Last Affection: Burung dalam Sangkar (Buku 1)

Marion Drossi
Chapter #41

Pengkhianatan Robert

Sepuluh tahun kemudian, di bawah Menara Plataia ….

Gemerincing rantai menggema di lorong penjara yang lembap.

Lelaki tua di dalam sel paling ujung tidak lagi mengetuk-ngetukkan borgolnya ke jeruji. Sudah lama ia berhenti melakukannya. Ia duduk bersandar ke dinding batu, kepala tertunduk, janggut putihnya yang panjang dan kusut terjuntai hingga ke dada. Sepuluh tahun telah mengubah Luxter menjadi sesuatu yang lebih kecil daripada yang diingat siapa pun. Hanya matanya yang masih sama. Dingin, sabar, dan selalu menghitung.

Langkah kaki terdengar di ujung lorong. Dua pasang. Yang satu berat dan teratur. Yang satu lagi terlalu teratur, seperti bunyi jam.

Luxter tidak mengangkat kepala. Ia sudah tahu siapa yang datang.

“Kau tidak pernah melewatkan satu bulan pun,” katanya kepada lantai. “Bahkan anak-anakku sendiri, kalau aku punya, tidak akan serajin dirimu.”

Robert berhenti di depan jeruji. Waktu juga telah menyentuhnya, tetapi dengan cara yang berbeda. Rambut pirangnya kini bergaris perak di pelipis, dan ada kerut-kerut halus di sudut matanya yang biru, mata yang tak pernah lagi ia sembunyikan di balik lensa gelap. Tubuhnya masih tegap. Ia mengenakan mantel kelabu sederhana, bukan seragam merah. Di Alfaria, tak ada lagi yang mengenakan seragam merah.

Di belakangnya berdiri sosok kedua, membawa nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air. Sosok itu menyerupai seorang pemuda, tinggi dan berwajah datar, tetapi kulitnya terlalu licin, gerakannya terlalu rapi, dan mata kanannya bukan mata. Mata kanannya adalah lensa biru yang berputar pelan setiap kali ia memandang sesuatu.

Andriano. Mesin pertama yang dibuat di bengkel-bengkel Plataia setelah Alfaria membuka semua mesin untuk semua kota. Thomas dan Roxy yang mengajari para pandai Plataia cara merakitnya. Mereka tak pernah tahu bahwa Robert membawa pulang catatan-catatan Profesor Arial yang hangus dari reruntuhan laboratorium di bawah Menara, dan menambahkan sesuatu ke dalam kepala mesin itu yang tidak diajarkan siapa pun.

Robert mengangkat sebotol anggur. “Kau pasti haus.”

“Pergi kau.”

“Kau selalu bilang begitu.” Robert membuka sumbat botol itu dengan giginya dan menenggaknya. “Dan aku selalu datang lagi.”

Luxter akhirnya mengangkat wajah. “Untuk apa, Robert? Untuk melihat lelaki tua yang dulu memberimu segalanya membusuk di dalam kandang?” Suaranya parau, tetapi tidak gemetar. “Harta. Kepercayaan. Kursi di sebelah kursiku. Dan apa yang kau lakukan dengannya? Kau membuka gerbang kotaku untuk anak itu. Kau menghancurkan roketku. Kau membiarkan mereka menghapus nama Plataia dari setiap peta di daratan ini dan menggantinya dengan distrik.” Ia meludah ke lantai. “Pengkhianat.”

“Kau yang lebih dulu meluncurkan roket ke kota tempat aku berdiri, Luxter.”

“Alat tidak dikhianati. Alat hanya dipakai.”

Robert tersenyum. Ia sudah mendengar kalimat itu sebelumnya, di ruang kendali di puncak gedung Departemen Pertahanan, sesaat sebelum Darien menangkap pergelangan tangannya dua jengkal dari tubuh seorang pegawai berambut ikal.

“Andriano,” katanya. “Buka.”

Mesin itu meletakkan nampannya ke lantai. Jari-jari tangan kanannya terlipat ke dalam, berputar, dan memanjang menjadi sebatang logam bergerigi. Ia memasukkannya ke lubang kunci sel. Bunyi klik terdengar. Pintu jeruji itu terbuka.

Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, sesuatu yang menyerupai ketakutan melintas di wajah Luxter.

Robert masuk ke dalam sel dan berjongkok di hadapan lelaki tua itu. Bau anggur menguar dari napasnya.

“Sepuluh tahun,” katanya pelan. “Sepuluh tahun aku menjaga distrik ini untuk Darien. Sepuluh tahun aku mengurus orang-orang yang dulu bersorak di Lapangan Penghakiman, yang tak tahu cara hidup tanpa diperintah. Aku mengajari mereka menanam. Aku mengajari mereka membayar harga yang adil di pasar. Aku duduk di meja panjang di kuil itu setiap musim, dan setiap musim, aku melihat cara mereka memandangku.” Ia tertawa kecil. “Adik Robertinus. Anjing Luxter. Akila yang dulu berpihak pada Plataia. Tak seorang pun pernah berhenti menghitung dosa-dosaku, Luxter. Bahkan setelah aku memilih.”

“Kau berharap mereka akan memujamu?”

“Aku berharap mereka akan melihatku.” Suara Robert merendah. “Sekali saja. Seperti mereka melihat dirinya.”

Ia memandangi botol anggur di tangannya. Di permukaan kacanya yang gelap, wajahnya sendiri memandang balik.

“Ia berjanji akan menyelesaikan pertarungan kami,” lanjutnya. “Di hari pernikahannya. Sepuluh tahun lalu. Dan setiap kali aku mengingatkannya, ia hanya tersenyum dan berkata bahwa tidak ada lagi yang perlu dimenangkan.” Rahangnya mengeras. “Ia punya istri. Ia punya anak perempuan bermata biru yang berlarian di tangga kuil. Ia punya ayah dan ibu dan sahabat yang tak pernah berhenti merokok. Ia punya nama, Luxter. Semua orang di Alfaria tahu namanya. Dan aku?”

Luxter memandanginya lama. Lalu ia mulai tertawa, tawa kering yang berubah menjadi batuk panjang.

“Jadi itu,” katanya. “Bukan dunia yang kau benci. Hanya satu orang.”

“Aku tidak membencinya.” Robert bangkit berdiri. “Aku hanya ingin tahu siapa di antara kami yang sebenarnya lebih kuat. Ia memilih kasih sayang. Aku memilih diriku sendiri. Dunia memutuskan ialah pahlawannya, tanpa pernah melihat kami berdua berdiri di tempat yang sama sampai akhir.” Ia memberi isyarat kepada Andriano. “Dan untuk itu, aku membutuhkan sesuatu yang hanya kau ketahui.”

Andriano melangkah masuk dan mengangkat Luxter dari lantai dengan satu tangan, semudah mengangkat karung gandum.

“Lepaskan aku!” Luxter meronta. Rantai di pergelangan tangannya bergemerincing. “Kau pikir aku akan memberitahumu?”

“Kau sudah memberitahuku.” Robert menenggak sisa anggurnya. “Di malam pernikahan itu. Sepuluh tahun lalu. Kau berbicara kepada kegelapan, Luxter, tapi dinding penjara ini lebih tipis daripada yang kau kira. Mereka pikir hanya ada satu.” Ia tersenyum. “Di mana roket-roket yang lain?”

Luxter berhenti meronta.

Lihat selengkapnya