Eretium menyambut kami dengan bau garam dan kabar buruk.
Kami tiba di dermaga menjelang tengah hari, setelah setengah hari membelah ombak dengan dua Jet Surf yang mesinnya mulai terbatuk-batuk. Pelabuhan itu tidak seramai biasanya. Para nelayan berkerumun di depan gudang ikan, berbicara dengan suara rendah, dan begitu melihat kami turun, beberapa di antara mereka langsung berlari ke arah bukit istana.
Alexander menemui kami di tangga dermaga. Ia tidak menyambut kami dengan tawa seperti biasanya.
“Plution,” katanya, bahkan sebelum aku sempat menyapa. “Kota kecil di timur, di antara bukit-bukit kapur. Kalian tahu?”
Aku menggeleng. Julio terdiam.
“Kemarin lusa, kota itu lenyap.” Alexander mengusap bekas luka di wajahnya, kebiasaan yang baru kusadari muncul setiap kali ia gelisah. “Seorang pedagang garam tiba pagi tadi dengan tiga orang yang selamat. Mereka bersembunyi di dalam sumur kering semalaman. Mereka tak bisa berhenti gemetar. Katanya, sesuatu yang pucat dan tinggi datang dari arah pesawat-pesawat Plataia. Bukan manusia. Bukan Akila. Mereka tak punya kata untuknya.”
Ia menatapku. “Plution tak pernah membangkang, Darien. Mereka selalu membayar upeti tepat waktu.”
Kata-kata itu jatuh ke perutku seperti batu. Jika Plataia sanggup memusnahkan kota yang paling patuh hanya untuk menguji sesuatu, maka tak ada lagi kota yang aman. Tidak Eretium. Tidak Eleusina. Tidak pula sebuah pulau kecil di selatan yang selama ini selamat hanya karena dilupakan.
Kami berbicara di ruang kerja Alexander hingga matahari condong ke barat. Aku menceritakan pulau itu, tiga ribu orang bermata biru, nenek tua yang memintal serat, dan keputusan yang mereka ambil di bawah cahaya api unggun. Alexander mendengarkan tanpa menyela, lalu berjalan ke jendela dan menatap deretan perahu di pelabuhan.
“Kapal-kapalku bukan kapal perang,” katanya akhirnya. “Kapal ikan. Lambungnya bau, layarnya tambalan, dan separuh nakhodanya pemabuk. Tapi mereka bisa menyeberangi laut.” Ia berbalik. “Dua hari. Beri aku dua hari untuk mengumpulkan awak dan perbekalan.”
“Aku yang akan memandu mereka,” kata Julio. “Aku sudah melihat jalurnya.”
Aku menoleh kepadanya. “Kalau begitu, aku ikut.”
“Tidak.” Julio menggeleng pelan. “Kau pergi ke Eleusina. Acacio harus tahu tentang Plution, dan Pak Tua harus tahu tentang makhluk itu. Kalau benda pucat itu adalah apa yang kukira, tak ada yang lebih memahaminya selain Elasmus.” Ia meletakkan tangannya di bahuku. “Lagi pula, aku tidak akan pergi lama. Achila dan Alexio menunggu di sana. Aku akan membawa mereka pulang bersama yang lain.”
Aku ingin membantah. Dua puluh tahun aku tak punya ayah, dan baru beberapa minggu aku memilikinya, kini ia akan pergi lagi menyeberangi laut. Namun, aku melihat matanya, dan aku tahu ia tidak sedang meninggalkanku. Ia sedang memercayaiku.
“Pulanglah dengan selamat,” kataku, meminjam kata-kata dari surat Elasmus.
Julio tersenyum. Senyum yang mulai kukenali sebagai milikku sendiri. “Kau juga, Nak.”
Rocket float yang kami tinggalkan di Eretium masih berada di gudang istana, terbungkus kain layar. Aku terbang ke barat laut saat senja, sendirian, di atas jalan setapak yang dulu kami tempuh dengan berjalan kaki selama berhari-hari. Dystychía lewat di bawahku seperti noda gelap. Lalu hamparan tanah merah. Lalu, ketika bintang-bintang mulai bermunculan, cahaya pelita Eleusina yang samar di kaki bukit.
Kota itu masih menyimpan bekas amukan Gola dan Robertinus. Gerbang timurnya hanya ditambal dengan balok-balok kayu, dan alun-alun di depan kuil masih menghitam di beberapa tempat. Namun, pasar sudah kembali dibuka, dan seseorang telah menanam bunga di pot-pot pecah di sepanjang tangga kuil. Aku berhenti sejenak di depannya. Di tanah inilah, beberapa minggu lalu, aku hampir tak kembali.
Acacio menyambutku di pertengahan tangga menuju gua. Perban di perutnya sudah lebih tipis, dan ia sudah bisa berjalan tanpa dipapah, meski sesekali masih meringis.
