Last Affection: Burung dalam Sangkar (Buku 1)

Marion Drossi
Chapter #37

Malaikat Pembawa Berkah

Ayahku masih berlutut di tengah alun-alun ketika aku melangkah melewatinya.

Tubuhnya dipenuhi sayatan. Busur bambunya patah dua di sampingnya, dan napasnya berat, tersendat-sendat. Namun, ketika ia mendongak dan melihat cahaya di punggungku, ia tersenyum, senyum yang sama dengan yang ia tunjukkan di gua bawah kuil pada pagi aku kembali.

“Kau sudah besar, Nak,” bisiknya.

Aku menyentuh bahunya sekilas. Hanya itu yang sempat kulakukan. Lalu aku terus berjalan.

Cahaya ungu itu tidak lagi hanya ada di pedangku. Ia merambat di sepanjang lenganku, naik ke bahu, lalu merentang di belakang punggungku seperti dua bentangan kabut yang berpendar. Aku tidak tahu harus menyebutnya apa. Sayap, barangkali. Ia tidak berbulu, tidak bertulang, tetapi setiap kali aku menarik napas, ia ikut mengembang, dan setiap kali aku mengembuskannya, aku merasakan angin di bawahnya, seakan udara itu sendiri bersedia menopangku.

Kekuatan di dadaku berjalan di sampingku. Ia tidak lagi menunggu di balik pintu. Ia tidak lagi bertanya sekarang? Kami tidak lagi dua, dan untuk pertama kalinya, itu tidak membuatku takut.

Robert memperhatikanku dari seberang alun-alun. Kulitnya masih hitam berkilat seperti obsidian, matanya masih hitam pekat, dan pedang peraknya masih berpendar dingin seperti cahaya bulan. Namun, untuk sesaat, aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat di wajahnya sejak ia turun dari helikopter putih itu.

Ia ragu.

“Menarik,” katanya akhirnya. “Seorang Akila hanya punya satu sisi lain. Begitulah yang tertulis di setiap catatan di Menara. Aku sudah membaca semuanya.” Ia memiringkan kepalanya. “Apa itu, Darien?”

“Aku tidak tahu,” jawabku jujur. “Mungkin catatan-catatan itu ditulis oleh orang-orang yang tidak pernah bertanya.”

“Jangan sombong.” Senyumnya kembali, tetapi tidak setenang tadi. “Ganti saja bulumu sesukamu. Hatimu tetap sama. Kau sudah mendengar sendiri apa yang dikatakan orang-orang itu. Mereka menyebutmu iblis.”

“Mungkin mereka benar.” Aku berhenti beberapa langkah di hadapannya. “Mungkin ada iblis di dalam diriku. Ada di dalam dirimu juga. Di dalam diri ayahku. Di dalam diri semua Akila yang pernah dikurung di Sangkar.” Aku mengangkat pedangku. “Bedanya, aku sudah berhenti bertanya siapa aku. Aku hanya memilih apa yang akan kulakukan.”

Robert menatapku lama. Lalu ia tertawa, pelan, nyaris lembut.

“Kalau begitu,” katanya, “mari kita lihat seberapa kuat pilihanmu itu.”

 

Ia bergerak lebih dulu.

Pedang peraknya terangkat ke langit, dan angin di sekeliling alun-alun berbalik arah. Abu yang tadi turun seperti salju kelabu terhisap ke atas, berputar, menggumpal menjadi awan hitam yang berdenyut di atas kepala kami. Kilat menyambar di dalamnya. Sekali. Dua kali. Setiap sambaran lebih dekat daripada sebelumnya.

Aku menarik napas. Mengembuskannya. Seperti yang diajarkan, dulu, di lapangan tanah merah. Dan kini, kata-kata itu terasa milikku sendiri.

Robert mengayunkan pedangnya ke bawah.

Kilat itu jatuh tepat di tempatku berdiri. Batu-batu alun-alun meledak menjadi serpihan, dan cahaya putihnya begitu terang hingga untuk sesaat, seluruh Eleusina kehilangan bayangannya.

Namun, aku sudah tidak ada di sana.

Sayap itu mengembang sebelum aku sempat memerintahkannya, dan dalam satu kepakan, aku sudah melesat ke atas, menembus awan hitam itu. Di dalamnya dingin dan basah, penuh desis listrik yang menggigit kulit. Aku memutar pedangku sekali, lebar, dan cahaya ungunya membelah gumpalan itu dari dalam. Awan itu terurai seperti kain yang dirobek. Di atasnya, langit pagi masih ada, pucat dan biru, menungguku.

Di bawah, aku melihat Robert mendongak.

