Mereka menjemputku pada malam kesembilan belas.
Dua penjaga berseragam kelabu muncul di mulut gubuk tempatku tidur, membangunkanku dengan ujung sepatu bot mereka tanpa sepatah kata pun. Di luar, Sangkar sudah lelap. Hanya serangga-serangga malam yang berderik di antara pepohonan palsu, dan pagar listrik di kejauhan berdengung pelan seperti biasa. Aku mengikuti mereka menyusuri jalan setapak menuju sisi timur, melewati tembok kedua, lalu masuk ke lorong-lorong putih laboratorium yang kini sunyi dan setengah gelap.
Dokter tua itu menungguku di ruangan yang berbeda. Lebih kecil, tanpa dinding kaca, tanpa monitor yang menyala. Hanya ada sebuah meja, dua kursi, dan setumpuk kertas yang dijepit rapi. Begitu para penjaga pergi dan pintu tertutup di belakangku, ia mematikan lampu di langit-langit dan menyalakan sebuah lampu meja kecil. Cahayanya kekuningan, hangat, dan untuk pertama kalinya ruangan di tempat itu terasa tidak seperti ruang periksa.
“Duduklah,” katanya.
Aku duduk. Ia tidak langsung bicara. Jemarinya yang keriput mengetuk-ngetuk tumpukan kertas di hadapannya, seakan sedang menimbang apakah isinya layak diucapkan keras-keras.
“Saya sudah menyelesaikan risetnya,” ujarnya akhirnya. Suaranya rendah, nyaris berbisik. “Saya mengulang setiap uji tiga kali. Saya membandingkan sampel darahmu dengan seluruh arsip yang kami miliki, sampai ke data generasi pertama. Hasilnya selalu sama.” Ia menatapku lurus. “Kau Akila jenis keempat.”
Kata-kata itu jatuh di antara kami seperti batu ke dalam sumur. Aku menunggu gemanya.
“Jenis keempat?” Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri. “Tapi Akila hanya punya tiga jenis.”
“Itulah yang selama ini kami yakini.” Ia membuka lembar teratas dan menyodorkannya kepadaku, meski ia tahu aku tak akan mengerti deretan angka dan grafik di sana. “Setiap Akila mewarisi satu kecenderungan. Kekuatan tubuh, kecerdasan siasat, atau pemulihan. Satu, tidak lebih. Begitulah darah Akila bekerja selama lebih dari lima abad. Tetapi darahmu tidak memilih. Ia membawa ketiganya sekaligus.”
Aku teringat sungai cokelat itu. Pedang berkarat yang merobek lenganku, ujung tombak di pinggangku, peluru yang menyerempet bahuku. Luka-luka yang menutup sendiri sebelum aku sempat merasakan perihnya. Aku teringat bagaimana tubuhku bergerak lebih cepat daripada yang pernah kulakukan saat amarah itu membakar dadaku. Dan aku teringat bagaimana, di pertempuran pertama, aku bisa melihat dari mana bala bantuan musuh berasal, sementara Akila lain hanya terus menebas siapa pun yang ada di depan mata.
Jadi itu sebabnya.
“Tapi bukan itu yang membuat saya memanggilmu malam-malam begini,” lanjut dokter tua itu. Ia mencondongkan tubuh ke depan, dan cahaya lampu meja membuat kerut-kerut di wajahnya tampak lebih dalam. “Darahmu membawa satu hal lagi. Sesuatu yang dulu, menurut catatan paling tua di arsip ini, sengaja dihapus dari ras kalian saat pertama kali diciptakan.”
“Apa itu?”
“Perasaan.”
Aku pernah mendengar kata itu. Para tetua kadang mengucapkannya dalam cerita-cerita tentang dunia lama, dengan nada yang sama seperti saat mereka menyebut laut atau salju: sesuatu yang dulu ada, tetapi tak lagi relevan bagi kami. Tak seorang pun pernah menjelaskan artinya. Tak seorang pun pernah merasa perlu.
“Mimpi-mimpimu,” kata dokter itu pelan, “rasa sakit di dadamu yang tak punya luka, rasa dingin yang membuatmu berlari di dalam mimpi. Semua itu bukan kerusakan. Itu perasaan, Nak. Hal yang sama yang dimiliki setiap manusia di luar sana. Hal yang membuat seseorang ragu sebelum membunuh.”
Ia membiarkan kalimat itu mengendap sebelum melanjutkan.
“Dan justru karena itulah kau dalam bahaya.” Ia melirik ke arah pintu, lalu kembali menatapku. “Senjata yang ragu adalah senjata yang rusak. Jika Orang Berwibawa tahu tentang dirimu, mereka tidak akan mencoba memahamimu. Mereka akan membuangmu. Atau lebih buruk lagi, membedahmu untuk mencari tahu bagaimana kesalahan ini terjadi, agar tak pernah terulang pada Akila lain.”
Aku menatap tumpukan kertas itu. Di sana, di antara angka-angka yang tak kumengerti, tertulis nasibku. “Apa salah saya?” tanyaku. “Saya tidak pernah membangkang. Saya selalu ikut berperang.”
