Aku pernah berdiri di barisan seperti itu.
Semakin dekat aku ke gerbang timur, semakin jelas wajah-wajah mereka. Rambut dipangkas pendek. Seragam hitam yang masih kaku karena baru. Akila Own yang digenggam terlalu erat, seperti cara seseorang menggenggam satu-satunya hal yang ia punya. Sebagian besar dari mereka masih sangat muda. Dua puluh tahun, barangkali kurang. Barangkali ini perang pertama mereka, seperti dataran gersang itu dulu adalah perang pertamaku.
Mereka mengalir melewati reruntuhan gerbang yang dulu ditambal Acacio, menginjak papan-papan kayu yang terbakar, dan menyebar ke jalan-jalan Eleusina dengan kerapian yang ditanamkan sejak kecil. Regu demi regu. Barisan demi barisan. Di atas atap, para pemanah Eleusina melepaskan anak panah, tetapi anak panah itu terlalu sedikit dan terlalu lambat.
Aku melangkah ke tengah jalan utama, tepat di hadapan barisan terdepan, dan berhenti.
Pedang ungu itu berpendar di tanganku. Cahayanya memantul di genangan air, di kaca-kaca jendela yang pecah, di laras-laras Akila Own yang kini terangkat ke arahku.
Kekuatan di dadaku bergeser, tenang. Sekarang?
Belum, jawabku. Mereka bukan musuh kita.
“Kau!” Seorang Akila di barisan depan menyipitkan mata. Ia lebih tua dari yang lain, ada bekas luka bakar di lehernya. “Tangan kanan! Tunjukkan nomormu!”
Aku membuka telapak tanganku.
Untuk sesaat, tak seorang pun bergerak. Lalu bisik-bisik menjalar di sepanjang barisan seperti api menjalar di rumput kering. Enam-enam-enam. Yang kabur dari Sangkar. Yang membunuh tiga puluh tiga prajurit di Naulus. Yang menghancurkan guillotine. Aku tak tahu cerita apa yang mereka dengar tentangku di dalam Sangkar. Namun, dari cara beberapa dari mereka mundur setengah langkah, aku tahu cerita itu tidak indah.
“Pengkhianat,” desis Akila berbekas luka itu.
“Aku tidak ingin melawan kalian,” kataku, cukup keras agar terdengar sampai ke barisan belakang. “Pulanglah. Kalian tidak berutang apa pun pada orang-orang yang mengirim kalian ke sini.”
Jawabannya datang dalam bentuk cahaya biru.
Tiga Akila Own menyalak bersamaan. Aku bergerak sebelum tubuhku sempat berpikir, dan kali ini, untuk pertama kalinya, tubuhku dan pikiranku menginginkan hal yang sama. Pedang ungu itu menebas udara, dan tiga semburan cahaya itu terbelah di depanku, memercik ke kiri dan kanan seperti air yang menghantam batu.
Lalu aku berlari ke arah mereka.
Aku tidak mengincar leher. Aku tidak mengincar jantung. Aku mengincar laras. Bilah ungu itu mengiris logam seolah logam itu terbuat dari lilin, dan satu demi satu, Akila Own di tangan mereka patah menjadi dua. Seorang Akila menerjangku dengan pedangnya. Aku menunduk, menyapu kakinya seperti saat aku melatih Alexio di Bukit Montius, dan memukul tengkuknya dengan gagang pedang. Ia roboh tanpa bangun lagi, tetapi dadanya masih naik turun.
Dua jengkal, pikirku. Selalu berhenti dua jengkal.
Aku tidak tahu berapa lama aku bertarung. Langit berubah dari jingga ke ungu, lalu ke hitam. Yang kuingat hanya potongan-potongan. Laras yang patah. Seorang Akila muda yang menjatuhkan senjatanya sendiri dan menatapku dengan mata yang terlalu lebar. Tangan yang terulur ke arahku, bukan untuk menyerang, melainkan untuk menahan jatuh. Wajah-wajah yang kukenal dari lapangan latihan, dari antrean jatah makan, dari petak-petak hutan di Sangkar. Mereka tidak mengenaliku. Aku mengenali mereka semua.
Di salah satu wajah itu, sesaat, aku melihat seringai 341.
Bukan dia. Tentu saja bukan dia. Namun, tanganku berhenti sesaat di udara, dan Akila muda itu sempat lari.
Ketika sebuah suar merah meledak di langit di atas gerbang timur, gelombang hitam itu berhenti. Lalu, perlahan, mundur. Regu demi regu, barisan demi barisan, dengan kerapian yang sama seperti saat mereka datang. Mereka meninggalkan senjata-senjata yang patah, dan beberapa kawan yang terkapar tak sadarkan diri di jalan.
Tak satu pun dari mereka mati di tanganku malam itu.
Aku berdiri di tengah jalan utama dengan napas tersengal, pedang ungu masih berpendar di genggamanku, sementara di belakangku, di sepanjang jalan yang mengarah ke kuil, Eleusina terus terbakar.
“Mereka tidak mundur karena kalah,” kata Acacio. “Mereka mundur karena tidak perlu terburu-buru.”
