Sementara itu, di gerbang Kota Plataia ….
Truk-truk tambal sulam itu tiba di gerbang Plataia ketika matahari sudah condong ke barat.
Roxy mengemudikan truk paling depan dengan kacamata pelindung yang retak sebelah, dan ia tidak menginjak rem. Moncong besi truk itu menghantam palang gerbang, menyeretnya beberapa langkah, lalu berhenti dengan bunyi berderit panjang di tengah jalan berbatu yang licin dan bersih. Di belakangnya, lima truk lain berhenti berjajar. Pintu-pintu terbuka, dan para nelayan serta petani Eretium berlompatan turun dengan tombak, cangkul yang ditajamkan, dan senapan-senapan tua yang dulu dipakai untuk saling menembak di padang perbatasan.
Penjaga gerbang Plataia jauh lebih sedikit daripada yang mereka bayangkan. Sebagian besar pasukan masih berada di Eleusina atau sedang terbang pulang, dan yang tersisa di kota hanyalah regu-regu penjaga yang terbiasa menghadapi pedagang dan pemungut upeti, bukan ratusan orang marah yang turun dari truk rongsokan.
Meski begitu, mereka tetap bertahan. Peluru berdesing dari menara-menara jaga. Seorang nelayan muda jatuh sebelum sempat mengangkat tombaknya.
“Jangan berpencar!” Aconteus mengangkat pedang tuanya tinggi-tinggi. “Barisan perisai di depan! Ikuti aku!”
“Kau dengar dia!” Alexander menyambung, suaranya menggelegar dari balik helm yang terlalu sempit. “Kita tidak datang ke sini untuk merebut kota! Kita datang untuk memberi mereka waktu! Tahan gerbang ini selama mungkin!”
Di tengah keributan itu, tiga sosok menyelinap ke balik deretan truk dan berlari menyusuri dinding sebelah selatan.
Dokter Elasmus berlari paling depan, jas putihnya yang robek berkibar, napasnya sudah terengah-engah sejak langkah kesepuluh. Di belakangnya, Acacio berlari dengan satu tangan menekan perutnya yang dibebat kain merah, wajahnya pucat, tetapi langkahnya tak sekali pun melambat. Alexio menutup barisan dengan senapan rampasan di tangan dan topi cokelat penyok yang terus-menerus ia tekan agar tidak terbang.
“Kau seharusnya tinggal di Eleusina,” desis Alexio kepada Acacio.
“Dan membiarkan kalian bersenang-senang tanpaku?” Acacio tersenyum. Senyum itu sudah kembali, meski kini gemetar di ujungnya. “Aku sudah dua puluh tahun menunggu untuk melihat kota ini dari dekat, Nak. Aku tidak akan melewatkannya.”
Elasmus berhenti di depan sebuah pintu besi kecil di kaki dinding, tersembunyi di balik tumpukan peti-peti kosong. Pintu itu tak berlambang, tak berpenjaga, dan hampir tertutup lumut.
“Pintu para pelayan,” katanya sambil merogoh saku jasnya. “Empat puluh tahun lalu, saya sering lewat sini kalau tidak ingin ditanya ke mana saya pergi.” Ia mengeluarkan seikat kunci tua dan mencoba satu per satu dengan tangan gemetar. Kunci keempat berputar. “Ah. Mereka masih terlalu malas untuk mengganti kuncinya.”
Mereka masuk ke sebuah lorong sempit yang berbau minyak dan debu. Lorong itu membawa mereka menembus perut kota, melewati dapur-dapur yang ditinggalkan dan gudang-gudang yang dipenuhi karung gandum dari kota-kota yang kelaparan, hingga akhirnya keluar di belakang sebuah gedung kelabu yang menjulang. Departemen Pertahanan.
Lalu Elasmus berhenti.
Di lapangan luas di belakang gedung itu, berdiri sesuatu yang membuat ketiganya terdiam.
Panjangnya sekitar dua puluh meter. Tubuhnya ramping dan pucat, berkilat seperti sisik ikan di bawah cahaya senja, ditopang oleh menara-menara besi yang berdengung pelan. Kabel-kabel tebal menjulur dari pangkalnya ke gedung, berdenyut seperti urat. Di sisi tubuhnya, dicat dengan rapi, terpampang lambang menara bersayap.
“Itu dia,” bisik Elasmus. Wajahnya kelabu. “Empat puluh tahun lalu, saya melihatnya terbungkus terpal di gudang bawah Menara. Saya kira mereka tak akan pernah berani menggunakannya lagi.”