“Kau tidak bersalah apa-apa.” Matanya teduh, tetapi di balik keteduhan itu ada sesuatu yang lain, sesuatu yang menyala kecil seperti bara di dalam abu. Aku tak tahu namanya saat itu. Belakangan, aku akan belajar bahwa orang menyebutnya harapan. “Itulah yang paling menyedihkan dari dunia ini. Kau tidak perlu bersalah untuk dihukum.”
Ia mengambil tumpukan kertas itu, merobeknya menjadi dua, lalu menjadi empat, dan memasukkan potongan-potongannya ke dalam saku jasnya.
“Hasil resmi yang akan saya laporkan besok pagi adalah Akila Combat dengan kelainan saraf ringan,” katanya. “Itu akan memberimu waktu. Tidak banyak, mungkin hanya beberapa minggu sampai seseorang memeriksa ulang datanya. Tapi cukup.”
“Cukup untuk apa?”
“Untuk memilih.” Ia bersandar di kursinya, dan tiba-tiba ia tampak jauh lebih tua dan jauh lebih lelah. “Kalau kau ingin tetap di sini, tunduklah. Berperanglah. Jangan pernah biarkan siapa pun melihat keraguanmu, dan mungkin kau akan hidup cukup lama. Tapi kalau kau tidak sanggup lagi menjalani perintah mereka, pergilah. Pergilah dari Sangkar secepat mungkin.” Suaranya merendah lagi. “Hiduplah, Nak. Lihatlah dunia di luar tembok ini. Pelajari apa arti perasaan yang selalu membuatmu bingung itu. Kau satu-satunya Akila yang punya kesempatan untuk mengerti.”
“Kenapa Anda melakukan ini?”
Untuk sesaat, ia tidak menjawab. Lalu ia tersenyum, senyum tipis yang tidak sampai ke matanya.
“Karena selama empat puluh tahun saya memeriksa anak-anak seperti kalian,” katanya, “dan malam ini adalah pertama kalinya saya merasa sedang memeriksa seorang manusia.”
Aku memutuskan untuk pergi malam itu juga.
Bukan karena aku berani. Aku berbaring di gubukku selama berjam-jam setelah para penjaga mengantarku kembali, menatap atap anyaman yang bocor di beberapa tempat, dan mendengarkan dengkur Akila-Akila di sekitarku. Aku mencoba membayangkan beberapa minggu ke depan: pertempuran ketiga, keempat, kesepuluh. Wajah-wajah baru yang akan muncul di mimpiku. Lalu suatu pagi, dua penjaga berseragam kelabu yang datang menjemputku, dan kali ini tak akan ada dokter tua yang menunggu dengan lampu meja kekuningan.
Burung dalam sangkar, pikirku. Diberi makan secukupnya, cukup untuk tetap hidup, tidak cukup untuk terbang.
Aku tidak ingin mati seperti itu. Jika aku memang harus mati, setidaknya aku ingin mati setelah melihat langit yang tidak kelabu.
Hanya ada satu jalan keluar dari Sangkar: gerbang utama di sisi selatan. Seluruh hutan dikelilingi tembok beton setinggi tiga puluh meter dengan pagar listrik di puncaknya, dan gerbang itu sendiri terbuat dari baja berlapis yang tak akan tergores bahkan oleh Akila Own. Lagi pula, aku tak membawa Akila Own. Senjata kami hanya diserahkan saat kami naik ke pesawat dan diambil kembali begitu kami turun. Yang kumiliki hanya tubuhku sendiri, dan pengetahuan yang kudapat dari tiga belas tahun mengamati gerbang itu dari kejauhan.
Gerbang itu tidak dibuka dengan kunci. Ia dibuka dengan mata. Di sisi dalam, ada sebuah panel pemindai yang hanya mengenali retina para penjaga. Dua penjaga berjaga di sisi dalam, dua lagi di sisi luar. Para penjaga di dalam bergantian berpatroli menyusuri tembok, dan selalu ada jeda beberapa menit ketika mereka berdiri terpisah cukup jauh satu sama lain.
Aku menunggu jeda itu di balik semak-semak, bernapas sepelan mungkin. Bulan tertutup awan debu. Udara malam berbau tanah basah dan oli.
Penjaga pertama berjalan melewati tempatku bersembunyi, begitu dekat hingga aku bisa mendengar gesekan kain seragamnya. Lalu, tanpa alasan yang jelas, ia berhenti. Kepalanya menoleh ke arah semak-semak.
Tubuhku bergerak sebelum aku sempat berpikir. Sepuluh tahun latihan mengambil alih: satu langkah, satu putaran, sisi telapak tanganku menghantam lehernya tepat di bawah telinga. Ia roboh tanpa suara, seperti boneka jerami yang talinya diputus.
Aku berdiri di atasnya, napasku tertahan. Ia tidak bergerak. Aku tidak memeriksa apakah ia masih bernapas. Aku tidak ingin tahu.
Masih ada satu lagi.
Penjaga kedua berdiri di dekat panel pemindai, empat puluh langkah jauhnya, membelakangiku. Aku berlari tanpa suara di atas rumput, dan baru saat jarak kami tinggal beberapa langkah, ia berbalik.