“Kau pulang sendirian,” katanya. Bukan pertanyaan.
“Ayah memandu kapal-kapal Alexander ke selatan. Achila dan Alexio menunggu di pulau.” Aku menarik napas. “Acacio, Plution sudah tidak ada.”
Senyumnya, senyum yang selama ini menjadi pintu, menutup perlahan. “Aku tahu,” katanya pelan. “Kabarnya sampai tadi pagi. Elasmus belum tidur sejak itu.” Ia menoleh ke arah lorong yang menurun ke kedalaman. “Ikutlah. Ia sudah menunggumu.”
Laboratorium Elasmus berada di ujung gua yang paling dalam, di sebuah ruangan bundar yang dindingnya dipenuhi rak-rak botol dan gulungan kertas. Lampu-lampu minyak berderet di atas meja panjang, dan udara di sana berbau tajam, campuran antara obat, tanah basah, dan sesuatu yang manis seperti bunga yang membusuk.
Elasmus tidak ada di mejanya.
“Dokter?” panggil Acacio.
“Di sini.”
Suaranya datang dari balik sebuah tabung kaca raksasa di sudut ruangan, setinggi dua orang dewasa. Elasmus melangkah keluar dari baliknya sambil menyeka tangan di jas putihnya yang sudah tak lagi putih. Kacamatanya yang baru sudah tergores di satu sisi. Namun, mataku tidak tertuju kepadanya. Mataku tertuju pada isi tabung itu.
Di dalam cairan merah bening yang berpendar lembut, sebatang akar bercabang mengambang perlahan. Akar itu tidak menyerupai akar tumbuhan mana pun yang pernah kulihat. Warnanya kelabu keperakan, dan setiap kali cairan di sekelilingnya bergerak, cabang-cabangnya ikut menggeliat, seolah sedang bernapas.
“Lifous,” kata Elasmus, mengikuti arah pandanganku. “Akar dari Bukit Lifous, di ujung timur Asterovos. Ia hanya berbunga sekali dalam sepuluh tahun, dan hanya di bawah tanah yang dulu terkena gelombang Invisible Destruction. Para pedagang Acacio butuh empat tahun untuk mendapatkan sebatang.”
“Untuk apa?”
Elasmus tidak segera menjawab. Ia berjalan ke mejanya, menuang teh yang sudah lama dingin ke dalam cangkir, lalu meletakkannya kembali tanpa meminumnya.
“Tiga orang yang selamat dari Plution menceritakan makhluk itu kepada pedagang garam,” katanya. “Tinggi. Pucat. Kuku-kuku hitam panjang. Bergerak lebih cepat daripada mata. Dan,” ia berhenti sejenak, “ia bertambah besar setiap kali makan.” Ia menatapku. “Saya mengenali catatan semacam itu, Darien. Rancangan seperti itu pernah tergeletak di laboratorium saya, sebelum Luxter memerintahkan semuanya dibongkar. Saya menolak mengerjakannya. Rupanya ada orang lain yang tidak menolak.”
“Seperti Gola?” tanyaku.
“Lebih buruk. Gola adalah palu. Makhluk ini adalah pemburu. Ia mengerti perintah. Barangkali, kelak, ia mengerti lebih dari itu.” Elasmus melepas kacamatanya dan memijit pangkal hidungnya, gerakan yang sama dengan yang ia lakukan di ruang pemeriksaan Sangkar, pada hari ia pertama kali menyadari ada yang berbeda denganku. “Dan Plataia tak akan mengirimnya sendirian. Jika Plution hanyalah ujian, maka yang berikutnya adalah perang.”
Ruangan itu menjadi sunyi. Aku bisa mendengar lampu-lampu minyak mendesis.
“Di Eleusina, kau membuka pintu itu,” lanjut Elasmus pelan. “Dan kau kembali, karena seorang gadis memanggil namamu, dan karena ayahmu menarikmu dari dasar air. Tapi, Darien, mereka tak akan selalu ada di sampingmu. Dan saat perang itu tiba, kau tak akan punya waktu untuk tenggelam lalu menunggu diselamatkan.”
“Jadi, Dokter ingin aku membukanya lagi?”
“Saya ingin kau belajar membukanya tanpa kehilangan dirimu.” Elasmus mengetuk kaca tabung itu perlahan. “Sari akar Lifous tidak membangunkan apa pun. Yang ia lakukan hanyalah membuka jalan, menuju tempat di dalam dirimu tempat sesuatu itu tinggal. Para Akila tua di Sangkar dulu menyebutnya Rumah Jiwa, sebelum kata itu dilarang. Di sana, kau akan bertemu dengannya, bukan sebagai penumpang di balik kaca, melainkan berhadap-hadapan.”