Sementara itu, di puncak Menara Plataia ….
“Robert. Sudah waktunya.”
Uap mengepul dari kolam pemandian air panas itu, menyelimuti dinding-dinding marmer putih dan kaca-kaca tinggi yang menghadap ke seluruh Kota Plataia. Dari ketinggian ini, menara-menara perak di bawahnya tampak seperti mainan. Jauh di utara, samar di balik kabut sore, hamparan hijau Sangkar terbentang seperti permadani yang diletakkan di lantai.
Robert tidak segera menjawab. Ia bersandar di dinding kolam, matanya terpejam, napasnya begitu teratur hingga dadanya nyaris tak bergerak. Di balik jubah merah yang biasa ia kenakan, orang-orang hanya melihat lelaki ramping berusia empat puluhan dengan rambut dan kumis pirang yang tersisir rapi. Namun, di dalam kolam itu, tanpa jubah, tubuhnya adalah sesuatu yang lain. Otot-otot yang padat tanpa sedikit pun lemak, bekas-bekas luka bakar lama yang memudar di bahu dan punggungnya, dan urat-urat yang menyembul seperti akar di bawah kulit.
Di kursi berlapis beludru di tepi kolam, Luxter duduk dengan segelas anggur di satu tangan dan sebatang rokok di tangan lainnya. Ia terbatuk sesekali, batuk kering yang panjang, dan setiap kali selesai, ia menyeka bibirnya dengan sapu tangan putih, lalu melipatnya sebelum siapa pun sempat melihat warnanya.
“Anderson akan kalah,” kata Robert akhirnya, tanpa membuka mata.
“Kau yakin?”
“Ia terlalu ingin dilihat. Orang yang terlalu ingin dilihat selalu lupa melihat.”
Luxter terkekeh, lalu terbatuk lagi. “Kalau begitu, tidak ada pilihan lain. Anderson dan mainannya tidak cukup kuat untuk anak itu. Tapi kau,” ia mengangkat gelasnya ke arah kolam, “kau tidak butuh satu prajurit pun.”
Robert membuka mata. Ia menatap langit-langit kaca di atasnya, tempat uap air mengembun dan menetes perlahan, dan untuk sesaat, pandangannya menerawang jauh.
Ia teringat pasir. Pasir yang panas, merah, dan tak berujung. Seorang remaja tergeletak di atasnya, kulitnya melepuh, rambut panjangnya kusut oleh debu, wajahnya nyaris tak bisa dikenali. Ia ingat mencoba bangkit dan gagal. Ia ingat bayangan beberapa orang berjubah merah yang menghalangi matahari. Ia ingat suara seorang lelaki muda yang berkata, “Yang ini masih hidup. Lihat matanya.”
“Kau mengingatnya lagi?” tanya Luxter.
“Seperti biasa.”
Robert bangkit dari kolam. Air mengalir dari tubuhnya, menetes ke lantai marmer. Ia meraih handuk putih dari atas meja dan menyeka wajahnya. Ketika ia menurunkan handuk itu, matanya yang biru pucat, biru yang sama dengan mata para penghuni pulau, dengan mata Julio, dengan mata Darien, memantul di permukaan kaca jendela.
Selama dua puluh lima tahun, tak seorang pun di luar menara ini tahu warna mata itu. Di hadapan orang lain, Robert selalu mengenakan kacamata berlensa gelap. Para pelayan menyebutnya kebiasaan seorang bangsawan. Para Tuan Besar tahu lebih baik dan memilih untuk tidak bertanya.
“Ingat, Robert. Kau adalah kartu as kota ini.” Luxter bangkit perlahan dari kursinya, bertumpu pada tongkat berkepala perak. “Akila pertama yang kami temukan yang mampu menguasai sisi lainnya. Darah murni Sangkar, dengan kendali yang tak dimiliki satu pun Akila di sana. Kami membesarkanmu di keluarga terbaik di Plataia. Kami memberimu nama.”
