Last Affection: Burung dalam Sangkar

Marion Drossi
Chapter #2

Gadis Kumal

Tiga hari setelah pertempuran pertama, kami digiring ke Akila Research and Development Laboratory.

Bangunan itu berdiri di sisi timur Sangkar, dipisahkan dari hutan oleh tembok kedua yang lebih tinggi dan lebih licin daripada pagar listrik mana pun. Setiap bulan, tanpa kecuali, seluruh Akila wajib menjalani pemeriksaan di sana. Dokter-dokter dari berbagai penjuru wilayah kekuasaan Plataia bekerja di balik dindingnya, mengukur, menimbang, dan mencatat tubuh kami seperti pandai besi memeriksa bilah pedang sepulang dari pertempuran.

Bagi para Akila muda yang baru kembali dari medan perang pertama, pemeriksaan kali ini berbeda. Hari ini, jenis kami akan ditentukan.

Ras Akila tidak sebanyak yang dibayangkan orang luar. Menurut Sang Penakluk, pemimpin ras kami sekaligus pemegang gelar tertinggi itu, jumlah Akila yang hidup di dalam Sangkar hanya sekitar sepuluh ribu jiwa. Berapa yang tersebar di luar sana, tak ada yang tahu pasti. Setiap Akila tergolong ke dalam salah satu dari tiga jenis. Yang pertama dan paling dihormati adalah Akila Combat, para petarung yang mengandalkan kekuatan dan kecepatan tubuh. Yang kedua adalah Akila the Strategist, mereka yang berpikir lebih cepat daripada yang lain dan menyusun siasat di belakang garis depan. Yang ketiga adalah Akila Recuperation, mereka yang luka-lukanya menutup jauh lebih cepat daripada manusia biasa.

Setiap Akila mewarisi salah satunya. Pemeriksaan hari ini hanya akan mengumumkan apa yang sudah tertulis di dalam darah kami.

Ruang tunggu itu putih. Dindingnya putih, lantainya putih, dan cahaya lampunya begitu terang hingga tak menyisakan bayangan sedikit pun. Ruangan itu cukup luas untuk menampung lebih dari seratus orang, tetapi suara kami nyaris tak terdengar. Para Akila yang biasanya riuh di hutan kini duduk diam di bangku-bangku logam, seolah kebersihan tempat ini membuat kami sadar betapa kotornya kami. Di balik dinding kaca tebal, para profesor berjas putih hilir mudik. Sebagian menatap monitor yang dipenuhi grafik dan angka, sebagian lagi sibuk menulis, tanpa sekali pun menoleh ke arah kami.

Aku menatap telapak tanganku. Darah kering dari tiga hari lalu sudah lama kubasuh, tetapi entah mengapa aku masih bisa melihatnya.

“666, silakan masuk ke ruang pemeriksaan.”

Suara datar dari pengeras suara itu memantul di dinding-dinding putih. Aku berdiri dan berjalan melewati pintu kaca yang bergeser terbuka dengan desis pelan.

Ruang pemeriksaan lebih kecil dan lebih dingin. Mesin-mesin yang tak kumengerti fungsinya berdengung di sekeliling sebuah ranjang periksa berlapis kulit sintetis. Seorang dokter tua menungguku di sampingnya. Rambutnya sudah memutih seluruhnya, punggungnya sedikit bungkuk, dan di balik kacamatanya ada sepasang mata yang tidak serupa dengan mata orang-orang Plataia lain yang pernah kutemui. Mata itu tidak menimbang. Mata itu memperhatikan.

“Berbaringlah,” katanya.

Aku menurut. Ia mengikat pergelangan tanganku dengan sabuk lunak, lalu mengangkat sebuah suntikan berisi cairan biru pekat. Aku pernah mendengar tentang cairan itu dari Akila yang lebih tua. Cairan itu akan menidurkan kami, lalu merangsang saraf-saraf di dalam tubuh hingga darah Akila menunjukkan wataknya yang sejati. Para dokter hanya perlu mengamati reaksi kami di alam bawah sadar, mencocokkannya dengan data yang mereka kumpulkan selama puluhan tahun, lalu menuliskan satu kata di samping nomor kami.

Jarum itu menembus kulit lenganku. Rasanya dingin, lalu panas.

“Tidak apa-apa,” ucap dokter tua itu pelan. “Ini akan membuatmu tenang.”

Langit-langit putih di atasku mulai berputar. Kantuk merayap dari ujung jari, naik ke lengan, lalu ke kelopak mataku yang semakin berat. Dengung mesin-mesin itu menjauh, terus menjauh, hingga akhirnya hilang sama sekali.

 

Tolong kami!

Gelap. Aku berdiri di dalam kegelapan yang begitu pekat hingga tak bisa melihat tanganku sendiri. Lalu suara-suara itu datang dari segala arah.

Jangan siksa kami! Bebaskan kami! Tolong!

