Aku tidak bisa bergerak.
Lengan Robert mengencang di leher Achila, perlahan, seakan ia ingin aku menyaksikan setiap tarikan napas yang direnggutnya. Achila meronta. Tangannya mencakar lengan itu, kakinya menendang-nendang udara, tetapi Robert hanya berdiri di sana, tenang, menatapku dengan mata biru yang sama dengan mataku.
“Ayo, Darien,” katanya lembut. “Berdirilah. Tunjukkan padaku apa yang tinggal di balik pintumu.”
Kekuatan di dadaku berdiri di sampingku. Ia tidak bertanya lagi. Ia hanya menunggu, dan aku tahu, jika aku memintanya sekarang, ia akan datang. Ia akan datang dengan seluruh amarah yang pernah kubiarkan menumpuk di dasar diriku, dan Robert akan mati, dan barangkali Achila akan selamat.
Lalu apa?
Lalu orang-orang di dinding-dinding yang hangus itu akan melihat apa yang dikatakan Robert. Seekor binatang yang membunuh demi apa yang diinginkannya. Seekor binatang yang suatu hari, cepat atau lambat, akan berbalik ke arah mereka.
Achila tersedak. Wajahnya mulai memerah.
Lakukan sesuatu, pikirku. Lakukan sesuatu, lakukan sesuatu, lakukan ….
“Kita bertemu lagi, Robert.”
Suara itu datang dari belakangku. Serak, berat, nyaris tak lebih keras dari bisikan. Namun, Robert mendengarnya. Lengannya yang melingkari leher Achila mengendur sedikit, dan senyumnya menghilang.
Aku menoleh.
Ayahku berdiri di tangga kuil. Ia bertelanjang dada, dan perban putih yang dililitkan Elasmus di lengan dan dadanya sudah merah di beberapa tempat. Garis-garis hitam masih tampak di bawah kulitnya, tetapi tidak lagi menjalar. Mereka memudar, perlahan, seperti tinta yang dibilas hujan. Racun itu kehilangan tuannya, pikirku. Tak ada lagi yang memberinya makan.
Di tangannya ada busur bambu itu. Sebatang anak panah sudah terpasang pada talinya.
“Lepaskan gadis itu,” katanya.
Robert menatapnya lama. Lalu ia tertawa kecil, tawa yang tak sampai ke matanya. “665,” katanya. “Kupikir kau sudah mati di danau itu, tiga belas tahun lalu.”
“Kau selalu terlalu cepat berpikir.”
Anak panah itu melesat.
Robert memiringkan kepalanya, dan anak panah itu melintas sejari dari pelipisnya. Namun, gerakan kecil itu cukup. Julio sudah tidak ada di tangga kuil. Ia sudah berada di hadapan Robert, lebih cepat daripada yang bisa kuikuti, dan tinjunya mendarat di wajah lelaki itu dengan bunyi seperti batu dibelah.
Robert terhuyung. Lengannya terlepas dari leher Achila.
Achila jatuh berlutut, terbatuk-batuk, lalu bangkit dan berlari. Ke arahku. Ia menabrakku begitu keras hingga kami berdua hampir terjengkang, dan lengannya melingkari leherku, gemetar, erat, seakan ia takut aku akan menghilang jika ia melepaskanku.
“Aku di sini,” bisikku. Hanya itu yang bisa kukatakan. “Aku di sini.”
Di belakangnya, Robert menyeka darah yang mengalir dari hidungnya dengan punggung tangan. Ia memandangi darah itu sejenak, lalu memandangi Julio.
“Masih sama seperti dulu,” katanya. “Tanganmu masih lebih cepat daripada kepalamu.”
“Dan kau masih sama.” Julio memasang kuda-kuda. Lututnya sedikit gemetar, dan aku tahu ia belum pulih. Ia jauh dari pulih. “Masih bersembunyi di balik sesuatu yang bukan milikmu.”
“Kau ingin melihatnya lagi?” Robert tersenyum. “Baiklah. Untuk kenangan lama.”
Tiga belas tahun sebelumnya, di Kota Marius ….
Kota Marius berdiri di tepi sebuah danau di barat daya Asterovos, dan sebelum musim kemarau tahun itu, orang-orang menyebutnya kota yang paling tenang di dunia. Rumah-rumahnya terbuat dari kayu dan batu sungai. Perahu-perahu kecil berjajar di dermaganya. Anak-anak berenang di tepi danau setiap sore, dan para nelayan pulang dengan jala yang penuh.
Lalu kota itu menolak membayar upeti.
Bukan karena mereka berani. Mereka hanya tidak sanggup. Kemarau telah mengeringkan separuh danau, dan ikan-ikan yang tersisa tak cukup untuk memberi makan penduduknya sendiri. Para tetua kota menulis surat permohonan ke Plataia. Mereka meminta keringanan. Satu musim saja.
Plataia menjawab dengan api.
“Sembunyilah di bawah ranjang, Sayang.” Riesa berlutut di hadapan putrinya dan menyibakkan rambut gadis kecil itu dari wajahnya. Ia berambut pirang bergelombang, dengan tahi lalat kecil di bawah sudut bibir kanannya. “Jangan keluar, apa pun yang kau dengar. Ibu akan membantu Ayah di luar. Sebentar saja.”
Gadis kecil itu, Achila, mengangguk. Ia berumur tujuh tahun. Ia memeluk boneka kain lusuhnya erat-erat, merangkak ke bawah ranjang orang tuanya, dan menutup telinga dengan kedua tangan.
Itu tidak membantu.
Di luar, dunia meledak. Pesawat-pesawat berlambang menara bersayap menukik di atas danau. Rumah-rumah kayu terbakar satu demi satu. Para nelayan, yang tak pernah memegang senjata apa pun selain tombak ikan, berlarian di jalan-jalan sempit dengan senapan-senapan tua yang dibagikan para tetua pagi itu.
Acius, ayah Achila, salah satunya. Ia berdiri di depan rumahnya dengan sepucuk senapan berburu, menembaki para prajurit berseragam hitam-putih yang merangsek dari arah dermaga. Ia bukan prajurit. Ia hanya seorang pembuat perahu. Namun, malam itu, ia menembak seperti seseorang yang tahu tak ada lagi yang tersisa untuk dipertaruhkan.
Sebuah granat menggelinding di jalan berbatu. Berhenti di depan pintu rumahnya.
Pintu itu terbuka. Riesa melangkah keluar.