Tujuh hari aku tinggal di gubuk di atas bukit itu.
Tujuh hari yang terasa lebih panjang daripada dua puluh tahun di Sangkar. Ibuku tidak banyak bicara. Pada hari pertama, ia hanya memandangiku, seakan takut aku akan lenyap jika ia berkedip terlalu lama. Pada hari kedua, ia menyentuh wajahku dengan ujung jarinya, menelusuri alis, pipi, dagu, seperti seseorang yang sedang membaca dalam gelap. Pada hari ketiga, ia mulai tertawa. Tawanya pelan dan serak, seolah sudah lama tak dipakai.
Ia mengajariku memanggang kijang di atas bara tanpa membuatnya hangus. Ayahku mengajariku memanah dengan busur bambunya, dan menertawakanku setiap kali anak panahku melesat jauh dari sasaran. Achila duduk di beranda, menjahit jubahku yang robek di sana-sini, dan sesekali melirik ke arah kami dengan senyum yang ia sembunyikan di balik helai-helai rambutnya.
Pada malam keenam, ibuku duduk di sampingku di tepi sungai. Kunang-kunang beterbangan di atas air.
“Ayahmu bilang kau ingin mencari mereka,” katanya. “Akila yang hilang.”
“Ya.”
“Kenapa?”
Aku menatap air yang berkilauan. “Karena di Sangkar, kami diajari bahwa hanya ada tiga jenis Akila. Bahwa Akila tidak bisa merasa. Bahwa kami hanya senjata.” Aku membuka telapak tanganku, menatap angka hitam itu. “Kalau ada Akila lain yang bisa merasa, Ibu, berarti semua itu bohong. Dan kalau semua itu bohong, berarti sepuluh ribu Akila di Sangkar juga bisa menjadi sesuatu yang lain. Mereka hanya perlu tahu bahwa mereka boleh memilih.”
Ibuku tidak menjawab untuk waktu yang lama. Lalu ia meletakkan tangannya yang terbalut kain di atas tanganku.
“Matamu,” katanya pelan. “Kau tahu kenapa mata kita biru, sedangkan mata Akila lain hitam atau cokelat?”
Aku menggeleng.
“Di Sangkar dulu, para pelatih menyebutnya cacat. Anak-anak bermata biru selalu diawasi lebih ketat. Mereka lebih sering menangis. Lebih sering bertanya. Dan kalau terlalu banyak bertanya, mereka akan dibawa ke Menara dan tak pernah kembali.” Ia menatap kunang-kunang di atas sungai. “Ayahmu bilang, para pedagang garam bercerita tentang orang-orang bermata biru di pulau seberang. Aku tidak tahu apakah itu benar. Tapi kalau benar, Darien, mungkin mereka tidak pernah hilang. Mungkin mereka hanya dibuang.”
Esok paginya, ibuku tidak ikut.
“Aku sudah menunggu dua puluh tahun,” katanya sambil merapikan kerah jubahku, seperti ibu-ibu di pasar Eleusina merapikan pakaian anak mereka. “Aku bisa menunggu sedikit lebih lama lagi. Tapi kali ini, kau harus pulang. Kalian berdua.”
Ia menatap ayahku saat mengatakannya. Ayahku mengangguk.
Lalu ia memelukku. Dan kali ini, saat kami berangkat, akulah yang menoleh berkali-kali, dan ia tetap berdiri di ambang pintu itu sampai bukit bambu menghilang dari pandanganku.
Kami terbang ke utara, menuju pesisir Eretium.
Alexio sudah menunggu di dermaga pelabuhan. Ia mengenakan topi lebar baru berwarna cokelat tua yang jelas terlalu bagus untuknya, dan ada sebatang rokok terselip di bibirnya. Begitu melihat kami turun dari rocket float, ia mengangkat tangan dengan malas.
“Hadiah dari Alexander,” katanya sebelum aku sempat bertanya, menunjuk topinya. “Tembakaunya juga. Katanya, anggap saja sebagai upah karena aku sudah menjaga orang paling bodoh di dunia.”
“Aku senang kau datang,” kataku.
“Jangan membuatku menyesal.” Ia mengembuskan asap, lalu menunjuk empat gulungan karet abu-abu yang tergeletak di dermaga, bersama sebuah peti kayu kecil. “Kiriman Dokter Elasmus. Tiba dua hari lalu lewat jalur pedagang Acacio. Ia bilang, kalian akan membutuhkannya.”
Ayahku berjongkok dan membuka peti itu. Di dalamnya tersusun empat mesin kecil berbentuk tabung, masing-masing tak lebih besar dari sebuah kendi air. Ada pula sepucuk surat dengan tulisan tangan Elasmus yang rapi dan miring.
Jet Surf. Plataia memakainya untuk patroli pantai. Saya merancangnya dua belas tahun lalu, dan saya menyimpan cetak birunya. Pompa karetnya hingga keras, pasang mesinnya di belakang, dan arahkan dengan berat tubuh. Jangan dekati perairan barat laut. Laboratorium saya sudah dibongkar, jadi ini yang terakhir yang bisa saya buatkan untuk kalian. Pulanglah dengan selamat. E.
Aku membaca kalimat terakhir itu dua kali. Pulanglah. Rasanya ada begitu banyak orang di dunia ini yang memintaku pulang, padahal dulu aku bahkan tak tahu artinya.
Kami merakitnya di dermaga sambil ditonton anak-anak nelayan yang penasaran. Ayahku menyelesaikan miliknya lebih dulu, lalu membantuku.
“Seberapa jauh pulau itu, Ayah?”
“Aku tidak tahu pasti.” Ia mengencangkan tali pengikat mesin. “Para pedagang garam bilang, seorang nelayan pernah tersesat ke sana. Ia berlayar dari matahari terbit sampai matahari terbenam ke arah selatan, menjauhi Daratan Asterovos, lalu menemukan sebuah pulau berhutan lebat yang tidak ada di peta mana pun. Ia bersumpah melihat orang-orang bertubuh besar bermata biru di antara pepohonan. Lalu ia berbalik pulang secepat-cepatnya, dan tak pernah kembali lagi.”
“Dan Ayah percaya?”
Ayahku tersenyum tipis. “Dua puluh tahun lalu, aku tidak percaya ada Akila yang bisa mencintai. Lalu aku bertemu ibumu.”
Hanya ada tiga Jet Surf yang bisa kami gunakan. Mesin keempat retak dalam perjalanan. Maka Achila naik bersamaku. Ia duduk di belakangku, ragu sejenak, sebelum akhirnya melingkarkan kedua tangannya di pinggangku.
“Peganganlah yang erat,” kataku.
“Aku tahu.” Suaranya teredam di punggungku. Namun, genggamannya mengerat.
Aku menyentakkan pegangan mesin. Jet Surf itu mendesis, lalu melesat meninggalkan dermaga, membelah permukaan laut yang biru dan tenang. Percikan air asin menerpa wajahku. Di belakang, aku mendengar Alexio memaki karena topi barunya hampir terbang, dan ayahku tertawa, tawa yang kini mulai terdengar akrab.