Jeritan. Rintihan. Permohonan yang saling bertumpuk, puluhan, ratusan, hingga aku tak bisa lagi membedakan satu suara dari yang lain. Sesuatu yang dingin merayap di tengkukku, merambat ke dada, lalu mencengkeram jantungku dengan jari-jari yang tak terlihat. Kakiku bergerak sebelum pikiranku sempat memerintah. Aku berlari. Aku tak tahu ke mana, tak tahu dari apa. Aku hanya tahu aku harus pergi sejauh mungkin dari suara-suara itu.

Namun, kegelapan itu tak berujung. Aku terus berlari, dan suara-suara itu tetap menempel di telingaku.

Entah berapa lama berlalu, kegelapan perlahan memudar. Di bawah kakiku kini ada tanah lembap dan daun-daun gugur. Pohon-pohon menjulang di sekelilingku, dan di kejauhan berkilau pagar listrik yang kukenal. Ini Sangkar. Ini hutan tempatku tumbuh. Dan di tengah hutan itu, mereka menungguku.

Di barisan paling depan, berdiri 341. Di belakangnya ada wajah-wajah yang kukenal, Akila-Akila sebaya yang tak ikut pulang tiga hari lalu. Tubuh mereka masih menyimpan luka-luka yang merenggut nyawa mereka. Punggung 341 masih basah oleh darah, dan di dadanya masih menganga lubang bekas pisau.

“Hei,” suaraku bergetar. “Apa yang terjadi? Kenapa kalian ….”

“Tolong, bebaskan kami.” Tatapan 341 tertuju kepadaku. Seringai lebarnya tak ada lagi, digantikan raut yang belum pernah kulihat di wajah Akila mana pun. “Kami tidak ingin membunuh lagi. Tolong kami. Bebaskan kami dari rasa bersalah ini.”

Tatapanku kosong. Aku masih ingat jelas wajah mereka pagi itu, saat kami berbaris di lapangan tanah merah. Mereka tertawa. Mereka tak sabar. Mereka melolong setiap kali musuh roboh. Lalu mengapa sekarang mereka menatapku dengan penyesalan sedalam itu?

Sejujurnya, pertanyaan yang sama telah menghantuiku sejak kepulangan kami. Setiap kali memejamkan mata, aku melihat wajah prajurit muda dengan coreng debu di pipinya. Aku mendengar dentuman Akila Own. Aku mencium bau manis membusuk itu, dan kini aku tahu bau apa itu sebenarnya. Aku berusaha meyakinkan diri bahwa semua ini wajar, bahwa aku hanya pemula, bahwa perasaan ini akan hilang setelah pertempuran kedua, ketiga, keseratus. Namun, aku tahu aku sedang membohongi diriku sendiri.

“Tolong, bebaskan kami!”

Mereka mulai melangkah ke arahku. Perlahan, terseok, dengan tangan-tangan terulur dan mata penuh harap. Di belakang mereka, bayang-bayang lain bermunculan dari balik pepohonan. Orang-orang berseragam loreng. Prajurit muda dengan coreng debu di pipinya. Orang-orang yang tak pernah kukenal namanya, tetapi wajahnya terekam jelas di ingatanku, karena akulah yang terakhir mereka lihat.

“Tidak,” aku mundur selangkah. “Aku tidak bisa menolong kalian. Aku tidak bisa!”

Aku berbalik dan berlari. Suara mereka mengejarku, memenuhi telingaku hingga gendang telingaku terasa nyaris pecah. Kepalaku berdenyut seakan akan meledak.

“Maafkan aku!” Aku menutup kedua telinga sekuat tenaga. “Aku tidak bisa menyelamatkan kalian! Maafkan aku!”

 

“Tidak! Aku tidak bisa!”

Mataku terbuka. Cahaya putih menyerbu masuk. Napasku tersengal-sengal, dadaku naik turun seolah baru saja berlari dari ujung Sangkar ke ujung lainnya. Keringat dingin membasahi punggungku, dan sabuk di pergelangan tanganku menegang karena aku meronta. Rasanya lebih melelahkan daripada perang.

Dokter tua itu berdiri di samping ranjang, menatap layar monitor dengan dahi berkerut dalam. Ia tidak segera berbicara. Ia menggeser beberapa grafik, membaca ulang deretan angka, lalu menatapku seakan aku teka-teki yang baru saja ia temukan.

Saat itulah aku menyadari sesuatu. Perasaan dingin yang mencengkeram jantungku di dalam mimpi tadi, yang membuat kakiku berlari tanpa perintah, masih tersisa di dadaku. Aku belum pernah merasakannya. Para pelatih tak pernah mengajarkan namanya, sebab bagi mereka Akila tak membutuhkan kata itu. Namun, aku pernah mendengarnya dalam cerita para tetua tentang manusia di dunia lama.

Takut. Jadi, beginilah rasanya.

“Membingungkan,” gumam dokter tua itu.

“K-kenapa, Dok?”

Lihat selengkapnya