Sementara itu, di jalan berdebu antara Eretium dan Eleusina ….
Truk-truk itu meraung seperti binatang yang sekarat.
Ada enam jumlahnya, berderet di atas jalan tanah yang membelah padang-padang kering di utara Dystychía. Badannya tambal sulam dari pelat-pelat besi dunia lama, roda-rodanya berlainan ukuran, dan asap hitam menyembur dari pipa-pipa knalpotnya setiap kali jalan menanjak. Truk-truk lapis baja dari kota bawah tanah. Roxy membawanya keluar dari gua di bawah bukit Xino dua hari lalu, begitu pesan Thomas tiba lewat radio helikopter, dan menyetir tanpa henti hingga tiba di gerbang selatan Eretium tepat ketika lonceng kuil berdentang pagi tadi.
“Kalian beruntung,” kata Roxy saat itu, kacamata pelindungnya berdebu tebal. “Thomas bilang, kalau aku terlambat setengah hari saja, tak akan ada lagi kota yang perlu kalian selamatkan.”
Kini, di bak truk paling depan, Alexander berpegangan pada sisi besi yang berguncang, zirahnya yang sempit berdenting setiap kali roda menghantam lubang. Di sampingnya, Aconteus memejamkan mata, bibirnya bergerak pelan. Di belakang mereka, berdesak-desakan, para nelayan dan petani Eretium duduk di atas karung-karung gandum dan peti-peti tombak, wajah mereka pucat oleh debu dan sesuatu yang lebih dari debu.
“Asap,” kata seseorang. “Di sana. Lihat!”
Di cakrawala barat laut, di balik bukit-bukit rendah, sebuah tiang asap hitam membubung ke langit. Lalu dua. Lalu lima. Dan di antaranya, kecil seperti kawanan lalat, bayang-bayang pesawat-pesawat yang berputar-putar.
Tak seorang pun berbicara lagi.
Alexander mengetuk atap kabin truk dua kali. “Lebih cepat, Nona!”
Dari balik kemudi, Roxy berteriak sesuatu yang tak terdengar di antara raungan mesin. Namun, truk itu melaju lebih cepat.
Ayahku sudah tak bisa berdiri.
Ia berlutut di tengah alun-alun, satu tangannya menyangga tubuhnya di atas batu yang basah, napasnya pendek-pendek dan berbunyi. Busur bambunya sudah patah menjadi dua di dekat kakinya. Robert berdiri beberapa langkah darinya, pedang perak itu terkulai di sisi tubuhnya, tenang, seperti seseorang yang sedang menunggu orang lain selesai berdoa.
“Cukup, 665,” katanya. “Kau sudah memberinya waktu. Ia tidak menggunakannya.”
Ayahku mengangkat wajahnya. Darah mengalir dari pelipisnya. “Kau,” katanya terengah, “harus melangkahi mayatku dulu.”
“Itu bisa diatur.”
Lalu, dari arah gerbang timur, terdengar raungan mesin.
Robert menoleh. Aku menoleh. Semua orang di alun-alun itu menoleh, dan di sana, menembus asap dan debu, enam truk lapis baja tambal sulam merangsek masuk melalui gerbang yang sudah hancur, menabrak puing, meremukkan kios-kios yang hangus. Truk paling depan berhenti dengan rem yang menjerit, dan dari baknya, seorang lelaki bertubuh besar dengan zirah yang terlalu sempit melompat turun dan nyaris terjatuh.
Alexander.
Di belakangnya, Aconteus turun dengan pedang tua terhunus. Lalu para nelayan. Lalu para petani. Lalu si pemilik penginapan dari Byzantium, dengan kumis tipisnya dan tombak yang terlalu panjang untuknya. Mereka berhamburan dari truk-truk itu, puluhan, ratusan, dan berdiri di tepi alun-alun, terengah, memandangi kota yang terbakar dan lelaki bertubuh hitam berkilat dengan pedang perak di tengahnya.
Untuk sesaat, tak seorang pun bergerak.
Lalu Alexander melihatku. Ia melihat aku berlutut di sana, di tengah abu, dengan Achila di sampingku. Wajahnya berubah. Aku tak bisa membacanya. Aku hanya tahu bahwa ia menarik napas panjang, sangat panjang, lalu mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
“ERETIUM!” teriaknya. “Sebagian dari kalian, bawa yang terluka ke kuil! Sisanya, ikut aku!”
Mereka menyerbu.
Aku ingin berteriak, jangan. Aku ingin berteriak, kalian tidak tahu apa yang kalian lawan. Namun, suaraku tidak keluar.
Robert memandangi gelombang manusia yang datang ke arahnya dengan tatapan bosan. Ia mengangkat pedang peraknya, mengayunkannya sekali dari kanan ke kiri, dan udara di depannya terbelah. Embusan angin yang tajam seperti pisau menyapu barisan terdepan. Puluhan orang terlempar ke belakang, menghantam batu, menghantam satu sama lain. Sebagian bangkit lagi. Sebagian tidak.
Barisan kedua tetap datang.
Sementara itu, di tangga kuil Para Dewa ….
“Mereka akan mati semua,” kata Alexio.