Last Affection: Burung dalam Sangkar

Marion Drossi
Chapter #8

Kota Dystychia (Kota Kesengsaraan)

Dystychía tidak menyambut kami dengan gerbang. Ia menyambut kami dengan bau.

Bau itu sudah tercium jauh sebelum kota itu sendiri tampak, menunggangi angin kering yang berembus dari balik bukit-bukit gersang yang kami lalui seharian penuh. Bau manis membusuk yang sama dengan yang menyambutku di medan perang pertama. Aku mengenalinya sekarang, dan aku berharap tidak.

Ketika matahari mulai condong ke barat, kota itu akhirnya terhampar di hadapan kami. Dari kejauhan, ia tampak seperti kota mana pun yang pernah kulihat sejak meninggalkan Sangkar: gedung-gedung retak, jalan-jalan berlubang, menara-menara besi yang miring seperti pohon mati. Baru setelah kami melangkah melewati papan nama berkarat di tepi jalan, aku mengerti mengapa Alexio menyebutnya Kota Kesengsaraan.

Di sepanjang jalan, tubuh-tubuh manusia tergeletak begitu saja. Sebagian sudah tak bergerak, dan dilihat dari keadaannya, sudah lama tak bergerak. Sebagian lagi masih bernapas, tetapi hanya itu yang tersisa dari mereka. Kulit mereka menempel di tulang seperti kain basah yang dijemur di atas ranting. Mata mereka cekung, bibir mereka pecah-pecah, dan perut mereka, anehnya, membuncit, seakan rasa lapar itu sendiri sedang tumbuh di dalamnya.

Anak-anak. Orang tua. Perempuan yang mendekap bayi yang tak lagi menangis. Tak ada yang dibedakan oleh kelaparan.

“Pemimpin kota ini kabur sepuluh tahun lalu,” kata Alexio pelan, tanpa menghentikan langkah. Kepulan asap rokok mengambang di sekitar topi lebarnya. “Membawa sisa lumbung dan pasukannya, entah ke mana. Tak lama setelah itu, Plataia mengklaim seluruh ladang di sekeliling kota. Tak ada yang boleh menanam. Tak ada yang boleh memanen. Penduduknya dibiarkan begini, sebagai peringatan.”

“Peringatan untuk siapa?”

“Untuk kota-kota lain.” Ia mengembuskan asap panjang. “Inilah yang terjadi pada siapa pun yang tak punya pemimpin untuk berlutut atas nama mereka.”

Aku teringat Acacio dan senyum yang ia pasang di hadapan tentara Plataia. Untuk pertama kalinya, aku mengerti sedikit harga yang ia bayar demi senyum itu.

Saat kami melintas, kepala-kepala itu berpaling perlahan ke arah kami. Tak ada yang berbicara. Tak ada yang mengulurkan tangan. Mereka hanya menatap, dengan sorot mata yang tak lagi meminta, sebab meminta pun membutuhkan tenaga. Salah satunya adalah seorang perempuan yang bersandar pada tiang listrik tumbang. Sejak kami menginjakkan kaki di kota ini, matanya tak pernah lepas dariku.

Langkahku terhenti.

“Achila. Kentang rebus kita masih ada?”

Achila ikut berhenti. Ia menatapku, lalu menatap perempuan itu, dan tanpa bertanya lagi ia merogoh kantong kain di pinggangnya. Dua butir kentang rebus sebesar kepalan tangan, bekal terakhir dari Acacio, berpindah ke telapak tanganku.

Beberapa langkah di depan, Alexio menoleh. Ia membuka mulut seakan hendak mengatakan sesuatu, lalu menutupnya lagi. Ia mengeluarkan sebatang rokok baru dan menyalakannya, menunggu.

Aku berjongkok di hadapan perempuan itu. Dari dekat, ia tampak lebih muda daripada yang kukira. Mungkin seusia Achila.

“Makanlah,” kataku. “Maaf, hanya ini yang kami punya.”

Ia tidak mengucapkan terima kasih. Ia tidak mengucapkan apa pun. Tangannya bergerak secepat ular mematuk, merenggut kedua kentang itu dari telapak tanganku, lalu menjejalkannya ke mulut bulat-bulat. Ia mengunyah dengan mata terbelalak, napas tersengal, seperti binatang yang takut mangsanya direbut.

Dan memang direbut.

