Ketakutan menyebar di Eleusina lebih cepat daripada api.
Dalam waktu singkat, pasukan Plataia telah memenuhi setiap sudut pasar. Mereka datang bergelombang dari gerbang barat, ratusan jumlahnya, sepatu bot mereka menghantam jalan berbatu dengan irama yang seragam. Pintu-pintu rumah dibanting tertutup. Jendela-jendela dipalang dari dalam. Para pedagang yang kemarin begitu riuh kini berlutut di samping lapak mereka yang terguling, kepala tertunduk, tak berani bersuara.
Dari celah dinding di ujung gang, aku melihat Acacio datang.
Ia berjalan pelan menembus kerumunan prajurit, diapit dua orang pengawal di kiri dan kanannya. Jubah gelapnya masih sama seperti semalam. Ia tidak membawa senjata. Dan di wajahnya, seperti yang sudah kuduga, terpasang senyum itu.
“Tuan-tuan,” sapanya lantang, cukup keras agar terdengar oleh semua orang di pasar. “Mari kita bicarakan semuanya baik-baik terlebih dahulu.”
“Tidak ada yang perlu dibicarakan!” bentak salah seorang prajurit. “Kami diperintahkan untuk menghancurkan kota ini!”
“Kalau begitu, izinkan saya berbicara dengan orang yang memerintahkannya.” Senyum Acacio tak goyah sedikit pun. “Eleusina akan membayar berapa pun harga yang diminta. Saya hanya meminta kesempatan.”
Aku tak habis pikir. Di tengah ratusan senjata yang terarah kepadanya, ia masih sanggup tersenyum seperti itu. Kini aku tahu senyum itu bukan tanda bahwa ia tidak takut. Senyum itu adalah caranya berdiri tegak di depan rasa takut, agar rakyatnya tidak ikut runtuh.
Barisan prajurit tersibak. Seorang lelaki bertubuh tinggi besar melangkah maju dengan dagu terangkat, dikawal selusin prajurit bersenjata lengkap. Kumisnya tebal dan tertata rapi. Jubahnya berwarna merah menyala, disulam benang emas di sepanjang kerahnya, begitu mencolok di antara debu dan puing hingga tampak seperti luka yang menganga di tengah pasar.
Aku mengenalnya.
Bukan namanya. Tak ada Akila yang diberi tahu nama Orang Berwibawa. Namun, aku pernah melihat jubah merah itu sekali, bertahun-tahun lalu, dari kejauhan. Ia berdiri di balkon menara pengawas di tepi Sangkar, menyaksikan pelantikan angkatan yang lebih tua dariku sambil menyesap minuman dari gelas kristal. Ia tidak bertepuk tangan. Ia hanya mengangguk sekali, layaknya seseorang yang baru saja memeriksa ternak yang hendak dijual.
“Baiklah,” katanya. Suaranya berat dan malas. “Kita bicara.”
Acacio membungkuk sopan, lalu memimpin jalan menuju gedung pemerintahan di ujung pasar. Lelaki berjubah merah itu mengikutinya, dan sebagian besar pasukannya bergerak mengekor di belakang mereka. Sisanya tetap tinggal, berjaga di setiap persimpangan dengan senapan siap di tangan.
Aku merapat kembali ke dinding gang, berpikir cepat.
Jika pasukan itu tahu ada seorang Akila yang bersembunyi di kota ini, jika mereka tahu Acacio telah memberinya tempat bermalam, perundingan itu tak akan ada artinya. Eleusina akan dibakar sampai ke fondasinya, dan setiap orang di dalamnya akan dibantai sebagai pengkhianat. Akila adalah milik Sang Tirani yang paling berharga. Sudah dua minggu sejak aku melarikan diri dari Sangkar. Wajahku, nomorku, barangkali sudah disebarkan kepada setiap prajurit Plataia.
Aku tak boleh tertangkap di sini. Tidak di kota ini.
“Darien!”
Achila menyelinap ke sampingku, napasnya memburu. Wajahnya pucat di balik tudungnya. “Apa yang harus kita lakukan? Kalau mereka menemukan kita di sini …,” suaranya menghilang, berubah menjadi bisikan yang nyaris tak terdengar.
“Kita pergi,” kataku. “Sekarang, selagi mereka sibuk berunding.”
Untuk sesaat, aku tergoda untuk melakukan hal lain. Melompat ke tengah pasar, menghajar prajurit yang menampar wanita itu, menghabisi mereka satu per satu. Aku bisa. Tubuhku tahu caranya. Namun, aku tahu apa yang akan terjadi sesudahnya. Plataia tidak akan mengirim prajurit biasa untuk memburu seorang Akila. Mereka akan mengirim Akila. Puluhan, ratusan. Dan mungkin juga Sang Penakluk sendiri, dengan bekas luka di wajahnya dan dua ribu nyawa di tangannya.
