Air hitam itu tidak lagi menarikku ke bawah.
Dua tangan itu menggenggam pergelangan tanganku, dan aku naik. Perlahan, layaknya sebutir gelembung yang tak yakin jika diizinkan sampai ke permukaan. Cahaya lentera di atasku semakin terang. Suara-suara semakin jelas. Seseorang menangis. Seseorang berbisik, “Ayo, Nak.” Seseorang lagi menahan napas begitu lama hingga aku bisa mendengar napas itu tertahan.
Lalu, tepat sebelum aku menembus permukaan, sesuatu mencengkeram kakiku.
Kau pikir semudah itu?
Suaraku sendiri. Dingin, berat, dan kali ini marah. Ia menarikku kembali, dan untuk sesaat, cahaya lentera itu kembali menjauh. Di luar sana, aku tahu, tubuhku sedang bergerak. Aku bisa merasakannya dari kejauhan, otot-otot yang menegang, punggung yang melengkung, rahang yang terkatup begitu keras hingga gigiku berderit.
“Tahan dia!” Itu suara Acacio. “Julio, sisi kirinya!”
“Jangan lepaskan!” Suara ayahku. Ayahku. Kata itu masih terasa asing, bahkan di dalam kepalaku sendiri. “Ia sedang bertarung! Biarkan ia bertarung!”
Lihat mereka, bisik makhluk itu. Mereka menahanmu seperti para penjaga di Sangkar. Seperti rantai inti komet. Kau mau kembali ke dunia yang selalu merantaimu?
Aku berhenti melawan, dan untuk sesaat, ia mengira ia menang.
Lalu aku menoleh kepadanya. Di dalam air hitam itu, kini, aku bisa melihatnya. Ia tidak berwujud iblis. Tidak bertanduk, tidak bertaring. Ia hanya seorang anak kecil, berumur lima tahun barangkali, berdiri sendirian di lapangan tanah merah sambil menatap punggung seseorang yang berjalan menjauh. Matanya hitam, dan di dalam hitam itu, ada begitu banyak amarah yang tak pernah punya tempat untuk pergi.
Aku mengenali anak itu.
“Aku tahu,” kataku kepadanya. “Aku tahu kau marah. Aku juga.”
Cengkeramannya di kakiku mengendur.
“Tapi kita tidak perlu lagi menunggu di lapangan itu,” lanjutku. “Ia sudah kembali. Ia ada di atas sana. Ayo pulang.”
Anak itu menatapku lama. Lalu, perlahan, ia melepaskan kakiku. Ia tidak menghilang. Ia hanya diam di tempatnya, di dasar air yang gelap, dan aku tahu ia akan selalu ada di sana. Namun, untuk saat ini, ia membiarkanku pergi.
Aku menembus permukaan.
Hal pertama yang kurasakan adalah rasa sakit.
Seluruh tubuhku terasa seperti baru saja diremukkan lalu disusun kembali oleh tangan yang tergesa-gesa. Hal kedua adalah dingin, tanah gua yang lembap di bawah punggungku. Hal ketiga adalah dua tangan yang masih menggenggam pergelangan tanganku. Satu besar dan kasar, berbalut kain lusuh. Satu lagi kecil, dingin, dan gemetar.
Aku membuka mata.
Langit-langit gua di atasku berputar sebentar sebelum akhirnya diam. Cahaya lentera menari di dinding batu. Lalu wajah-wajah itu muncul satu per satu di atasku, seakan aku sedang dilahirkan kembali dan dunia ingin memastikan aku benar-benar ada. Acacio, dengan kain merah yang masih membalut perutnya. Dokter Elasmus, kacamatanya yang retak melorot di ujung hidung. Alexio di belakang mereka, bersandar ke dinding dengan kedua tangan terlipat, berpura-pura tidak peduli dan gagal total.
Achila.
Matanya merah dan sembap. Pipinya masih menyimpan bekas tanah dan debu dari alun-alun. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menatapku, seakan takut jika ia berkedip, aku akan tenggelam lagi.
Dan di sampingnya, seorang pria berambut sebahu yang mulai memutih, dengan mata biru pucat yang sama persis dengan mata yang selama ini kulihat setiap kali bercermin di permukaan sungai.
“Matanya,” bisik Acacio. “Matanya sudah biru lagi.”
Alexio mengembuskan napas panjang, napas yang barangkali sudah ia tahan sejak alun-alun. “Dasar bodoh,” gumamnya. Suaranya parau. “Dasar bodoh tak tahu diri.”
Aku mencoba bangkit. Tubuhku menolak. Achila langsung menahan bahuku, dan aku membiarkannya.
“Jangan bergerak dulu,” kata Dokter Elasmus. Ia memeriksa leherku, menekan urat-urat yang tadinya hitam dan kini hanya meninggalkan jejak kelabu samar. “Racunnya sudah habis dimakan tubuhmu sendiri. Kau tidak akan mendapatkan tenagamu kembali dalam satu atau dua hari. Tetapi kau akan hidup.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara lebih rendah, “Sekali lagi, kau melakukan sesuatu yang tak pernah tercatat di arsip mana pun.”
Aku tak menjawab. Mataku sudah kembali kepada pria berambut sebahu itu.
Ia tidak mendekat. Ia duduk bersila di tanah, beberapa jengkal dariku, dengan kedua tangan di atas lutut dan punggung sedikit membungkuk, seperti seseorang yang tak yakin apakah ia berhak berada di sini. Wajahnya lebam di beberapa tempat. Aku tahu lebam-lebam itu milik siapa.
“Kau ….” Suaraku nyaris tak terdengar. “Kau benar-benar ….”
“Julio.” Ia menelan ludah. “665.” Lalu, setelah jeda yang terasa sangat panjang, “Ayahmu.”
Kata itu jatuh di antara kami seperti batu ke dalam sumur. Aku menunggu riaknya. Menunggu marah, atau lega, atau sesuatu yang lain yang bisa kuberi nama. Namun, yang datang hanya kekosongan aneh, seperti ruangan yang terlalu lama dikunci dan baru saja dibuka.