Last Affection: Burung dalam Sangkar (Buku 1)

Marion Drossi
Chapter #32

Sang Dewa yang Terlahir Kembali

Sementara itu, di alun-alun Eleusina ….

“Jaga jarak dari makhluk itu!” teriak Julio. “Jangan biarkan ia menyentuh kalian!”

Para penghuni pulau mundur perlahan, membentuk lingkaran longgar dengan tombak terarah ke dalam. Tak seorang pun berani maju. Di tengah lingkaran itu, Percobaan 036 berdiri dengan tenang di bawah guyuran hujan, menjilati setetes darah dari sela-sela kukunya yang panjang dan hitam berkilat.

“Kenapa?” tanyanya. Kepalanya miring sedikit, seperti burung yang memperhatikan cacing. “Kalian takut?”

Alexio mengencangkan genggamannya pada pedang setengah patah itu. “Makhluk itu benar-benar iblis,” desisnya.

“Bukan iblis.” Julio melangkah maju, keluar dari lingkaran. Ia menyampirkan busur bambunya ke punggung dan memungut sebilah pedang dari tangan seorang prajurit Plataia yang sudah tak bernyawa. “Hanya sesuatu yang diciptakan oleh orang-orang yang sama dengan yang menciptakan kita.”

“Julio ….”

“Bawa yang terluka ke belakang, Alexio.” Julio tidak menoleh. “Aku yang akan melawannya.”

Percobaan 036 tertawa. Tawanya jernih, hampir merdu, dan sama sekali tidak cocok dengan tubuh yang mengeluarkannya. “Kau menarik, Manusia. Biasanya mereka lari.”

“Aku sudah terlalu tua untuk lari.”

Makhluk itu lenyap.

Julio tidak berbalik. Ia memiringkan tubuhnya sedikit ke kiri, dan sesuatu yang tak terlihat melesat melewati telinganya, cukup dekat hingga beberapa helai rambutnya yang beruban terpotong dan jatuh ke genangan air. Ketika Percobaan 036 muncul kembali beberapa langkah darinya, ada segaris luka tipis di lengan Julio. Darah merembes, bercampur hujan.

“Hm.” Makhluk itu memandangi kukunya, lalu memandangi Julio. “Kau melihatku.”

“Aku tidak melihatmu.” Julio mengikat lengannya dengan sobekan jubah. “Aku mendengarmu. Kau terlalu senang. Orang yang terlalu senang selalu berisik.”

Percobaan 036 menghilang lagi. Kali ini, ia tidak mengincar Julio. Ia mengincar lingkaran di belakangnya. Tiga penghuni pulau roboh sebelum sempat berteriak, dan lingkaran itu pecah.

“Berpencar!” Alexio berteriak, menyeret seorang perempuan bermata biru yang terluka ke balik reruntuhan kios. “Berpencar! Jangan berkumpul di satu tempat!”

Julio memejamkan mata.

Di dalam kegelapan di balik kelopak matanya, alun-alun itu berubah menjadi suara. Derap hujan di atas batu. Desah napas orang-orang yang ketakutan. Erangan mereka yang terluka. Dan di antara semua itu, sebuah desis halus yang berputar, berputar, mencari celah, seperti angin yang mencari pintu yang lupa dikunci.

Ia tidak benar-benar menghilang, pikir Julio. Ia hanya terlalu cepat untuk mata.

Desis itu berhenti berputar. Lalu datang dari belakang.

Julio berbalik dan mengayunkan tinjunya.

Pukulan itu mendarat tepat di wajah Percobaan 036. Bunyinya seperti batu menghantam batu. Makhluk itu terpental, berguling-guling di atas genangan air, dan terempas ke tangga kuil hingga salah satu anak tangganya retak.

Hening sejenak. Lalu makhluk itu bangkit perlahan, memegangi rahangnya yang bergeser. Ia menggerakkannya ke kiri dan ke kanan. Terdengar bunyi berderak. Rahangnya kembali ke tempatnya.

“Itu,” katanya, dan untuk pertama kalinya suaranya tidak terdengar senang, “sakit.”

“Bagus,” kata Julio.

“Julio!” teriak Alexio dari balik reruntuhan. “Lihat lukanya! Lukamu tidak menutup!”

Julio menunduk. Luka tipis di lengannya, yang semestinya sudah menutup dalam hitungan detik, masih terbuka. Tepinya menghitam, dan garis-garis hitam samar mulai menjalar di bawah kulitnya seperti akar.

“Sama dengan di Eleusina waktu itu,” Alexio terengah. “Sama dengan racun Gola. Semua yang terluka olehnya tidak bisa sembuh!”

Lihat selengkapnya