Ketika aku keluar dari mulut gua di bawah altar, Eleusina sudah terbakar.
Langit senja berwarna jingga kotor, tercabik garis-garis asap hitam yang membubung dari puluhan titik sekaligus. Pesawat-pesawat Plataia melintas rendah di atas atap, satu demi satu, seperti burung pemakan bangkai yang berputar di atas hewan sekarat. Setiap kali salah satunya lewat, tanah bergetar, dan sebuah rumah lagi runtuh menjadi debu dan api.
Pasar tempat aku pertama kali melihat seorang bocah mencuri kentang sudah tak ada. Kios-kiosnya rata. Kanopi-kanopi kain yang dulu berwarna-warni kini menjadi bendera hitam yang terbakar di ujung tiang.
Di kejauhan, di gerbang timur, aku bisa melihat mereka. Barisan hitam yang mengalir masuk seperti air bah. Seragam yang sama dengan yang pernah kukenakan. Senjata yang sama dengan yang pernah kugenggam. Ribuan Akila.
Kekuatan di dalam diriku bergerak, tenang, menunggu. Untuk pertama kalinya, ia tidak mendesak. Ia hanya bertanya.
Sekarang?
Aku menarik napas panjang. Mengembuskannya. Lalu aku melangkah turun dari tangga kuil, menuju api.
Sementara itu, di atas atap menara jam Eleusina ….
Panglima Anderson tertawa.
Ia berdiri di tepi atap menara jam tertinggi di kota itu, tempat yang ia pilih sendiri karena dari sana seluruh Eleusina terhampar di bawah kakinya seperti peta. Mantel hitam-putihnya berkibar ditiup angin panas. Sebatang rokok terselip di antara jemarinya, sudah lama padam, terlupakan. Ia terlalu sibuk menonton.
Di bawah sana, orang-orang berlarian. Ibu-ibu menggendong anak-anak mereka, para lelaki menyeret orang tua yang tak sanggup lagi berjalan, semuanya berebut menuju arah yang sama, ke kuil, ke satu-satunya tempat yang mereka kira masih aman. Sesekali sebuah rudal jatuh di tengah kerumunan itu, dan jeritan yang menyusul sesudahnya membubung ke langit seperti asap.
Anderson memejamkan mata sejenak, menghirup udara itu dalam-dalam. Bau kayu terbakar. Bau debu. Bau ketakutan.
Ia mengenal bau itu. Ia sudah mengenalnya sejak lama sekali.
“Menjeritlah,” bisiknya, nyaris lembut. Lalu, lebih keras, kepada kota di bawahnya yang tak mungkin mendengar, “Menjeritlah! Menangislah! Sekarang kalian tahu rasanya!”
Di belakangnya, sesuatu yang pucat dan jangkung berdiri di bayang-bayang menara. Percobaan 036 tidak lagi menyerupai makhluk yang dulu meringkuk di tabung kaca. Kulitnya kini kelabu seperti abu, tubuhnya setinggi pintu, dan kuku-kuku hitamnya berkilat seperti batu obsidian yang basah. Plution telah memberinya makan. Ia tumbuh.
“Kau senang sekali, Manusia,” katanya. Suaranya tak lagi tersendat. Setiap kata yang ia ucapkan kini jernih dan dingin, seperti air di dasar sumur.
“Senang?” Anderson tidak menoleh. “Ini bukan senang. Ini pelunasan.”
“Aku tidak mengerti kata itu.”
“Kau tidak perlu mengerti.” Anderson mengibaskan tangannya ke arah kota. “Turunlah. Kota ini milikmu. Sisakan pemimpinnya, yang suka tersenyum itu. Ia milikku.”
Percobaan 036 menatapnya sesaat dengan mata hitam bertitik merah itu. Lalu ia tersenyum, senyum yang sama sabarnya dengan senyum yang pernah ia tujukan kepada Luxter dan Robert di halaman Menara.
“Itu bagian dari perjanjian kita?”
“Itu bagian dari perjanjian kita.”
Makhluk itu melompat dari atap menara tanpa suara. Anderson mendengar bunyi atap-atap genting yang retak di bawah berat tubuhnya, satu, dua, tiga, semakin jauh, menuju jantung kota. Beberapa saat kemudian, jeritan-jeritan dari arah pasar berubah nadanya.