Alexio mendengus. “Kau tidak tahu apa-apa tentang kami. Kau tidak ada di Dystychía saat ia memberikan bekal terakhirnya kepada orang asing. Kau tidak ada di padang perbatasan saat ia berlutut di samping seorang ayah yang mati karena memperingatkannya. Kau tidak ada di Lapangan Penghakiman saat ia mematahkan tiang guillotine dan menyuruh kerumunan yang meneriakkan kematiannya untuk pulang.” Suaranya pecah di ujung. “Kau tidak ada di mana pun, Julio. Dan ia mencarimu. Sejak hari pertama aku mengenalnya, diam-diam, ia mencarimu.”
Hening.
Julio tidak menjawab. Pisau di tangannya akhirnya kembali ke sarungnya.
“Itu benar,” kata Elasmus lirih. “Sayalah yang mendorongnya keluar dari Sangkar, Julio. Sayalah yang mengatakan kepadanya untuk mencari tahu arti perasaannya sendiri. Ia tidak tahu harus mulai mencari dari mana. Ia tidak tahu apakah kalian masih hidup. Ia hanya punya sepotong ingatan tentang punggung seorang ibu.”
Sesuatu bergerak di wajah Julio. Sesuatu yang retak.
“Biar saya buktikan kepadamu,” lanjut Elasmus. “Sejak ia keluar dari Sangkar, tak sekali pun ia membunuh tanpa alasan. Setiap kali makhluk itu muncul, selalu karena ada orang lemah yang disakiti di depan matanya. Dan setiap kali pula, ia menahannya. Kau tahu betapa sulitnya itu, Julio. Kau satu-satunya orang di dunia ini yang tahu.”