Last Affection: Burung dalam Sangkar

Marion Drossi
Chapter #9

Kota Byzantium dan Eretria

Matahari terus memanjat langit, dan setiap jengkal kenaikannya terasa seperti cambuk yang mendarat di tengkuk kami.

Sejak fajar, kami tak sekali pun berhenti. Kata Alexio, kota yang kami tuju kali ini berjarak dua kali lipat dari perjalanan Eleusina ke Dystychía, dan tak ada satu pun tempat berteduh di antara keduanya. Dataran di depan kami membentang kelabu dan retak-retak, seperti kulit tua yang terlalu lama dijemur. Sesekali angin panas berembus, membawa debu yang menempel di bibir dan terasa getir di lidah.

Achila berjalan di sampingku. Bibirnya pecah-pecah, dan berkali-kali ia menyeka peluh dari dahinya dengan punggung tangan. Ia tidak mengeluh. Achila hampir tak pernah mengeluh, dan justru karena itulah aku tahu ia lelah.

Alexio berjalan beberapa langkah di depan, mantel panjangnya tersampir di bahu, topi lebarnya ditarik rendah menutupi mata. Sejak pagi, aku belum melihatnya minum seteguk pun. Yang ia lakukan hanyalah mengisap rokok, menyalakan batang baru dari puntung batang yang lama, seolah asap itu satu-satunya hal yang membuatnya tetap berjalan.

“Achila,” kataku, “minumlah. Kita masih punya air, bukan?”

Ia menggeleng. “Aku tidak apa-apa. Kau sendiri? Kau yang harus minum.”

“Aku Akila. Tubuhku bisa menahan haus lebih lama darimu.” Aku menunjuk botol di pinggangnya. “Minumlah. Di kota berikutnya kita pasti menemukan air.”

Ia menimbang sejenak, lalu mengulurkan botol itu ke depan. “Alexio? Kau mau?”

“Simpan saja,” jawab Alexio tanpa menoleh. “Selama rokokku belum habis, tenggorokanku tak akan protes.”

Achila mendesah, lalu meneguk sedikit. Hanya sedikit, sekadar membasahi lidah, sebelum menutup botolnya rapat-rapat. “Siapa tahu nanti kita lebih membutuhkannya,” gumamnya.

Aku mempercepat langkah hingga berjalan sejajar dengan Alexio. “Masih seberapa jauh?”

“Kita harus melewati sebuah bukit lebih dulu.” Ia menunjuk cakrawala yang bergetar oleh panas, tempat di mana tak ada apa pun yang tampak selain langit pucat. “Begitu bukitnya terlihat, berarti kita sudah dekat.”

Aku mengedarkan pandang. Di kanan-kiri kami, sisa-sisa bangunan mencuat dari tanah seperti gigi-gigi patah. Beberapa masih menyisakan bingkai jendela. Satu masih menyisakan anak tangga yang naik ke udara kosong, menuju lantai yang sudah lama tak ada. Tak ada kawah, tak ada bekas ledakan. Bangunan-bangunan itu hanya ditinggalkan, lalu perlahan dimakan waktu.

“Tempat apa ini dulu?” tanyaku. “Medan perang?”

“Lebih buruk.” Alexio mengembuskan asap panjang. “Ini salah satu tempat yang disapu Invisible Destruction. Gelombang itu tidak meruntuhkan apa pun. Ia hanya membunuh. Setelah semua penghuninya mati, tak ada yang tersisa untuk membangun kembali, dan tak ada yang cukup berani untuk pindah ke sini.”

“Kalau ada yang selamat,” Achila menyela, “berarti mereka Akila, bukan?”

“Tidak semuanya.” Alexio menggeleng. “Gelombang itu tidak sama rata. Di tempat-tempat yang dihantam langsung, hampir semua orang mati. Di pinggirannya, sebagian kecil bertahan dan tubuhnya berubah. Mereka itulah Sang Akar, seperti yang diceritakan Profesor. Tapi ada juga yang berada cukup jauh, bersembunyi di tempat yang cukup dalam, atau sekadar cukup beruntung. Mereka selamat tanpa berubah sama sekali.” Ia melirikku dari balik topinya. “Kau pikir dari mana aku dan Achila berasal, Darien? Leluhur kami adalah orang-orang beruntung itu.”

“Jadi, Invisible Destruction tidak diciptakan untuk melahirkan Akila.”

“Tidak. Ia diciptakan untuk menghapus negara-negara dari peta. Akila hanyalah akibat yang tak direncanakan, dan Plataia cukup cerdik untuk memanfaatkannya.” Alexio menendang sebongkah batu, dan batu itu menggelinding ke balik reruntuhan. “Puluhan tahun kemudian, orang-orang yang tersisa beranak-pinak. Mereka membangun kota-kota baru dari puing, hidup miskin, tetapi hidup. Lalu Plataia datang lagi. Mereka menguasai ladang, sungai, tambang, semua yang bisa dikuasai, dan mewajibkan setiap kota membayar upeti yang mereka sebut biaya kedamaian. Sebagian dari kami melawan.” Suaranya merendah. “Tapi tak ada yang bisa menang melawan pasukan Akila.”

