Sementara itu, di Kota Plution ….
Plution adalah kota yang tak pernah tercantum di peta mana pun, kecuali peta milik Plataia.
Letaknya di ujung timur Daratan Asterovos, terselip di antara dua bukit kapur yang melindunginya dari angin gurun. Para pengelana jarang singgah ke sana karena tak ada yang bisa dijual dan tak ada yang perlu dibeli. Penduduknya hanya beberapa ratus jiwa. Mereka menanam jagung, beternak kambing, dan setiap musim mengirim upeti yang tak pernah terlambat sehari pun. Plution tidak pernah membangkang. Plution bahkan tidak pernah bermimpi untuk membangkang.
Barangkali karena itulah Panglima Anderson memilihnya.
Pagi itu, di sisi utara kota, para pekerja sedang membangun lumbung baru. Rangka kayunya sudah berdiri setinggi tiga orang dewasa, dan seorang pria tua berkumis putih duduk mengangkang di balok teratas, memaku papan-papan atap.
“Hei, Pak Tua! Lemparkan palunya ke sini!” seru seorang pekerja di bawah.
“Tangkap, ya!”
Palu itu meluncur jatuh. Pekerja di bawah mengulurkan tangan untuk menangkapnya, tetapi palu itu tak pernah sampai ke telapaknya.
Sesuatu telah lebih dulu menangkapnya di udara.
Sosok itu berdiri di antara mereka seolah sejak tadi sudah ada di sana. Tinggi, kurus, pucat hingga kulitnya nyaris tembus pandang, dengan urat-urat kebiruan yang menjalar di bawahnya. Kuku-kuku hitam panjang mencengkeram gagang palu itu. Matanya hitam seluruhnya, kecuali setitik merah di tengahnya, dan titik merah itu bergerak perlahan, dari satu wajah ke wajah lain, seperti seseorang yang sedang menghitung.
Tak seorang pun berteriak. Belum. Para pekerja hanya berdiri membeku, palu-palu dan gergaji masih tergenggam di tangan mereka, dan di dalam keheningan yang ganjil itu, makhluk itu memiringkan kepalanya, seolah sedang mendengarkan sesuatu yang hanya bisa didengarnya sendiri.
Detak jantung. Ratusan detak jantung, berdegup semakin kencang.
Percobaan 036 tersenyum.
Apa yang terjadi sesudahnya tak sempat disaksikan oleh siapa pun yang selamat. Mereka yang berada di sisi selatan kota hanya mendengar jeritan pertama, lalu jeritan kedua, lalu begitu banyak jeritan hingga semuanya melebur menjadi satu bunyi panjang yang tak putus-putus. Ketika mereka berlari ke utara untuk melihat, lumbung yang belum selesai itu sudah roboh, dan tak ada lagi pekerja yang berdiri di sekitarnya.
Lalu langit pun ikut menjerit.
Empat pesawat tempur berlambang menara bersayap melesat rendah dari arah barat, disusul empat helikopter yang berdengung seperti kawanan tawon raksasa. Bom pertama jatuh di tengah pasar. Bom kedua jatuh di atas deretan rumah tempat para perempuan menjemur pakaian. Api menyambar atap-atap jerami, dan dalam waktu kurang dari satu jam, separuh Kota Plution telah menjadi abu.
Penduduk berlarian tanpa arah. Sebagian mencoba bersembunyi di dalam sumur kering, sebagian berlari ke arah bukit, sebagian lagi hanya berlutut di tengah jalan, menunggu. Tak ada tentara yang datang menolong. Tak ada tentara yang memang pernah dimiliki Plution. Selama ini mereka percaya bahwa upeti adalah perisai mereka.
Ketika asap mulai menipis, seorang pria jangkung berseragam hitam-putih menuruni tangga helikopter dengan langkah tenang. Sepatu botnya yang mengilap menginjak abu dan puing tanpa ragu. Panglima Anderson menyulut sebatang rokok, mengisapnya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya ke langit yang memerah.
Ia menemukan Percobaan 036 duduk di atas reruntuhan sumur, di tengah alun-alun yang sunyi. Makhluk itu tidak lagi sepucat tadi pagi. Kulitnya kini bersemu kelabu, urat-uratnya menebal, dan tubuhnya tampak sedikit lebih tinggi, seakan sesuatu di dalam dirinya terus tumbuh.
“Kau kenyang?” tanya Anderson.
Makhluk itu menoleh perlahan. Titik merah di matanya berpendar. Ketika ia berbicara, suaranya masih terdengar asing di mulutnya sendiri, seperti seseorang yang baru belajar menggunakan alat musik. Namun, kata-katanya jauh lebih lancar daripada di laboratorium beberapa hari lalu.
“Belum.” Ia memandangi tangannya sendiri, membuka dan menutup jari-jarinya yang berkuku hitam. “Setiap kali … aku makan … aku menjadi lebih. Lebih cepat. Lebih kuat. Lebih … mengerti.”
“Aku tahu.” Anderson tersenyum tipis. “Profesor Arial sempat menuliskannya di catatannya sebelum kau membunuhnya. Serum di dalam darahmu tumbuh dengan memakan apa yang kau makan. Itulah sebabnya kubawa kau ke kota yang tak berguna ini lebih dulu. Anggap saja sarapan.”
Percobaan 036 mengamati wajah pria di hadapannya cukup lama. Lalu ia bertanya, dengan nada yang nyaris terdengar ingin tahu, “Kalian manusia … senang saling menghancurkan. Kenapa tidak … saling memakan?”
Untuk pertama kalinya, senyum Anderson goyah. Ia membuang rokoknya ke tanah dan menginjaknya. “Karena kami bukan binatang.”
Makhluk itu memiringkan kepala. Titik merah di matanya berkedip, lalu bergeser ke arah reruntuhan rumah-rumah yang masih terbakar, ke arah pesawat-pesawat berlambang menara bersayap yang mengapung di langit, lalu kembali ke wajah Anderson.
“Oh,” katanya. Hanya itu.
Anderson berbalik dan berjalan kembali ke helikopternya. Ia tak menoleh lagi. Namun, ketika ia menaiki tangga, tangannya mencengkeram pegangan sedikit lebih erat daripada biasanya.
Pada malam kedua kami di pulau itu, aku duduk di atas batu karang di tepi pantai, mendengarkan ombak.