Ada laut di hadapanku.
Birunya tak berujung, menyatu dengan langit di garis cakrawala, persis seperti yang selalu kulihat dalam mimpiku sejak kecil. Ombak berdebur pelan di atas pasir putih. Di belakangku, pegunungan hijau berdiri diselimuti kabut tipis, dan di puncak-puncaknya, salju turun perlahan seperti bulu, tanpa tergesa.
Aku duduk bersandar pada sebongkah batu besar yang hangat oleh matahari, dan untuk waktu yang sangat lama, aku hanya memandangi laut itu.
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku di sini. Aku tidak ingat bagaimana aku sampai. Yang kuingat terakhir adalah cahaya pucat bola kaca di jantung roket itu, dan rasa hangat yang menyelimutiku seperti kulit biji, dan setelah itu, tak ada apa-apa lagi. Barangkali aku sudah mati. Barangkali beginilah rasanya mati. Kalau memang begitu, kematian tidak seburuk yang diajarkan para pelatih di Sangkar.
Lalu aku menyadari sesuatu, dan aku menunduk.
Kakiku. Tanganku. Bayanganku di atas pasir.
Di Eleusina, di hadapan Robert yang menyeringai, aku pernah menyadari bahwa dalam mimpi tentang dunia yang damai ini, aku tak pernah sekali pun melihat diriku sendiri. Tak ada tempat bagi senjata di dunia tanpa perang. Namun kini, aku ada di sini. Duduk di atas pasir, dengan telapak tangan terbuka di atas lutut.
Aku membalik telapak tangan kananku. Nomor itu masih ada. Namun, di bawah cahaya matahari laut ini, tinta hitamnya tampak pudar, seperti tulisan lama di dinding yang sudah terlalu sering terkena hujan.
“Kau masih saja suka melamun, ya?”
Suara itu datang dari belakangku. Aku mengenalnya. Aku mengenalnya lebih baik daripada suara siapa pun di Sangkar, karena suara itulah yang dulu tak pernah berhenti berbicara di petak hutan yang sama denganku, yang membuat kami berdua dihukum lebih sering daripada siapa pun.
Aku menoleh.
Di sana berdiri 341, bertelanjang kaki di atas pasir, mengenakan seragam hitam pelantikan kami. Tak ada lubang di dadanya. Tak ada darah di punggungnya. Wajahnya bersih, dan di wajah itu, seringai lebar yang kukira tak akan pernah kulihat lagi.
“Kau ….”
“Aku tahu, aku tahu. Kau pikir aku sudah mati.” Ia duduk di sampingku, menjatuhkan diri ke atas pasir dengan cara yang sama ceroboh seperti dulu. “Memang sudah. Tapi tampaknya ini tempat yang bagus untuk orang mati. Ada laut. Kau pernah melihat laut sebelumnya?”
“Sekali,” bisikku. “Di Byzantium.”
“Byzantium.” Ia mengulang nama itu seperti mengulang nama makanan yang belum pernah dicicipinya. “Kau sudah pergi jauh sekali, ya, Enam-Enam-Enam.”
Tenggorokanku tercekat. Ada begitu banyak yang ingin kukatakan kepadanya. Bahwa aku berteriak hari itu. Bahwa aku berlari. Bahwa dua prajurit menghadang jalanku dan aku harus menebas mereka lebih dulu, dan ketika aku mengangkat wajah, pisau itu sudah terbenam di punggungnya. Bahwa aku memimpikannya di laboratorium, dan wajahnya muncul setiap kali aku memejamkan mata, sebelas hari berturut-turut.
Namun, yang keluar dari mulutku hanya: “Maaf.”
“Untuk apa?”
“Aku terlambat.”
Lama 341 memandangiku. Lalu ia tertawa, tawa yang sama dengan yang dulu membuat para pelatih memukul tengkuknya. “Kau selalu terlambat. Kau terlambat bangun, terlambat berbaris, terlambat mengerti lelucon. Itu bukan salahmu. Kau memang begitu.” Ia menyikut lenganku. “Lagi pula, aku yang sombong. Aku yang bilang aku tidak akan mati.”
“Kau bilang kau akan jadi Sang Penakluk.”
“Dan kau dengar? Tidak akan ada lagi Sang Penakluk.” Seringainya melebar. “Ayahmu sendiri yang bilang begitu, di depan gerbang Sangkar. Aku mendengarnya. Kurasa itu lebih baik daripada aku menjadi Sang Penakluk. Jauh lebih baik.”
Aku tidak tahu bagaimana ia bisa tahu. Barangkali di tempat seperti ini, orang mati tahu banyak hal.
Kami duduk berdampingan, memandangi laut. Ombak datang dan pergi. Salju di puncak gunung terus turun tanpa pernah sampai ke pantai.
“Tempat ini sunyi,” kataku akhirnya.
“Memang. Damai, tapi sunyi.” Sahabatku itu memungut sebutir kerang dan melemparkannya ke arah ombak. “Tidak ada yang perlu dibunuh di sini, tapi juga tidak ada yang perlu dilindungi. Kau bisa tinggal selamanya kalau mau. Tak ada yang akan memarahimu.”
“Haruskah aku kembali?”
Ia tidak langsung menjawab. Ia memandangi tanganku, nomor yang memudar di telapak tanganku.
“Mereka menunggumu,” katanya. “Kau tahu itu, kan? Gadis itu duduk di tangga kuil setiap malam. Sahabatmu yang bertopi jelek itu berhenti merokok, katanya sampai kau pulang. Dan ayahmu ….” Ia menggeleng. “Ayahmu berjalan menyusuri tepi gurun setiap hari, sampai seseorang menemukanmu.”
“Kalau aku kembali,” kataku pelan, “apa yang harus kulakukan? Perang sudah berakhir. Roket itu sudah hancur. Sangkar sudah terbuka. Bukankah peranku sudah selesai?”
“Perang yang itu sudah berakhir.” Ia menatapku. Untuk pertama kalinya, seringainya surut. “Tapi kau pernah memikirkan ini, kan? Waktu kau duduk di tepi sungai setelah perang keduamu, menatap gundukan puing yang berasap? Siapa yang sanggup mengubah dunia sebesar ini? Kau tidak mengubahnya, Enam-Enam-Enam. Kau hanya membukakan pintunya. Seseorang masih harus mengajari orang-orang itu cara berjalan keluar.”
Aku menatap laut. Di kejauhan, seekor burung putih terbang rendah di atas ombak, lalu menghilang ke balik cakrawala.
“Ada satu hal lagi,” kata 341.
“Apa?”
“Gadis itu.” Seringainya kembali, lebih lebar daripada sebelumnya. “Kau sudah bilang kau mencintainya, kan? Aku melihatnya. Di tengah alun-alun, di depan semua orang. Kau payah sekali, kau tahu? Bahkan para pelatih tak akan sanggup menontonnya.”
Wajahku memanas. “Itu bukan urusanmu.”
“Semua yang terjadi di dunia sana sekarang urusanku. Aku tidak punya kesibukan lain di sini.” Ia tertawa, lalu bangkit berdiri dan menepuk-nepuk pasir dari celananya. “Jangan biarkan ia menunggu lebih lama lagi, Darien.”
Aku tersentak. “Kau ….”