“Nama kakakku,” kata Robert datar. “Separuhnya.”
“Robertinus menyayangimu.”
“Robertinus membenciku. Ia membenci siapa pun yang lebih kuat darinya.” Robert mengenakan kembali seragam merahnya, mengancingkannya satu per satu dengan gerakan yang tenang dan teliti. “Itulah sebabnya ia begitu membenci 665. Dulu, sebelum aku, ada catatan bahwa lelaki itu mungkin sepertiku. Kakakku tidak tahan membayangkan ada dua.”
Luxter tidak membantahnya. “Dan sekarang ia sudah mati,” katanya. “Dibunuh oleh anak 665.”
“Ya.” Tak ada apa pun di wajah Robert saat mengatakannya. Tak ada duka. Tak ada amarah. “Ia selalu terlalu banyak bicara.”
Di sudut ruangan, seorang dokter berjas putih sudah menunggu dengan tas peralatannya. Robert berbaring di ranjang periksa tanpa disuruh. Dokter itu memasang manset di lengannya, menempelkan lempengan-lempengan logam dingin di dada dan pelipisnya, lalu memandangi monitor yang berkedip-kedip di samping ranjang. Semuanya normal. Selalu normal.
“Kau pernah menyebut dirimu apa?” tanya Luxter, mengamati angka-angka di layar. “Saat kita berbicara minggu lalu.”
“Antagonis.” Robert menatap langit-langit. “Di setiap kisah, harus ada pahlawan dan penjahat. Anak itu sudah memilih perannya. Ia membebaskan kota, menyatukan musuh, menyelamatkan orang-orang tua dari guillotine. Para penulis sejarah akan mencintainya.” Bibirnya melengkung sedikit. “Jadi aku yang tersisa.”
“Pahlawan dan penjahat itu hanya soal siapa yang memegang pena, Robert.” Luxter menepuk bahunya. “Di buku-buku Plataia, kau akan menjadi pahlawan.”
“Kalau aku menang.”
“Kau akan menang.”
Dokter itu melepaskan lempengan-lempengan logam dari tubuh Robert dan mundur dengan kepala tertunduk. Robert duduk, meregangkan lehernya ke kiri dan ke kanan. Terdengar bunyi berderak pelan.
“Plataia dulu kota kecil, Robert,” kata Luxter sambil berjalan ke jendela, tongkatnya mengetuk-ngetuk lantai. Suaranya berubah, seperti seorang guru yang mengulang pelajaran yang sudah ia ajarkan ratusan kali. “Kota yang bahkan tak sanggup membuat pompa air sendiri. Lalu seorang profesor lahir di sini, dan ia menciptakan sesuatu yang mengubah segalanya. Gelombang yang tak terlihat. Dalam satu musim, seratus negeri runtuh, dan hanya Plataia yang tetap berdiri.” Ia memandangi kota di bawahnya. “Para pendiri menulis satu ketetapan: tak boleh ada kota lain yang berdiri setinggi kita. Tak boleh ada mesin selain milik kita. Tak boleh ada senjata selain senjata kita. Ketetapan itu tak boleh diubah oleh pemimpin mana pun setelah mereka. Selama kita menjaganya, Plataia akan abadi.”
“Dan kalau ketetapan itu diubah?”
“Maka kita akan menjadi seperti mereka.” Luxter menunjuk ke arah selatan, ke kota-kota yang tak terlihat di balik cakrawala. “Kecil. Lapar. Menunggu seseorang datang untuk menyelamatkan kita.”
Robert berdiri dan menghampiri jendela. Mereka berdiri berdampingan, dua lelaki berambut pirang yang menatap kota yang sama. Luxter, yang tubuhnya semakin bungkuk setiap tahun, yang batuknya semakin panjang setiap malam. Dan Robert, tegak, tenang, dua puluh tahun lebih muda.