Last Affection: Burung dalam Sangkar

Marion Drossi
Chapter #5

Perjalanan Menuju Kota Eleusina

Kami meninggalkan menara itu sebelum fajar.

Tak satu pun dari kami menoleh ke lantai dua. Achila mengambil kain-kain lusuh dari tumpukan barang milik pria itu, dua helai yang paling tebal, lalu menyerahkan salah satunya kepadaku tanpa sepatah kata. Aku membasuh tangan dan wajahku di genangan air hujan di luar menara, menggosoknya berkali-kali hingga kulitku perih. Darah itu memang hilang. Namun, rasanya masih menempel.

Kami berjalan ke arah timur, menjauhi hutan dan para pemburu yang mungkin masih menyisir reruntuhan. Kata Achila, setengah hari perjalanan dari kota mati itu ada sebuah kota yang masih hidup. Satu-satunya kota di wilayah ini yang belum rata dengan tanah.

“Eleusina,” katanya. “Kota para pedagang.”

Matahari baru separuh naik ketika kota itu muncul di cakrawala.

Dari kejauhan, Eleusina tak jauh berbeda dari reruntuhan lain. Gedung-gedungnya retak, banyak yang tinggal setengah, dan tembok kotanya ditambal dengan papan, besi tua, dan batu-batu yang disusun seadanya. Namun, ada asap tipis yang mengepul dari puluhan cerobong. Ada suara. Bukan dentuman, bukan jeritan, melainkan dengung yang rendah dan riuh, seperti sarang lebah raksasa.

Begitu kami melewati gerbangnya, dengung itu menjadi suara-suara.

Aku berhenti di tengah jalan, terpaku.

Orang-orang ada di mana-mana. Laki-laki dan perempuan, tua dan muda, berdesakan di antara lapak-lapak yang berjajar di sepanjang jalan berbatu. Seorang wanita menawarkan kain-kain berwarna pudar yang digantung di seutas tali. Seorang lelaki tua memukul-mukul panci penyok dengan palu kecil, memperbaikinya sambil bersiul. Anak-anak berlarian di sela kaki orang dewasa, tertawa, saling kejar. Bau roti gosong, rempah, keringat, dan asap kayu bercampur menjadi satu. Di atas semua itu, orang-orang saling memanggil, menawar, bercanda, bertengkar, dan tertawa lagi.

Selama dua puluh tahun hidupku, aku hanya mengenal dua jenis keramaian: barisan Akila di lapangan tanah merah, dan medan perang. Aku tak pernah tahu ada keramaian yang tidak dimaksudkan untuk membunuh.

“Tutup mulutmu,” bisik Achila, menyikut pinggangku. “Kau terlihat seperti orang yang baru pertama kali melihat manusia.”

Aku menutup mulutku. Ia tidak salah.

Sambil berjalan, Achila bercerita dengan suara pelan. Eleusina dipimpin oleh seorang lelaki bernama Acacio. Tidak seperti kebanyakan pemimpin kota lain, Acacio tidak berasal dari kalangan Orang Berwibawa. Dulu ia hanyalah orang miskin, seorang buruh di pasar ini. Ketika perang menjalar sampai ke tembok kota, ia mengumpulkan para pemuda dan membentuk pasukan untuk mempertahankannya. Pemimpin Eleusina yang terdahulu tewas dibunuh seorang mata-mata yang menyamar sebagai sekutu, dan dalam wasiat terakhirnya, ia menunjuk Acacio sebagai penerus.

“Orang-orang bilang ia pemimpin yang baik,” kata Achila. “Mungkin satu-satunya yang tersisa.”

Aku menarik tudungku lebih rendah. Di bawah kain lusuh itu, aku masih mengenakan seragam Akila, dan nomor di telapak tanganku tak bisa dihapus. Kugenggam tanganku erat-erat di balik jubah.

Sebutir kentang kecil menggelinding di depan kakiku.

Aku memungutnya. Sebelum sempat bertanya milik siapa, seorang bocah lelaki berambut panjang dan kusut melesat dari kerumunan, merebut kentang itu dari tanganku, lalu berlari secepat kakinya yang kurus bisa membawanya. Dalam sekejap, ia lenyap di antara lapak-lapak.

