Untuk apa aku dilahirkan ke dunia ini?Untuk menanggung sepi yang tak pernah punya nama? Atau untuk terus membunuh, hingga tanganku sendiri lupa rasanya tidak berlumur darah?
Jika saja yang dilahirkan diberi hak memilih, aku tidak akan memilih lahir. Dan jika pilihan itu pun mustahil, aku hanya meminta satu hal: kesempatan memutar waktu. Aku ingin kembali ke masa sebelum ras ini pertama kali bernapas, mencari Sang Akar, leluhur pertama yang darahnya mengalir di nadi kami, lalu membunuhnya sebelum ia sempat menurunkan kutukan ini kepada siapa pun.
Namun, tak ada kekuatan di dunia ini yang sanggup memutar balik waktu. Aku tahu itu. Kami semua tahu itu.
Barangkali aku hanya salah tempat lahir. Barangkali, di belahan dunia lain, ada anak-anak yang tidur di ranjang hangat, yang dibangunkan oleh suara ibu alih-alih bunyi sirene, yang tak perlu tahu rasanya menggenggam senjata sebelum bisa membaca.
Mereka yang lahir sebagai manusia terhormat pasti bahagia, pikirku, selalu, setiap malam. Sedangkan kami hanya lahir untuk menjadi taring dan cakar bagi mereka.
Dari generasi ke generasi, perang tak pernah benar-benar usai. Kami membunuh atas perintah Orang Berwibawa, para penguasa yang bersemayam di menara-menara Kota Plataia. Kami membunuh demi mengejar gelar Sang Penakluk, gelar tertinggi yang hanya dianugerahkan kepada Akila dengan korban terbanyak, yang kelak berhak memimpin seluruh ras kami. Kami bermandikan darah agar tangan mereka tetap bersih.
Padahal aku juga manusia. Aku punya jantung yang berdetak, punya sesuatu di dalam dada yang terasa nyeri tanpa luka.
Namun, kalimat semacam itu tak pernah kuucapkan keras-keras. Di tempat kami, pikiran yang salah lebih berbahaya daripada peluru.
Begitulah ras Akila hadir di dunia: sebagai alat. Kami adalah sisa terakhir dari keganasan manusia, bilah tajam yang ditempa sejak kecil untuk tidak mengenal ragu. Ke medan perang mana pun kami dikirim, kami nyaris selalu pulang membawa kemenangan, sebab sejak bisa berjalan, kami diajari bahwa belas kasihan adalah kelemahan, dan kelemahan berarti mati.
Kami tidak terlahir dari kasih sayang. Di dalam Sangkar, hutan buatan berpagar listrik tempat seluruh Akila dikurung, kami hidup tak ubahnya kawanan hewan. Makan saat lapar, minum saat haus, berkelahi saat darah mendidih, dan kawin dengan siapa pun selama ia sesama Akila. Kami tak punya ayah, atau lebih tepatnya, tak seorang pun peduli siapa ayah kami. Yang kami kenal hanya ibu, dan itu pun tak lama.
Aku masih ingat punggung ibuku. Hanya punggungnya, bukan wajahnya. Pagi itu umurku baru lima tahun. Ia berjalan menuju barisan prajurit yang akan diberangkatkan ke garis depan, dan tak sekali pun menoleh. Aku tak pernah tahu apakah ia mati di sana atau masih hidup di medan lain. Tak ada yang memberitahuku, dan aku pun belajar untuk tidak bertanya.
Kami, barangkali, adalah makhluk paling kesepian di dunia ini.
Para tetua di Sangkar gemar bercerita tentang Tahun 2500, tahun ketika dunia lama runtuh. Kata mereka, perang pecah serentak di seluruh penjuru bumi. Kota-kota megah rata dengan tanah, sungai-sungai berubah merah, dan ladang-ladang hijau mengering menjadi debu. Manusia saling membantai hingga jumlah mereka menyusut dari hari ke hari.
Dari puing-puing kekacauan itulah ras Akila lahir: senjata hidup yang dipelihara oleh segelintir manusia yang selamat dan berhasil merebut kekuasaan. Kami diajari menyebut mereka Orang Berwibawa. Namun, dalam bisik-bisik paling pelan, saat tak ada telinga penjaga di dekat kami, mereka punya nama lain.
Sang Tirani.
