Mata-mata biru itu tidak berkedip.
Mereka berdiri melingkar di antara batang-batang pohon raksasa, sekitar dua puluh orang, laki-laki dan perempuan, semuanya lebih tinggi daripada manusia biasa. Tombak-tombak berujung batu hitam teracung ke arah kami, dan di balik dedaunan, aku bisa mendengar tali-tali busur yang ditarik tegang. Lebih banyak lagi yang bersembunyi di sana. Aku tak bisa menghitungnya.
Di kejauhan, suara Achila memanggil namaku, lalu terputus.
Tubuhku bergerak sebelum pikiranku sempat memerintah. Namun, tangan Ayah sudah mencengkeram bahuku lebih dulu, kuat seperti penjepit besi.
“Jangan,” bisiknya. “Lihat mata mereka, Darien.”
Aku melihatnya. Biru. Semuanya biru, seperti mata Ayah, seperti mata Ibu, seperti mataku sendiri yang kulihat di permukaan air sungai di bukit bambu. Inilah mereka. Inilah orang-orang yang kami cari dengan menyeberangi lautan.
“Kalau kita melawan, kita akan membunuh orang-orang yang kita datangi untuk diselamatkan,” lanjut Ayah, “atau mereka akan membunuh kita. Dua-duanya bukan alasan kita kemari.”
Perlahan, Ayah mengangkat kedua tangannya ke udara. Alexio mengikutinya sambil menggerutu pelan. Aku yang terakhir. Rasanya seperti mengangkat batu.
“Kami tidak datang untuk berkelahi,” kata Ayah lantang.
Seorang pria melangkah maju dari lingkaran itu. Bahunya lebar, dan sebuah bekas luka melintang mendatar di dahinya, seakan seseorang pernah mencoba membelah kepalanya dan gagal. Ia menatap kami satu per satu, lalu berbicara kepada orang-orang di belakangnya dengan bahasa yang terdengar seperti bahasa kami, tetapi dengan lekuk yang asing.
“Bawa mereka ke kampung.”
Sesuatu menusuk tengkukku. Kecil, tajam, seperti gigitan semut. Aku menoleh dan melihat seorang perempuan menarik kembali sebatang duri panjang dari kulitku. Ujung duri itu berwarna kebiruan.
Lalu tanah di bawah kakiku mulai miring.
Ketika kesadaranku kembali, hari sudah gelap.
Tanganku terikat di belakang punggung, pada sebatang tiang kayu besar yang ditancapkan di tanah. Ayah terikat di tiang sebelah kiriku. Di sebelah kanan, Alexio terkulai dengan dagu menempel di dada, topinya tergeletak di tanah. Ia masih bernapas. Aku bisa mendengarnya.
Kami berada di tengah sebuah kampung. Rumah-rumah beratap ilalang berdiri melingkar mengelilingi api unggun besar, dibangun di antara akar-akar pohon raksasa yang menjulang hingga hilang ditelan gelap. Tak ada mesin. Tak ada logam, kecuali beberapa potong besi berkarat yang digantung sebagai lonceng. Puluhan, ratusan pasang mata biru mengawasi kami dari ambang pintu, dari balik akar, dari atas dahan.
Aku menarik tanganku sekuat tenaga. Tali itu tidak bergeming.
Itu mustahil. Seorang Akila bisa memutus tali biasa semudah memutus benang. Aku mematahkan borgol baja di Bukit Naulus. Aku meretakkan rantai inti komet di Plataia. Namun, tali serat di pergelangan tanganku ini tidak sedikit pun terasa melonggar. Bukan talinya yang kuat. Akulah yang lemah. Tubuhku terasa seperti diisi pasir basah.
“Kau juga merasakannya?” bisik Ayah di sebelahku. Suaranya pelan dan berat.
“Duri itu ….”
“Ya.” Ayah mencoba menarik tangannya, lalu menyerah dengan dengusan pelan. “Sudah lama sekali aku tidak merasa selemah ini. Rasanya hampir menyenangkan.”
“Achila,” kataku. “Di mana Achila?”
“Gadis itu tidak apa-apa.”
Suara itu datang dari seberang api unggun. Seorang pria duduk di atas bongkahan batu, kedua lengannya bersilang di depan dada. Rambut hitamnya panjang dan lurus hingga melewati punggung, diikat longgar dengan seutas tali kulit. Dagunya runcing, dan matanya, seperti mata semua orang di tempat ini, berwarna biru pucat, tetapi tatapannya jauh lebih tajam.
Ia bangkit dan berjalan mendekat. Pria berbekas luka di dahi mengikuti di belakangnya.
“Gadis itu manusia biasa,” lanjutnya. “Kami tidak menyakiti manusia biasa yang tidak menyakiti kami. Ia sedang makan di rumahku, dan sudah tiga kali mencoba kabur untuk mencarimu.” Sudut bibirnya terangkat sedikit. “Gadis yang keras kepala.”
Sesuatu di dadaku mengendur, sedikit.
“Akar biru,” kata pria itu, menunjuk tengkuknya sendiri. “Itu yang kalian rasakan. Dulu, kakek dari kakek kami mengoleskannya di ujung anak panah untuk berburu babi hutan. Lalu kami menemukan bahwa akar itu tidak membunuh orang seperti kita. Akar itu hanya menidurkan apa yang ada di dalam darah kita.” Ia berjongkok di hadapanku, menatap lurus ke dalam mataku. “Dan aku lebih suka berbicara dengan Akila yang tertidur.”
“Kalau kau sudah tahu kami Akila,” kata Ayah, “kau tahu kami sama dengan kalian.”
Pria itu tertawa. Tawanya pendek dan tak mengandung kegembiraan sedikit pun. Ia meraih tangan kananku yang terikat di belakang tiang, memutarnya dengan kasar hingga telapaknya menghadap ke cahaya api, dan memandangi deretan angka hitam yang terukir di sana.
“Sama?” Ia melepaskan tanganku. Lalu ia mengangkat tangan kanannya sendiri dan membuka telapaknya di depan wajahku.
Kosong. Tak ada angka. Tak ada tinta. Hanya kulit dan garis-garis tangan, seperti telapak tangan Achila, seperti telapak tangan siapa pun yang tak pernah dimiliki oleh orang lain.