Beberapa saat kemudian, seorang lelaki tua bertudung datang tertatih-tatih dengan tongkat kayu, napasnya tersengal.

“Hei! Kenapa kau biarkan bocah itu lari?”

Aku menunduk. “Maaf. Apa ia berbuat salah kepadamu?”

Lelaki tua itu mengembuskan napas panjang, separuh kesal, separuh lelah. “Bocah itu pencuri. Setiap hari ia mencuri kentang dari lapakku.” Ia menggeleng, lalu menatap ke arah bocah itu menghilang. “Setiap hari,” ulangnya, kali ini lebih pelan.

“Maafkan saya. Saya tidak tahu.”

Lelaki tua itu melambaikan tangan, lalu tertatih-tatih kembali ke lapaknya. Aku memperhatikan punggungnya yang bungkuk. Ia tidak mengejar bocah itu. Ia bahkan tidak berteriak memanggil penjaga.

Achila, yang tertinggal beberapa langkah di belakang, berlari kecil menyusulku.

“Kau bilang pemimpin kota ini orang baik,” kataku. “Lalu kenapa masih ada pencuri di sini?”

“Karena pemimpin yang baik tidak bisa mengubah semua orang menjadi baik.” Achila mengangkat bahu. “Lagi pula, bocah itu mungkin juga tidak jahat. Mungkin ia hanya lapar. Begitulah manusia. Sifat mereka bermacam-macam.”

“Sifat?”

“Watak. Sesuatu yang membuat seseorang menjadi dirinya.” Ia mengerutkan dahi, mencari kata-kata. “Ada yang pemarah, ada yang penyabar, ada yang serakah, ada yang murah hati. Ada yang baik di satu hari, lalu jahat di hari lain. Aku tidak bisa menjelaskannya dengan benar.” Ia menatapku. “Kau akan mengerti sendiri kalau melihat cukup banyak.”

Aku mencernanya pelan-pelan. Di Sangkar, kami hanya punya tiga jenis: Combat, Strategist, Recuperation. Setiap Akila mewarisi satu, dan jenis itu menentukan di mana ia berdiri di medan perang. Sederhana. Tetapi manusia, kata Achila, punya jenis sebanyak jumlah mereka sendiri, dan jenis itu bisa berubah dari hari ke hari.

Barangkali karena itulah mereka begitu sulit dipahami.

Aku menengadah. Langit di atas Eleusina berwarna biru, biru yang sesungguhnya, dengan gumpalan-gumpalan awan putih yang berarak pelan ditiup angin. Seekor burung kecil hinggap di tiang jemuran, berkicau sebentar, lalu terbang lagi. Angin sejuk menyusup di balik tudungku, membawa bau roti dan tanah basah.

Di Sangkar, langit selalu tertutup debu. Di medan perang, langit selalu berwarna asap.

Tempat ini mirip sekali dengan dunia di dalam mimpiku. Tidak persis, tak ada laut, tak ada salju, tak ada pegunungan hijau. Namun, ada sesuatu yang sama, sesuatu yang tak bisa kunamai, yang membuat dadaku terasa hangat dan sesak di saat bersamaan.

 

Menjelang sore, kami beristirahat di sebuah bangunan tua di sudut kota yang sepi.

Bangunan itu terbuat dari batu pucat, dengan pilar-pilar tinggi yang sebagian telah retak dan tangga lebar menuju pintu masuknya. Di dalamnya ada patung-patung tanpa kepala dan dinding-dinding yang dipenuhi ukiran yang sudah aus. Achila bilang tempat ini dulunya kuil, tempat orang-orang menyembah Para Dewa. Aku tidak tahu apa itu dewa. Achila bilang ia juga tidak benar-benar tahu.

Kami duduk di tepi teras kuil, kaki menjuntai di atas tangga. Achila mengayun-ayunkan kakinya, tumitnya mengetuk-ngetuk dinding batu.

“Hei,” katanya tiba-tiba. “Kau sudah tahu namaku. Tapi aku belum tahu namamu.”

“Aku tidak punya nama.”

Lihat selengkapnya