“Lagi?” Alexio menoleh.
“Gelombang yang meruntuhkan dunia pada Tahun 2500 datang dari benda yang sama. Yang ini lebih kecil.” Sang dokter menelan ludah. “Cukup kecil untuk satu daratan saja.”
Acacio menatap roket itu lama. Tak ada senyum di wajahnya sekarang.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “ayo kita pastikan benda itu tetap di tanah.”
Dua penjaga berjaga di pintu belakang gedung. Mereka masih muda, lebih muda daripada Antonius, dan mereka sedang menatap ke arah gerbang, ke arah asap dan teriakan, ketika Alexio muncul dari balik tiang dan menghantamkan popor senapannya ke tengkuk yang pertama.
Yang kedua berbalik, mengangkat senjatanya, dan Acacio menangkap larasnya dengan kedua tangan. Mereka bergulat sesaat. Sebutir peluru meletus ke langit-langit. Lalu Alexio menendang lutut pemuda itu dari samping, persis seperti yang dulu diajarkan Darien kepadanya di Bukit Montius, dan pemuda itu jatuh terduduk sambil mengerang.
Acacio merebut senapannya, membuka magasinnya, dan melemparkan pelurunya ke selokan.
“Pulanglah,” katanya kepada penjaga itu, yang menatapnya dengan mata membelalak. “Ibumu pasti sedang mencarimu.”
Penjaga itu tidak membantah. Ia bangkit dan berlari tertatih ke arah jalan.
“Kau tahu,” kata Alexio sambil menyeret penjaga pertama yang pingsan ke balik tiang, “Darien benar-benar sudah merusak kita semua.”
“Ya,” kata Acacio. “Bukankah itu indah?”
Di dalam gedung, lorong-lorong panjang berlantai marmer kosong dan sunyi. Para pegawai sudah lari atau bersembunyi. Hanya dua penjaga lagi yang mereka temui di dekat tangga, dan keduanya menembak lebih dulu. Alexio menarik Elasmus ke balik meja yang ia balikkan, sementara Acacio bersandar di dinding, menunggu. Ketika kedua penjaga itu mengisi ulang senjata mereka, Alexio melesat zig-zag melintasi lorong dan menghantam mereka satu per satu dengan popor senapan, keras dan cepat, tanpa memberi mereka waktu untuk berteriak.
Ketika ia kembali, napasnya tersengal dan tangannya gemetar.
“Mereka masih bernapas,” katanya, seolah ada yang bertanya. Lalu ia tertawa kecil, gugup. “Dua jengkal, Darien. Dua jengkal.”
Elasmus menekan tombol lift. “Lantai lima puluh,” katanya. “Ruang kendali ada di puncak. Kode penghentinya hanya bisa dimasukkan dari sana.”
“Dokter,” Acacio bersandar di dinding lift saat pintunya menutup, “Julio. Ke mana ia tadi?”
“Ke utara.” Elasmus menatap angka-angka yang terus naik di atas pintu. “Ke Sangkar. Ia bilang, kali ini ia yang akan membukakan pintunya.”
Sementara itu, di gerbang selatan Sangkar ….
Tembok itu masih setinggi yang diingat Julio. Tiga puluh meter beton kelabu, dimahkotai pagar listrik yang berdengung, dan di tengahnya, gerbang logam raksasa yang dua puluh tahun lalu tak pernah berhasil ia lewati dari dalam.
Hari ini, ia datang dari luar.
Para penjaga di menara sudah melihatnya sejak ia muncul dari balik pepohonan. Mereka menembak. Julio berlari, merunduk, berguling di balik batu-batu besar, dan dalam waktu yang terlalu singkat untuk dihitung, ia sudah berada di kaki tembok. Tiga penjaga di pos gerbang tak sempat berteriak. Ia melumpuhkan mereka dengan pukulan pendek di rahang dan tengkuk, cara bertarung seorang pemburu yang tahu persis di mana tubuh akan menyerah.
Ia menyeret salah satu dari mereka yang masih setengah sadar ke depan sebuah panel bercahaya di samping gerbang. Pemindai mata. Persis seperti yang diceritakan anaknya kepadanya di gua, tentang malam pelariannya.
“Maaf,” gumam Julio, lalu membuka paksa kelopak mata penjaga itu di depan cahaya merah.
Panel itu berbunyi. Tuas besar di sampingnya terlepas dari kuncinya. Julio menggenggamnya dengan kedua tangan dan menariknya ke bawah.