Dari balik reruntuhan, dari bawah lembaran seng, dari celah-celah yang tak kusadari dihuni, mereka bangkit. Lima, sepuluh, lebih banyak lagi. Mereka berjalan terhuyung ke arah perempuan itu, dan sebelum aku sempat berdiri, mereka sudah menerkamnya. Jari-jari kurus mencakar wajahnya, mengorek mulutnya, berebut sisa kentang yang belum sempat ia telan. Perempuan itu menjerit. Seseorang menjerit lebih keras. Lalu yang tersisa hanyalah gumpalan tubuh yang saling mencakar dan menggigit di atas debu.

Seorang lelaki bertubuh paling besar di antara mereka keluar dari gumpalan itu dengan tangan terkepal. Ia memasukkan apa pun yang ada di genggamannya ke mulut, lalu mengibaskan tangannya yang berkuku panjang dan tajam ke arah siapa pun yang mendekat. Mereka mundur. Perempuan itu tak bergerak lagi.

Aku masih berjongkok di sana, tanganku masih terbuka, kosong.

Debaran itu kembali. Panas yang sama, yang merambat dari dada ke ujung jari. Lelaki itu berdiri hanya lima langkah dariku, dan aku bisa merasakan dengan jelas betapa mudahnya, betapa cepatnya, betapa sedikitnya waktu yang kubutuhkan.

Cincang dia.

Sebuah tangan mendarat di pundakku. Alexio. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatapku dengan wajahnya yang tenang, setenang air sumur, dan menggeleng sekali.

“Ayo,” katanya. “Kita cari tempat bermalam.”

Aku tidak bergerak. Achila berlutut di sampingku dan menyentuh lenganku.

“Darien.” Suaranya pelan. “Ini baru sebagian kecil. Masih banyak kota seperti ini di luar sana.”

“Sebagian kecil?” Suaraku pecah lebih keras daripada yang kumaksud. “Mayat-mayat berserakan seperti sampah di sepanjang jalan, dan kau menyebutnya sebagian kecil? Aku baru saja … aku memberinya makan, dan karena itu ia ….”

Aku tak sanggup menyelesaikan kalimatku.

“Bukan kentangmu yang membunuhnya.” Alexio berkata datar, tetapi ada sesuatu di balik kedataran itu. “Plataia membunuhnya sepuluh tahun lalu. Ia hanya butuh waktu lama untuk mati.”

Aku menatapnya. Sejak kami tiba, wajahnya tak menunjukkan apa-apa, tak ada iba, tak ada marah. Namun, ketika ia berbalik dan melangkah pergi, aku melihat tangannya yang memegang rokok sedikit gemetar.

Barangkali bukan hanya Akila yang belajar menyembunyikan perasaan.

 

Alexio memilih sebuah gedung tinggi di sisi timur kota, tepat di dekat jalan keluar. Dindingnya penuh retakan menjalar, dan di puncaknya sebuah antena besi menjulang menusuk langit yang mulai gelap, seperti jarum raksasa.

“Tunggu di sini.” Ia mengangkat senjatanya dan menyelinap masuk lebih dulu. Beberapa menit kemudian, ia muncul kembali di ambang pintu. “Aman. Untuk sekarang.”

Bagian dalamnya luas dan sunyi. Meja-meja kayu berjajar rapi di bawah lapisan debu tebal, seakan para pekerjanya hanya pergi makan siang dan tak pernah kembali. Kertas-kertas menguning berserakan di lantai, sebagian masih menyimpan deretan huruf dan angka yang tak kumengerti. Di ujung ruangan, sebuah tangga melingkar telah runtuh separuh, dan pintu logam sebuah kotak pengangkut, yang menurut Alexio dulu bisa membawa orang naik turun gedung tanpa harus berjalan, tertutup rapat dan tak lagi bergerak. Dari luar, gedung ini tampak memiliki sedikitnya dua puluh lantai. Kami hanya akan mengenal satu.

“Pusat komunikasi,” gumam Alexio sambil meletakkan senjatanya di atas sofa panjang yang busanya mencuat di sana-sini. “Dulu, dari gedung seperti ini, suara manusia bisa dikirim ke seberang dunia dalam sekejap mata.”

“Ke seberang dunia?” Aku menatap antena itu dari balik jendela yang pecah. “Lalu kenapa sekarang tak ada yang bisa bicara dengan siapa pun?”

“Karena tak ada lagi yang membuat, memperbaiki, atau menjalankannya.” Ia menjatuhkan diri ke sofa dan bersandar, memejamkan mata. “Kecuali Plataia. Mereka satu-satunya yang masih memproduksi mesin, dan mereka tidak berbagi. Pesawat, senjata, alat-alat di laboratorium tempat kau dibesarkan, semuanya milik mereka. Mesin adalah kekuasaan, Darien. Dan kekuasaan tidak dibagi-bagikan.”

Lihat selengkapnya