Lelaki itu melompat turun sebelum baling-baling helikopter berhenti berputar.
Ia mendarat beberapa langkah di hadapanku, ringan, nyaris tanpa suara, seolah tubuhnya tak memiliki berat. Seragam merahnya bersih tanpa noda, rambut dan kumis pirangnya tersisir rapi, dan sepasang kacamata berlensa gelap menutupi matanya. Ia tidak membawa senjata. Ia tidak membutuhkannya. Aku tahu itu dari cara kekuatan di dadaku menegang, dari cara ia berdiri di tengah alun-alun yang dipenuhi mayat seolah sedang menunggu seseorang di taman.
Ia memandangiku dari ujung kaki hingga ujung kepala, lama, teliti, layaknya seorang pedagang yang menimbang kuda.
“Jadi, kau orangnya,” katanya. Suaranya tenang dan ramah. “Lebih kurus daripada yang kubayangkan.”
“Siapa kau?”
“Aku?” Ia tersenyum. “Aku hanya pemeran antagonis dalam kisah ini. Dan kau, kurasa, pahlawannya.”
“Aku tidak mengerti maksudmu.” Aku mengangkat pedangku sedikit. “Tapi kau datang dari Plataia. Itu cukup.”
“Ayolah, jangan terburu-buru.” Ia mengangkat kedua tangannya, seakan menenangkan seekor anjing yang menggeram. “Kita belum berkenalan. Sopan santun, 666. Di kota yang beradab, kita saling menyebut nama sebelum saling membunuh.”
Aku menatapnya lama. Lalu, perlahan, aku menurunkan pedangku. Cahaya ungunya meredup, tetapi tidak padam.
“Darien,” kataku.
“Darien.” Ia mengulang nama itu seolah sedang mencicipinya. “Nama yang bagus. Lebih bagus daripada nomor. Aku Robert. Wakil pemimpin Kota Plataia.” Ia berhenti sejenak. “Dan adik dari lelaki yang kau bunuh di depan kuil itu.”
Kekuatan di dadaku bergeser. Aku merasakan lantai di bawah kakiku seakan miring.
“Robertinus,” bisikku.
“Bukan adik sedarah. Jangan khawatir.” Robert mengibaskan tangannya. “Keluarganya memungutku saat aku masih remaja. Kakakku tidak pernah benar-benar menyukaiku, dan aku tidak pernah benar-benar berduka untuknya. Tapi tetap saja.” Ia melepas kacamata gelapnya, melipatnya dengan hati-hati, dan menyelipkannya ke saku seragamnya. “Ada urusan keluarga yang harus diselesaikan.”
Lalu ia mengangkat wajahnya, dan aku melihat matanya.
Biru.
Biru pucat yang sama dengan mata ayahku. Dengan mata ibuku. Dengan mata Neptuno, Kaelos, dan tiga ribu orang di pulau di ujung laut selatan. Dengan mataku sendiri, setiap kali aku menunduk ke permukaan air.
“Kau ….”
“Ya.” Robert membuka kancing seragam merahnya satu per satu, melepaskannya, lalu melemparkannya ke genangan air di samping kakinya. Di balik seragam itu, tubuhnya adalah sesuatu yang membuat para penghuni pulau di belakangku mundur selangkah. Otot-otot yang padat, bekas-bekas luka bakar lama yang memudar, dan urat-urat yang berdenyut pelan di bawah kulit, seakan sesuatu di dalamnya sedang bangun. “Aku seorang Akila, Darien. Sama sepertimu.”
“Kalau begitu, kenapa?” Suaraku pecah. “Kenapa kau berdiri di pihak mereka? Mereka mengurung kita! Mereka memberi kita nomor! Mereka menenggelamkan anak-anak bermata biru di laut, anak-anak seperti kita, seperti kau!”
“Hukum alam.” Ia mengangkat bahu. “Yang lemah dikorbankan untuk yang kuat. Begitulah dunia bekerja jauh sebelum Plataia, dan begitulah dunia akan bekerja jauh setelahnya.”
“Yang kuat seharusnya melindungi yang lemah!”
“Oh?” Robert menelengkan kepalanya. “Seperti yang kau lakukan di Bukit Naulus?”
Aku membeku.
“Tiga puluh tiga prajurit,” lanjutnya. Suaranya masih tenang, masih ramah, dan justru itulah yang membuat setiap katanya terasa seperti pisau. “Kami menemukan mereka dua hari kemudian. Kau tahu apa yang dikatakan para prajurit yang mengangkat jasad-jasad itu? Mereka bilang, tak ada manusia yang bisa melakukannya. Mereka bilang, itu perbuatan binatang.” Ia melangkah satu langkah lebih dekat. “Lalu ada kakakku. Di depan kuil itu. Di depan anak-anak kota ini. Kau ingat bunyinya, Darien? Aku diberi tahu bunyinya cukup keras.”
Aku ingat.
Aku ingat semuanya. Ingatan-ingatan yang terpotong-potong di Naulus, yang tak pernah utuh, kini tersusun kembali satu per satu di kepalaku. Bunyi tulang. Teriakan yang terputus. Tatapan Achila yang ketakutan, tatapan yang sama dengan yang ia tunjukkan di menara kota mati, malam pertama setelah aku membunuh untuk melindunginya. Dan di depan kuil ini, bunyi yang dimaksud Robert. Aku menyaksikannya dari balik kaca yang kotor, dan sebagian dari diriku merasa puas.
Lututku gemetar.
“Ya,” kata Robert lembut. “Begitu. Kita bukan manusia, Darien. Kita tidak pernah menjadi manusia. Lihat sekelilingmu.” Ia merentangkan tangannya ke arah alun-alun. “Lihat cara mereka menatapmu. Bahkan orang-orang yang kau selamatkan pun takut kepadamu. Mereka melihat cahaya ungumu itu, dan yang mereka pikirkan bukan ‘pahlawan’. Yang mereka pikirkan adalah, ‘Bagaimana kalau suatu hari ia berbalik ke arah kami?’”
Aku tidak ingin melihat. Namun, aku melihat.
Di sekeliling alun-alun, orang-orang Eleusina yang mulai keluar dari gua berdiri di kejauhan, merapat ke dinding-dinding yang hangus. Seorang ibu menarik anaknya ke belakang punggung saat mataku bertemu matanya. Seorang lelaki tua menunduk. Seorang penghuni pulau, salah satu yang tadi bertarung di samping ayahku, memalingkan wajah.
Kakiku menyerah. Aku jatuh berlutut di atas batu-batu yang basah.
“Renungkanlah,” kata Robert. Ia sudah berdiri tepat di hadapanku. “Kau ingin mendamaikan dunia? Dunia yang mana, Darien? Dunia yang akan selalu takut kepadamu? Kau pikir manusia akan membiarkan sesuatu sepertimu ….”
“DARIEN!”
Suara itu datang dari arah gerbang timur, dan aku mengenalnya lebih baik daripada suaraku sendiri.