Last Affection: Burung dalam Sangkar

Marion Drossi
Chapter #4

Air Mata Tanpa Tangis

Aku tidak ingat kapan mataku terpejam. Yang kuingat hanyalah suara ranting patah.

Bunyinya pelan, nyaris tenggelam di antara gemercik sungai, tetapi telingaku menangkapnya seperti dentang lonceng. Aku terbangun dengan tubuh yang sudah setengah berdiri. Kabut pagi masih menggantung rendah di antara batang-batang pohon, dan di balik kabut itu, sesuatu berkilat. Logam. Laras senapan.

Lalu kilatan kedua. Ketiga. Kelima.

“Di sini! Dia ada di sini!”

Teriakan itu memecah kesunyian hutan. Gadis itu tersentak bangun, matanya membelalak kebingungan. Aku tak memberinya waktu untuk bertanya. Kuraih pergelangan tangannya dan kutarik ia berlari.

“Hei! Lepaskan aku! Kau mau membawaku ke mana?”

“Ikut aku kalau kau masih ingin hidup!” Aku menunduk menghindari dahan yang melintang. “Mereka melihatmu bersamaku. Bagi mereka, kau sama bersalahnya denganku.”

Ia berhenti meronta.

Peluru-peluru mulai berdesing di sekitar kami, mengoyak kulit kayu dan memercikkan serpihan ke udara. Mereka menembak untuk melumpuhkan, bukan membunuh, begitu dugaanku. Sang Tirani tak akan rela kehilangan senjatanya begitu saja sebelum tahu mengapa senjata itu rusak. Namun, peluru tetaplah peluru, dan gadis di belakangku bukan Akila. Satu saja yang mengenainya, ia tak akan bangun lagi.

Maka aku berlari lebih cepat daripada yang pernah kulakukan seumur hidup, menyeretnya melompati akar-akar, menerobos semak berduri, hingga pepohonan mulai menipis dan hutan memuntahkan kami ke dataran terbuka.

Di hadapan kami terbentang reruntuhan sebuah kota mati.

Kota itu jauh lebih besar daripada yang kulihat di pertempuran pertama. Gedung-gedung tinggi berdiri berjejal seperti gigi-gigi raksasa yang membusuk, sebagian telah rubuh, sebagian lain masih tegak dengan kerangka besi mencuat dari dinding-dindingnya. Jalan-jalan lebar retak dan ditumbuhi rumput kering. Di tengah semua itu, sebuah menara menjulang lebih tinggi daripada yang lain, puncaknya hilang ditelan kabut debu.

Kami menyusup di antara puing, berbelok dari satu lorong ke lorong lain, hingga suara langkah dan teriakan para pengejar perlahan menjauh, lalu lenyap sama sekali.

“Berhenti … dulu ….” Gadis itu menarik tanganku dengan sisa tenaganya. Ia membungkuk, bertumpu pada lutut, napasnya tersengal-sengal. “Aku … bukan Akila. Paru-paruku … tidak sekuat paru-parumu.”

Aku menoleh ke belakang. Tak ada siapa pun. Hanya debu yang beterbangan ditiup angin.

“Baiklah. Kita bersembunyi di sana.” Aku menunjuk menara tinggi itu. “Dari atas, kita bisa melihat siapa pun yang datang.”

 

Bagian dalam menara itu gelap dan pengap.

Cahaya hanya masuk dari celah-celah dinding yang retak, membentuk garis-garis pucat di udara yang penuh debu. Lantainya dipenuhi pecahan kaca, kertas-kertas menguning, dan perabot yang hancur. Bau anyir menyengat hidungku begitu kami melangkah masuk, dan tak lama kemudian aku menemukan sumbernya. Beberapa tubuh tergeletak di sudut-sudut ruangan. Belum terlalu lama, menilai dari baunya yang belum terlalu busuk. Entah siapa mereka, entah apa yang membunuh mereka. Di dunia ini, kematian tak pernah butuh alasan yang istimewa.

Gadis itu menutup hidungnya dengan ujung kain lusuh, tetapi tidak berteriak. Ia sudah terlalu sering melihat yang seperti ini.

Kami menaiki tangga melingkar menuju lantai atas. Tanpa sadar, aku masih menggenggam tangannya.

“Hei.” Ia berbisik tajam. “Aku bisa berjalan sendiri. Memangnya aku anak kecil?”

Aku buru-buru melepaskannya. “M-maaf.”

Lantai dua lebih lapang dan sedikit lebih terang. Sebuah meja panjang berdebu terbentang di tengah ruangan, dikelilingi kursi-kursi berlapis kulit yang telah robek di sana-sini. Di dinding, tergantung sebuah bendera yang warnanya sudah pudar, lambangnya tak lagi bisa dikenali. Aku duduk di salah satu kursi. Debu mengepul di sekelilingku.

“Kau tahu tempat apa ini dulunya?”

Gadis itu menyapukan pandangan ke sekeliling ruangan. “Ibuku pernah bercerita, dulu sebelum perang, orang-orang yang memimpin negeri ini berkumpul di gedung-gedung seperti ini. Mereka duduk di meja panjang, berdebat, lalu memutuskan nasib jutaan orang.” Ia duduk di kursi di sebelahku. “Sekarang tak ada lagi yang tersisa untuk dipimpin.”

Aku menatap meja panjang itu. Aku membayangkan orang-orang berpakaian bersih duduk di sana, sama seperti Orang Berwibawa di menara-menara Plataia, memutuskan siapa yang hidup dan siapa yang mati tanpa pernah mencium bau darah.

Barangkali, pikirku, dunia lama tidak runtuh dalam sehari. Barangkali ia runtuh perlahan, dari meja-meja seperti ini.

Lalu terdengar sesuatu dari lantai bawah.

Langkah kaki. Berat dan pelan.

Gadis itu menegang. Aku menempelkan telunjuk di bibir, lalu bangkit tanpa suara dan bergerak menuju tangga. Aku menuruni anak tangga satu per satu, merapat ke dinding, menajamkan telinga. Langkah kaki itu sudah tak terdengar lagi. Lantai bawah tampak kosong. Hanya ada bayang-bayang, debu, dan tubuh-tubuh yang tak bergerak.

Aku mendongak ke arah gadis itu, hendak memberi isyarat bahwa semuanya aman.

Matanya membelalak, menatap sesuatu di belakangku.

Aku berputar tepat ketika popor senapan melayang ke arah dahiku. Tanganku bergerak lebih cepat daripada pikiranku. Kutangkis hantaman itu, kucengkeram pergelangan si penyerang, lalu kupuntir hingga terdengar bunyi berderak. Senapan itu terlepas dan jatuh berdentang di lantai. Kutendang jauh-jauh dari jangkauannya.

Si penyerang menjerit kesakitan.

“Siapa kau?” Aku mengunci lengannya di belakang punggung.

“Ampun! Ampun, Tuan! Saya tidak bermaksud jahat!”

Ia seorang pria bertubuh gempal dengan jenggot lebat yang kusut dan pakaian tambal-sulam. Bau keringat dan asap menguar dari tubuhnya.

Lihat selengkapnya