Selama kami patuh, Sang Tirani memberi kami makan. Selama kami tidak membangkang, kami tidak akan mati kelaparan. Kami ibarat burung dalam sangkar yang digantung di tengah hutan palsu, diberi biji-bijian secukupnya, cukup untuk tetap hidup, tidak cukup untuk terbang.
Hari ini usiaku genap dua puluh tahun.
Bagi Akila, ulang tahun kedua puluh bukan hari untuk dirayakan. Itu hari pelantikan, hari ketika kami dianggap cukup matang untuk dilepas ke medan perang dan “menjadi lelaki sejati”, begitu kata para pelatih. Sepuluh tahun kami berlatih membunuh: boneka jerami, sasaran tembak, lalu sesama Akila dalam duel yang kadang tak berakhir hanya dengan memar. Para pelatih memuja darah dan menyebut pembunuhan sebagai kehormatan, dan sebagian besar dari kami menelan ajaran itu bulat-bulat, seperti menelan jatah makan harian. Tak heran banyak Akila menantikan hari ini seperti menantikan pesta.
Padahal, belum seorang pun dari kami pernah benar-benar mencabut nyawa manusia.
Perang yang menanti kami adalah perang melawan kota-kota yang menolak tunduk pada kebijakan Plataia. Ada yang menyebut mereka pemberontak, ada pula yang menyebut mereka pembangkang. Bagi Orang Berwibawa, keduanya sama saja: sasaran.
Pagi itu, kami berbaris di lapangan tanah merah di tepi Sangkar. Kabut belum sepenuhnya terangkat. Lima ratus Akila sebaya berdiri dalam barisan rapat, bahu bersentuhan bahu, napas kami mengepul putih di udara dingin.
“Hei, kau! Nomor!”
Seorang pria berkumis tebal menghampiriku. Seragamnya bersih, kancingnya mengilap, jenis kebersihan yang tak pernah dimiliki siapa pun di dalam Sangkar.
“666.”
Aku mengangkat telapak tangan kananku. Di sana, terukir dalam tinta hitam yang tak akan pernah pudar, deretan angka yang menjadi satu-satunya namaku. Kami tidak diberi nama saat lahir. Kami diberi nomor, ditatahkan di telapak tangan seperti cap pada ternak, agar para penguasa mudah mengenali milik mereka.
Pria itu menatapku lama, seolah sedang menimbang barang dagangan. “Jadi, hari ini kau genap dua puluh tahun?” Alisnya terangkat. “Sudah siap berperang?”
“Siap!” Suaraku keluar lebih lantang daripada yang kuduga. “Demi bertahan hidup di dunia yang hancur ini, saya siap membantai siapa pun yang berani merenggut hidup saya!”
Itu kalimat yang dihafal setiap Akila sejak kecil. Aku mengucapkannya tanpa cela. Entah mengapa, lidahku terasa pahit sesudahnya.
“Bagus.” Ia menepuk bahuku dua kali, seperti menepuk anjing pemburu. “Ambil senjatamu dan naik ke pesawat.”
Di sebelahku, seseorang terkekeh pelan.
“Kau terdengar seperti orang yang sedang membaca doa,” bisik 341 tanpa menoleh. Ia lahir hanya tiga hari sebelum aku, tumbuh di petak hutan yang sama, dan sejak kecil tak pernah berhenti bicara, kebiasaan yang membuatnya lebih sering dihukum daripada siapa pun yang kukenal. “Tenang saja. Kalau kau mati duluan, akan kuceritakan pada semua orang bahwa kau mati dengan gagah.”
“Dan kalau kau yang mati duluan?”
Ia menyeringai lebar. “Aku tidak akan mati. Aku akan jadi Sang Penakluk berikutnya.”
Sebelum naik ke pesawat, kami melewati pemeriksaan satu per satu. Para penjaga meraba tubuh kami, memindai mata kami dengan cahaya merah, lalu mencocokkan nomor di telapak tangan dengan daftar di layar mereka.
Pemeriksaan itu bukan karena mereka khawatir kami kabur. Kabur adalah gagasan yang tak pernah tumbuh di kepala seorang Akila, doktrin bahwa kami lahir untuk berperang telah ditanam terlalu dalam, terlalu dini. Yang mereka khawatirkan adalah hal lain: bahwa suatu hari, salah satu dari kami akan berbalik dan mengarahkan senjata ke arah yang keliru.
Ke arah mereka.