Last Affection: Burung dalam Sangkar

Marion Drossi
Chapter #7

Perjalanan

Malam itu, di sebuah ruangan sempit yang dipahat langsung ke dinding gua, dokter tua itu menuangkan teh ke dalam tiga cangkir retak. Uapnya mengepul tipis di bawah cahaya lampu minyak. Achila duduk di sampingku dengan kedua tangan memeluk cangkirnya erat-erat. Alexio bersandar di ambang pintu, topi lebarnya menutupi separuh wajah, sebatang rokok terselip di sela jarinya tanpa dinyalakan.

“Nama saya Elasmus,” kata dokter tua itu sambil duduk di hadapan kami. “Di laboratorium, tak ada yang perlu tahu nama saya. Di sini, kalian boleh memanggil saya begitu.”

“Dokter Elasmus.” Aku mengulang nama itu pelan, seperti mencicipi sesuatu yang asing. Dalam satu bulan terakhir, aku telah mengenal lebih banyak nama daripada seumur hidupku. “Bagaimana Dokter bisa ada di sini?”

Ia tersenyum, seakan sudah menduga pertanyaan itu akan datang lebih dulu daripada yang lain. “Saya lahir di Eleusina. Tiga puluh tahun lalu, Plataia memanggil semua tabib dan ilmuwan dari kota-kota taklukan untuk bekerja di laboratorium mereka. Menolak berarti kota kami dibakar. Maka saya pergi. Dan selama tiga puluh tahun itu, saya belajar segala hal tentang darah Akila.” Ia menyesap tehnya. “Lalu diam-diam, saya membawa sebagian pengetahuan itu pulang.”

“Jadi, dialah profesor yang kuceritakan,” sela Alexio dari ambang pintu. “Orang yang menyuntikkan darah Akila ke tubuhku dan tubuh semua orang di bawah sini.”

Aku menatap dokter tua itu, lalu Alexio, lalu dokter itu lagi. Orang yang memeriksaku dengan tatapan teduh di ruangan putih itu, orang yang memalsukan laporanku dan menyuruhku lari, ternyata juga orang yang menciptakan pasukan tandingan bagi Sang Tirani tepat di bawah hidung mereka.

“Serum saya tidak sempurna,” lanjut Elasmus, seolah membaca pikiranku. “Tiruan tak akan pernah menyamai aslinya. Mereka lebih kuat dan lebih cepat daripada manusia biasa, tetapi luka mereka tak menutup secepat lukamu, dan tubuh mereka tak akan sanggup menahan Akila Own yang asli.” Ia meletakkan cangkirnya. “Namun, itu bukan alasan saya memanggilmu kemari. Kau datang dengan pertanyaan, bukan?”

Aku memang datang dengan pertanyaan. Terlalu banyak, hingga aku tak tahu harus memulai dari mana. Akhirnya, yang keluar dari mulutku adalah pertanyaan yang paling lama mengendap.

“Dari mana sebenarnya Akila berasal?”

 

Elasmus terdiam cukup lama. Nyala lampu minyak bergoyang pelan, dan bayang-bayang kami menari di dinding batu.

“Para tetua di Sangkar pasti pernah bercerita kepadamu tentang Tahun 2500,” katanya akhirnya.

“Tahun ketika dunia lama runtuh,” jawabku. “Perang pecah di seluruh penjuru bumi, dan manusia saling membantai.”

“Itu benar. Namun, itu bukan seluruh kebenarannya.” Ia mencondongkan tubuh ke depan. “Sebelum tahun itu, setiap bangsa di dunia berlomba menciptakan senjata yang lebih mematikan daripada milik lawannya. Ada yang membangun mesin perang, prajurit besi yang tak mengenal lelah. Namun, mesin-mesin itu rapuh. Mereka tak bisa berpikir, dan seorang petani dengan palu pun bisa menghancurkannya bila ia cukup nekat. Lalu, Plataia menciptakan sesuatu yang lain.”

“Apa?” tanya Achila lirih.

“Mereka menamainya Invisible Destruction. Senjata yang tak terlihat. Senjata itu tidak menembakkan peluru atau api, melainkan gelombang, semacam getaran tak kasatmata yang merambat di udara dan menembus apa pun yang dilaluinya. Batu, baja, daging. Kota-kota yang terkena gelombangnya meledak dari dalam. Dan mereka yang selamat dari ledakan itu …” Suaranya merendah. “Mereka mati perlahan. Kulit mereka melepuh, dan organ-organ di dalam tubuh mereka luluh seperti lilin di dekat api.”