Aku tidak akan menang melawan semua itu. Dan Eleusina akan menjadi abu di tengah pertarungan kami.
“Pakai tudungmu,” bisikku. “Jangan angkat kepalamu, apa pun yang terjadi.”
Kami menyusuri gang-gang sempit menuju gerbang timur, menghindari jalan utama dan persimpangan yang dijaga. Di beberapa tikungan, kami harus berhenti dan menahan napas saat derap sepatu bot melintas tak jauh dari tempat kami bersembunyi.
Sepanjang jalan, aku melihat apa yang dilakukan pasukan Plataia kepada kota ini. Pintu-pintu didobrak. Karung-karung gandum diseret keluar dari gudang dan dilemparkan ke atas kereta. Seorang lelaki tua dipukul dengan popor senapan karena terlalu lambat menyingkir. Para prajurit itu tertawa ketika melakukannya.
Aku pernah mendengar Akila yang lebih tua membicarakan mereka. Prajurit Plataia bukan budak seperti kami. Mereka memilih bergabung, dan sebagai imbalannya, mereka diberi rumah, makanan berlimpah, dan jaminan bahwa keluarga mereka tak akan pernah kelaparan. Satu-satunya yang diminta dari mereka adalah kesetiaan penuh kepada Orang Berwibawa. Banyak yang menerima tawaran itu dengan senang hati. Di dunia yang sekarat ini, kesetiaan adalah harga yang murah untuk perut yang kenyang.
Gerbang timur akhirnya tampak di ujung jalan. Empat prajurit berjaga di sana, bersandar malas di sisi gerbang yang terbuka separuh.
Kami melangkah dengan kepala tertunduk. Lima belas meter lagi. Sepuluh. Aku bisa merasakan tatapan mereka menyapu kami, lalu beralih, tak tertarik. Hanya dua orang gelandangan lagi di kota yang penuh gelandangan.
Lalu Achila tersandung.
Ujung kain lusuhnya terlalu panjang, menyeret tanah, dan kakinya menginjaknya tanpa sengaja. Ia terhuyung ke depan. Tudung dan jubahnya terlepas, meluncur dari bahunya, dan jatuh ke tanah.
Keempat prajurit itu serempak menoleh.
Mereka menatap Achila. Rambutnya yang kusut, wajahnya yang kotor, tubuhnya yang kurus di balik pakaian compang-camping. Lalu, perlahan, seringai muncul di wajah mereka. Aku pernah melihat seringai seperti itu. Di lantai dua sebuah menara, di bawah cahaya bulan.
“Hei, hei,” salah seorang dari mereka mengangkat senapannya, mengacungkannya ke arah kami. “Mau ke mana, Manis?”
Aku berhenti, tetap menunduk. Mereka belum melihat wajahku. Masih ada kesempatan.
“Kami hanya pedagang, Tuan,” kataku, menjaga suaraku tetap rendah dan patuh. “Kami ingin pulang ke desa kami.”
“Pulang?” Prajurit itu mendengus. “Tidak ada yang keluar dari kota ini sampai perundingan selesai. Itu perintah langsung dari Tuan Besar.” Matanya masih tertuju pada Achila. “Lagi pula, gadis ini bisa jadi tambahan yang bagus untuk upeti. Bukankah begitu?”
Rekan-rekannya tertawa.
“Dan kau,” ia menunjuk dengan laras senapannya, “buka tudungmu. Tunjukkan wajahmu.”
Achila meraih tanganku. Jemarinya gemetar dan dingin.
“Baik, Tuan,” jawabku. Aku melepaskan genggaman Achila dengan lembut, lalu berbalik perlahan, seolah hendak menurut.
Lalu aku bergerak.
Kakiku menghantam dada prajurit terdekat sebelum ia sempat berkedip. Tubuhnya terlempar ke belakang, menabrak tiang gerbang dengan bunyi derak yang mengerikan, lalu terkulai tak bergerak. Tiga yang lain tersentak, mengangkat senapan mereka, dan menembak membabi buta.
Peluru-peluru berdesing di sekitarku. Aku merunduk, berkelit, melangkah lebar ke kiri, lalu ke kanan, bergerak lebih cepat daripada yang mampu diikuti mata mereka. Satu peluru menyerempet lenganku, tetapi luka itu sudah menutup sebelum aku sempat merasakan perihnya. Mereka terus menembak dengan panik, hingga magasin mereka kosong dan yang terdengar hanya bunyi klik yang sia-sia.
Aku sudah setengah jalan menuju mereka ketika sebuah suara memekik di belakangku.
“Berhenti! Atau gadis ini mati!”
Aku membeku.