Aku menukik.

Ia tidak menghindar. Ia melompat menyambutku, dan angin berputar di bawah kakinya, mengangkat tubuhnya ke udara. Ia tidak bersayap. Ia tidak membutuhkannya. Ia memerintah angin seperti seorang raja memerintah pelayannya.

Pedang kami beradu di atas atap-atap Eleusina yang terbakar. Bunyinya seperti lonceng yang retak. Percikan api ungu dan perak berhamburan, jatuh ke genteng-genteng yang hangus di bawah kami.

Robert tidak bertarung seperti Percobaan 036. Ia tidak lapar. Ia tidak terburu-buru. Setiap ayunannya tepat, dingin, diperhitungkan, seperti seseorang yang telah membaca setiap catatan di Menara dan menghafal setiap kelemahan yang pernah dimiliki seorang Akila. Ia mengincar mata, leher, celah di bawah lengan, titik-titik yang membunuh. Mereka hanya mengajari kalian membunuh. Bukan bertarung. Ayahku benar. Robert pun hanya pernah diajari membunuh. Ia hanya diajari jauh lebih baik.

Aku menangkis. Menghindar. Menangkis lagi. Sekali, pedangnya lolos dari pertahananku dan menyayat lenganku. Luka itu menutup sebelum darahnya sempat menetes.

“Kau tidak menyerang,” kata Robert di sela-sela napasnya. Kami melayang berhadapan, terpisah beberapa langkah, di atas menara jam yang setengah runtuh tempat Anderson tadi berdiri. “Kenapa?”

“Aku sedang mencari celah.”

“Untuk apa?”

“Untuk menghentikanmu,” jawabku. “Bukan membunuhmu.”

Wajahnya mengeras. Lalu, aku melihatnya marah.

Ia menerjang lagi, lebih cepat, lebih keras. Pedang peraknya menghantam pedangku dari atas, dari samping, dari bawah. Lalu, tanpa peringatan, ia mengubah arah ayunannya di tengah jalan. Tipuan. Aku terlambat sekejap. Ujung pedangnya menggores kakiku, dan ketika aku terhuyung di udara, lututnya menghantam dadaku.

Aku terlempar ke bawah, menghantam atap sebuah gudang. Genteng-genteng pecah di bawah punggungku.

Namun, aku bangkit. Aku selalu bangkit.

Aku mengepakkan kedua sayap itu ke depan sekuat tenaga. Gelombang angin ungu menyapu atap, menerjang Robert yang sedang menukik ke arahku, dan untuk sesaat, kendalinya atas angin goyah. Tubuhnya oleng di udara.

Itu celahnya.

Aku melesat. Pedangku terayun, bukan ke leher, bukan ke dada, melainkan ke pergelangan tangan yang menggenggam pedang perak itu. Dua jengkal. Hanya dua jengkal lagi.

Robert memutar tubuhnya di detik terakhir. Pedangku hanya menyerempet gagang pedangnya, memercikkan api. Kami terpental ke arah berlawanan, lalu kembali melayang berhadapan, napas kami sama-sama memburu.

Di bawah kami, alun-alun Eleusina sunyi. Ribuan pasang mata mendongak ke langit, ke dua sosok yang berkelahi di atas kota mereka. Satu berkilau perak dan hitam. Satu lagi berpendar ungu.

“Baiklah,” kata Robert. Ia menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. “Aku akui. Kau lebih baik daripada yang kuduga.” Ia tersenyum, tetapi kali ini senyum itu terasa lelah. “Kau tahu, dalam kisah semacam ini, kaulah tokoh utamanya. Semua orang di bawah sana menginginkanmu menang. Tapi jangan lupa, Darien, aku juga memegang harapan banyak orang. Orang-orang di Plataia. Orang-orang yang tidur nyenyak setiap malam karena tahu tak ada kota lain yang cukup kuat untuk menyakiti mereka.”

“Mereka tidur nyenyak di atas kuburan kota-kota lain.”

“Itu harga.” Ia mengangkat bahu. “Selalu ada harga.” Lalu suaranya merendah. “Bergabunglah denganku. Aku tidak bercanda. Luxter sudah tua. Ia sakit. Ia tidak akan bertahan sampai musim dingin. Setelah ia mati, aku yang akan duduk di puncak Menara. Bayangkan apa yang bisa kita lakukan, dua Akila yang telah membuka pintu itu, berdiri berdampingan. Tak akan ada lagi yang bisa menyentuh kita. Tidak Plataia. Tidak siapa pun. Kau bisa menulis ulang dunia ini sesukamu.”

Lihat selengkapnya