Last Affection: Burung dalam Sangkar (Buku 1)

Marion Drossi
Chapter #39

Terbang Membelah Langit

Untuk sesaat, tak seorang pun di ruangan itu bergerak.

Para pegawai masih meringkuk di balik meja-meja mereka. Elasmus masih berdiri di depan layar merah itu dengan kedua tangan terkulai. Acacio bersandar pada bahu Alexio, matanya terpejam, bibirnya bergerak tanpa suara, dan aku tahu ia sedang berdoa lagi. Di kaki dinding, Luxter terbatuk dan tertawa bergantian.

“Kau lihat sekarang, Robert?” katanya. “Pertarungan tanpa kemenangan adalah sia-sia. Kau bisa membunuhku. Kau bisa membunuh mereka semua. Benda itu tetap akan terbang. Dan besok pagi, di daratan ini, hanya Plataia yang masih berdiri. Seperti seharusnya.”

Robert tidak menjawab. Ia berdiri di depan jendela yang pecah, menatap roket di lapangan di bawah sana. Uap putih menyembur semakin tebal dari pangkalnya. Menara-menara penopangnya sudah setengah terlepas.

Lalu, perlahan, cahaya hitam yang membungkus tubuhnya surut. Kulitnya yang berkilat seperti obsidian kembali pucat. Matanya kembali biru.

“Hanya ada satu cara,” katanya.

Aku tahu apa yang ia maksud. Aku sudah tahu sejak Elasmus menatapku dengan mata yang kehilangan harapannya. Jika benda itu tak bisa dihentikan di tanah, maka ia harus dihentikan di langit, sebelum ia sempat menyebarkan apa pun yang ada di dalam perutnya.

“Biar aku yang melakukannya,” kataku.

“Tidak.” Robert berbalik. “Bawa aku ke sana. Aku yang akan merobeknya dari dalam.”

“Robert ….”

“Dengarkan aku, Darien.” Suaranya tenang, tetapi tidak lagi ramah. Tidak ada lagi topeng di wajahnya. “Dua puluh lima tahun aku menjadi siapa pun yang diinginkan orang lain. Adik yang dibenci. Wakil yang patuh. Antagonis dalam kisahmu.” Ia tertawa kecil, getir. “Aku bahkan tidak pernah memilih warna seragamku sendiri. Sekali saja. Biarkan aku memilih sesuatu sendiri.”

Aku menatapnya lama. Di mata biru itu, aku melihat sesuatu yang kukenal. Sesuatu yang pernah kulihat di permukaan sungai, setiap kali aku menunduk untuk minum, di bulan-bulan pertama setelah aku meninggalkan Sangkar.

“Baiklah,” kataku.

“Empat menit menuju peluncuran.”

Aku berbalik kepada yang lain. “Pergilah. Bawa semua orang sejauh mungkin dari kota ini.”

“Semua orang?” Alexio mengernyit. “Maksudmu, orang-orang yang bersorak meminta kepala kita di lapangan itu?”

“Semua orang,” ulangku.

Alexio menatapku. Lalu ia menghela napas panjang dan menekan topinya ke kepala. “Dasar bodoh,” gumamnya. Namun, ia sudah berjalan menuju pegawai berambut ikal yang tadi nyaris mati di ujung pedang Robert. “Kau! Di mana pengeras suara kota ini?”

Pemuda itu menunjuk sebuah meja di ujung ruangan dengan tangan gemetar.

Acacio melepaskan diri dari bahu Alexio dan berjalan terseok ke kaki dinding. Luxter mendongak kepadanya, masih tersenyum.

“Kau ingin membunuhku, Pedagang?”

“Tidak.” Acacio membungkuk dan mencengkeram kerah jubah merah lelaki tua itu dengan tangannya yang tidak memegangi perut. “Aku ingin kau hidup. Aku ingin kau melihat semuanya.” Ia menariknya berdiri dengan sentakan yang membuat Luxter mengerang. “Dua puluh tahun aku tersenyum kepada orang-orangmu sambil menghitung upeti. Sekarang, giliranmu menonton.”

Elasmus menyentuh lenganku sebelum aku melangkah ke jendela. Tangannya dingin. Di balik kacamatanya yang retak, matanya basah.

“Darien ….”

“Saya tahu, Dok.” Aku tersenyum kepadanya. “Saya akan pulang.”

Ia tidak menjawab. Ia hanya meremas lenganku sekali, lalu melepaskannya.

Di ambang pintu lift, Alexio berhenti dan berbalik. Pengeras suara di tangannya sudah menyala, dan suaranya yang serak sudah menggema di seluruh penjuru Plataia, memerintahkan semua orang untuk lari ke barat, ke bukit-bukit, sejauh mungkin dari Departemen Pertahanan. Ia menutup corong pengeras suara itu dengan telapak tangannya sejenak.

“Darien,” panggilnya. “Aku percaya padamu.”

Lalu pintu lift menutup.

 

Aku membawa Robert keluar lewat jendela yang pecah.

Di bawah kami, Plataia menjadi sungai manusia. Orang-orang berjas bersih dan bergaun mahal berlarian di jalan-jalan berbatu yang mengilap, berdesakan, terjatuh, bangkit lagi. Para prajurit yang tadi bertahan di gerbang kini membuang senjata mereka dan ikut berlari bersama para nelayan Eretium yang tadi mereka tembaki. Di ujung jalan utama, aku melihat truk-truk Roxy berbalik arah, bak-bak belakangnya penuh oleh anak-anak Plataia yang diangkat oleh tangan-tangan kasar para petani.

Dan di sebelah utara, dari arah Sangkar, sungai lain mengalir.

Ribuan Akila berseragam hitam berjalan menuruni bukit, menjauhi kota. Tidak berlari. Tidak menyerang. Hanya berjalan, dengan langkah-langkah yang masih kaku, seperti orang-orang yang baru belajar bahwa kaki mereka bisa membawa mereka ke mana pun. Di barisan terdepan, aku melihat sosok raksasa dengan bekas luka di wajahnya, menggendong seorang Akila muda yang kakinya terluka. Di sampingnya, seorang lelaki berambut sebahu berjalan dengan bahu terkulai.

Ayah mendongak. Dari ketinggian itu, aku tak mungkin melihat wajahnya. Namun, aku tahu ia sedang menatapku.

“Satu menit menuju peluncuran.”

Kami mendarat di punggung roket itu.

Logamnya dingin dan bergetar di bawah kakiku, seperti tubuh seekor binatang raksasa yang sedang bermimpi buruk. Uap putih menyembur dari celah-celah di sekeliling kami, panas dan berbau belerang. Robert berjongkok, menempelkan telapak tangannya di permukaan logam itu, dan memejamkan mata.

Kegelapan kembali membungkusnya. Kulitnya menghitam. Pedang perak itu muncul di genggamannya, dan angin di sekitar kami mulai berputar.

Lihat selengkapnya