Cangkir di tangan Achila bergetar. Aku menatap uap teh yang perlahan menghilang, membayangkan kota-kota yang dulu mungkin seindah mimpiku, lenyap dalam sekejap tanpa suara.

“Lebih dari seratus negeri hancur dalam satu musim,” lanjut Elasmus. “Plataia satu-satunya yang tetap berdiri. Itulah awal dari dunia yang kita kenal sekarang.”

“Lalu Akila?”

“Di antara jutaan yang terpapar gelombang itu, ada segelintir orang yang tidak mati.” Ia menatapku lurus. “Tubuh mereka berubah. Luka mereka menutup lebih cepat, otot-otot mereka menjadi lebih kuat, dan indra mereka lebih tajam daripada manusia mana pun. Plataia mengumpulkan mereka dari reruntuhan, sekitar seribu orang jumlahnya. Mereka menjadi subjek percobaan pertama. Mereka adalah leluhurmu, Darien. Sang Akar yang dikutuk oleh setiap Akila di malam-malam sepi mereka.”

Sang Akar. Aku menahan napas. Selama ini aku membayangkan Sang Akar sebagai sosok jahat yang menurunkan kutukan kepada kami. Ternyata ia hanyalah korban, seseorang yang selamat dari kiamat, lalu dirampas oleh orang-orang yang menciptakan kiamat itu sendiri.

“Jadi, Akila tidak diciptakan,” gumamku.

“Tidak dengan sengaja.” Elasmus menggeleng. “Akila adalah luka yang dibiarkan bernanah. Sang Tirani hanya menemukan cara untuk memanfaatkannya. Mereka mengurung para penyintas itu di dalam hutan yang kelak kalian sebut Sangkar. Mereka mengawinkan yang terkuat dengan yang terkuat, generasi demi generasi, lalu menciptakan Akila Own, senjata yang hanya mau tunduk pada darah kalian. Ketika kota-kota yang selamat mulai bangkit dan menolak tunduk, Plataia tak perlu lagi menggunakan Invisible Destruction. Mereka sudah punya senjata yang jauh lebih murah.”

“Kami,” bisikku.

Elasmus tidak menjawab. Ia tidak perlu menjawab.

Aku menatap telapak tanganku. Angka 666 di sana tampak lebih hitam di bawah cahaya lampu minyak. Selama ini aku mengira Akila dilahirkan untuk berperang. Ternyata kami dilahirkan dari perang, lalu dipaksa untuk terus memberinya makan.

“Kalau Akila memang manusia,” Achila memecah keheningan, “kenapa mereka tidak punya perasaan, Dokter?”

Itu pertanyaan yang juga ingin kuajukan, tetapi tak sanggup kuucapkan.

“Gelombang itu merusak lebih dari sekadar tubuh,” jawab Elasmus. “Ia menggerus bagian dari pikiran manusia yang membuat kita mampu merasakan iba, takut, dan kasih sayang. Para penyintas pertama masih menyimpan sisa-sisanya. Namun, Plataia sengaja memilih mereka yang paling dingin untuk diturunkan darahnya, dan para pelatih di Sangkar menyelesaikan sisanya. Perasaan bukan hilang dari ras Akila, Nak. Perasaan dihapus dari ras Akila.” Ia menatapku. “Hampir.”

“Hampir?” ulang Achila.

“Seperti yang pernah saya katakan kepadanya, Darien bukan salah satu dari ketiga jenis itu. Darahnya membawa sesuatu yang semestinya sudah lama terkubur.”

“Kalau begitu, pasti ada sebabnya,” desak Achila. “Kenapa hanya Darien?”

Elasmus melepas kacamatanya dan menggosok lensanya dengan ujung jas yang lusuh. Gerakannya lambat, seperti seseorang yang sedang menimbang apakah sebuah rahasia sudah boleh dilepaskan.

“Jawabannya ada pada darah yang kau warisi,” katanya akhirnya. “Pada orang tuamu.”

 

Kata itu jatuh di antara kami seperti batu yang dilemparkan ke dalam sumur.

“Orang tua?” Aku tertawa pendek, hampa. “Akila tidak punya orang tua, Dokter. Kami punya ibu, dan itu pun tak lama. Ibuku pergi ke garis depan saat aku berumur lima tahun. Ia tidak pernah kembali.”

“Apakah kau melihatnya sampai di garis depan?”

Aku membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Yang kuingat hanyalah punggungnya. Punggung yang berjalan menuju barisan prajurit di lapangan tanah merah, dan tak sekali pun menoleh.

Lihat selengkapnya