Kami berkumpul di gudang tua di dasar gua, gudang yang sama tempat Elasmus pertama kali menceritakan sejarah ras kami. Kini, ruangan itu dipenuhi orang-orang yang terluka. Bau darah, keringat, dan minyak lampu bercampur menjadi satu. Di lorong-lorong di luar, penduduk Eleusina duduk berdesakan di atas tikar dan karung-karung gandum. Anak-anak menangis. Seseorang di kejauhan sedang menyanyikan lagu pengantar tidur dengan suara bergetar.
Acacio duduk di atas sebuah peti kayu, perban di perutnya basah kemerahan lagi. Antonius berdiri di sampingnya dengan senapan di bahu. Elasmus sedang menjahit luka di lengan seorang prajurit, kacamatanya melorot hingga ke ujung hidung.
“Pesawat-pesawat mereka berputar di atas kota sepanjang malam,” lapor Antonius. “Pasukan biasa berkemah di alun-alun, di depan kuil. Para Akila menunggu di luar gerbang timur. Mereka mengepung satu-satunya jalan masuk ke sini.”
“Berapa lama kita bisa bertahan?” tanyaku.
“Air ada. Sumber air gua ini tak pernah kering. Gandum cukup untuk seminggu, kalau kita berhemat.” Acacio memandangi dinding batu di atas kami. “Lubang-lubang udara adalah masalahnya. Kalau mereka menemukannya, dan cepat atau lambat mereka akan menemukannya, kita akan tercekik di sini seperti tikus di dalam karung.”
“Kalau begitu, kita keluar dan melawan.”
“Dengan apa?” Suaranya tidak meninggi. Itulah yang membuatnya terdengar mengerikan. “Dua ratus prajurit, separuhnya terluka. Serum merah Pak Tua sudah hampir habis. Dan di atas sana ada ribuan Akila, pasukan biasa, puluhan pesawat, dan makhluk pucat yang memakan Plution dalam satu malam.” Ia menatapku. “Kau sudah melihatnya, kan? Kau bisa menahan Akila di gerbang timur, Darien. Tapi kau tidak bisa berada di dua tempat sekaligus.”
Aku terdiam. Ia benar. Saat aku menahan gerbang timur, separuh kota di belakangku telah jatuh.
“Armada Alexander,” kata Elasmus tanpa mengangkat wajah dari jahitannya. “Seharusnya mereka berlayar hari ini. Satu hari ke pulau. Satu hari kembali ke Eretium. Lalu tiga hari berkuda ke sini.”
“Lima hari,” gumam Antonius. “Kita tidak punya lima hari.”
Lima hari. Aku memejamkan mata, mencoba menghitung jarak di kepalaku seperti dulu Alexio menghitungnya dari peta kulit kambing milik Umba. Eretium di pesisir. Eleusina di sini. Gurun Xino di selatan. Dan di tepi utara gurun itu, di bawah sebuah bukit rendah yang dipenuhi reruntuhan beton ….
“Thomas,” kataku.
Semua kepala menoleh ke arahku.
“Helikopter-helikopter Thomas. Yang membawa kalian ke Plataia waktu itu.” Aku berdiri. “Aku bisa terbang ke kota bawah tanah malam ini. Dengan rocket float, aku sampai sebelum fajar. Kalau Thomas setuju, helikopter-helikopter itu bisa menjemput orang-orang pulau di Eretium dan membawa mereka ke sini. Bukan lima hari. Dua, mungkin tiga.”
“Hider mereka,” kata Elasmus pelan. “Sudah berminggu-minggu sejak terakhir dipakai. Mungkin sudah terisi, mungkin belum.”
“Kalau begitu, kami terbang tanpa hider.”
“Dan siapa yang akan menahan gerbang timur saat kau pergi?” Acacio menatapku lama. “Kau tahu apa yang akan terjadi begitu mereka tahu kau tidak ada?”
Aku tahu. Itu sebabnya aku tak sanggup menjawab.
Acacio memejamkan mata. Ketika ia membukanya lagi, senyum itu kembali, senyum yang dulu kusangka dinding, dan yang kini kutahu adalah pintu. “Pergilah,” katanya.
“Tapi ….”
“Pergilah, Anak Bodoh. Dua puluh tahun aku menggali lubang ini. Aku tahu cara bersembunyi di dalamnya. Tiga hari.” Ia mengangkat tiga jari yang gemetar. “Kami akan bertahan tiga hari. Kau pulanglah membawa sesuatu yang lebih besar daripada dirimu sendiri.”
Antonius mengantarku sampai ke mulut gua di bawah altar. Di atas sana, cahaya api dari kota yang terbakar menembus celah-celah batu dan mewarnai wajahnya merah.
“Dua tahun aku berdiri di dalam Menara,” katanya pelan, “menunggu saat yang tepat untuk berbalik. Aku tahu rasanya menunggu.” Ia menepuk bahuku sekali. “Tiga hari, Darien. Jangan terlambat.”
Aku mengangguk. Lalu aku menyelinap keluar ke dalam gelap, menuju hutan di sisi barat tempat rocket float itu kusembunyikan, dan terbang ke selatan tanpa menoleh.