Aku tidak menjawab. Mataku tertuju pada kakiku sendiri, pada debu yang menempel di sepatuku, pada setiap langkah yang terasa semakin berat.

Alexio tidak bermaksud menyindirku. Aku tahu itu. Namun, kata-katanya tetap menancap, sebab di balik setiap kota yang dibakar, setiap pemberontakan yang ditumpas, setiap keluarga yang tercerai-berai, ada tangan-tangan seperti tanganku. Para penguasa Plataia memang memegang tali kekang, tetapi kamilah yang menggigit. Kami adalah taring di mulut serigala, dan orang-orang seperti Alexio dan Achila adalah mangsa yang tak pernah punya kesempatan untuk lari.

“Darien.” Alexio menepuk bahuku. “Kau kenapa?”

“Tidak apa-apa. Aku hanya … memikirkan kata-katamu. Semua yang telah dilakukan rasku …”

“Bukan salahmu,” potongnya tegas. “Yang patut disalahkan adalah orang-orang di menara Plataia. Merekalah akarnya.”

“Tapi kamilah yang melakukannya!” Langkahku terhenti. Suaraku pecah lebih keras daripada yang kumaksud, dan gema tipisnya memantul di antara reruntuhan. Alexio dan Achila ikut berhenti, menatapku. “Kamilah yang membunuh kawan-kawan kalian. Keluarga kalian. Kamilah yang membakar kota-kota itu. Mengapa kalian masih memperlakukanku dengan baik? Seharusnya kalian membenciku. Seharusnya kalian menghukumku.” Aku merentangkan kedua tangan. “Ayo. Hukum aku. Aku tidak akan melawan.”

“Jangan bodoh, Darien.” Dahi Alexio berkerut dalam. “Ingat untuk apa kita berjalan sejauh ini.”

“Tapi aku …”

Sebuah telapak tangan kecil mendarat di pipi kananku.

Bunyinya nyaring, dan perihnya merambat hingga ke telinga. Aku terperangah. Achila berdiri di hadapanku dengan tangan masih terangkat, matanya berkaca-kaca dan menyala sekaligus. Aku bisa menangkis tamparan itu. Aku bisa melihatnya datang sejak bahunya mulai bergerak. Namun, tubuhku tidak bergerak sedikit pun. Di hadapan gadis ini, entah mengapa, seluruh kekuatan Akila di dalam diriku seakan luruh, dan aku hanya seorang pemuda bodoh yang baru saja ditampar.

“Dasar bodoh!” serunya. “Kau pikir dengan dihukum, semua yang sudah terjadi akan kembali? Orang-orang yang mati akan hidup lagi?” Ia membentangkan kedua tangannya ke arah dataran gersang di sekeliling kami. “Lihat, Darien! Lihat tempat ini! Kau ingin dunia tetap seperti ini? Atau kau ingin melihat dunia seperti yang kau ceritakan padaku, dengan laut biru dan gunung hijau dan salju yang turun pelan-pelan?”

Aku tak sanggup menjawab. Aku tak ingat pernah menceritakan mimpiku kepadanya dengan begitu rinci, tetapi barangkali aku pernah, di salah satu malam ketika kami tak bisa tidur.

“Kalau kau merasa bersalah,” suaranya melunak, meskipun matanya belum, “jangan minta dihukum. Hukuman itu jalan pintas. Perbaikilah. Itu jauh lebih sulit, tapi hanya itu yang berarti.”

Pipiku masih panas. Namun, panas itu tak lagi terasa seperti perih. Aku menunduk, lalu mengangguk perlahan.

“Aku ingin dunia yang seperti itu,” bisikku. “Aku ingin dunia yang tidak membutuhkan Akila.”

Achila mengembuskan napas panjang, lalu tersenyum. Senyum yang lelah, tetapi tulus. Di sampingnya, Alexio menarik topinya lebih rendah, barangkali untuk menyembunyikan senyumnya sendiri.

“Kalau begitu,” katanya, “berhentilah berdiri di situ seperti patung, dan berjalanlah. Kalau kita sempat mencapai bukit sebelum gelap, kita bermalam di sana.”

Kami kembali berjalan. Aku menyentuh pipiku sekali lagi, diam-diam. Aku tidak mengerti mengapa sebuah tamparan bisa terasa seperti uluran tangan, tetapi aku mulai belajar bahwa banyak hal di dunia luar memang begitu: terlihat seperti satu hal, padahal maknanya adalah hal lain sama sekali.

 

Bukit itu muncul menjelang sore, menjulang dari dataran seperti punggung binatang raksasa yang sedang tidur. Lerengnya curam dan berbatu, dan kami harus mendaki dengan tangan sekaligus kaki di beberapa bagian. Ketika akhirnya tiba di puncak, langit telah berubah jingga, dan angin pertama malam itu datang berembus dingin, menyapu peluh di tengkuk kami. Setelah seharian dipanggang matahari, dingin itu terasa seperti hadiah.

Lihat selengkapnya