Malam di perbatasan berbau mesiu dan tanah hangus.
Aku berjalan menyusuri jalan setapak yang menurun dari tepi Byzantium menuju padang terbuka di antara kedua kota. Semakin jauh aku melangkah, semakin pekat udara di sekelilingku. Selongsong peluru berserakan di rerumputan yang sudah lama mati, berkilat setiap kali tertimpa cahaya api. Di tengah padang, reruntuhan kuil Para Dewa yang diceritakan pemilik penginapan berdiri seperti tulang belulang raksasa. Tiang-tiangnya patah, atapnya sudah lama runtuh, dan salah satu sudutnya kini terbakar.
Di seberang padang, tembok Kota Eretria menjulang hitam. Sebagian dindingnya melepuh dimakan api, dan di depan gerbangnya, sekompi orang berlarian membawa ember dan karung pasir untuk memadamkan kobaran yang terus menjalar. Sementara itu, di parit-parit dangkal di sisi Byzantium, barisan penembak membalas setiap kilatan yang muncul dari atas tembok.
Aku pernah berada di tengah perang. Dua kali. Namun, malam itu aku melihatnya untuk pertama kali dari luar, dan dari luar perang tampak jauh lebih kecil, sekaligus jauh lebih menyedihkan. Tak ada Akila di sini. Tak ada Akila Own, tak ada pesawat, tak ada Mayor yang mencatat siapa yang layak. Yang ada hanyalah nelayan dan petani yang menggenggam senapan tua, berjongkok di parit berlumpur, menembaki tetangga yang dulu mungkin pernah bertukar ikan dan gandum dengan mereka.
Dulu aku membunuh tanpa alasan, pikirku. Mereka setidaknya punya alasan. Lalu mengapa hasilnya sama saja?
Sesuatu menghantam betis kananku.
Rasanya seperti disengat besi panas. Aku jatuh berlutut, mengerang di antara gigi yang terkatup. Darah merembes membasahi celanaku. Tanpa berpikir, aku menekan luka itu, meraba dengan ujung jari, lalu mencongkel butiran timah yang tertanam di dalamnya. Rasa sakitnya membuat pandanganku memutih sesaat. Namun, ketika aku menunduk lagi, kulit di betisku sudah mulai merapat. Beberapa tarikan napas kemudian, yang tersisa hanya noda merah dan bekas samar yang perlahan memudar.
“Hei! Kau!”
Seorang pria berambut ikal melambai-lambaikan tangan dari parit terdekat. Rompinya robek, wajahnya hitam oleh jelaga. “Pergi dari sini, Tuan! Ini bukan tempat untuk orang yang tidak bersenjata!”
Aku bergeming. Kakiku belum sepenuhnya mau menurut.
“Tuan! Kalau masih ingin hidup, menyingkirlah dari …!”
Kalimatnya tak pernah selesai. Sebutir peluru menembus dadanya. Ia tersentak, tubuhnya condong ke depan, dan darah meleleh dari sudut bibirnya. Sebelum ia sempat ambruk, seorang remaja melompat dari dalam parit dan menangkap tubuhnya dengan bahunya yang kurus.
“Ayah! Ayah! Hei, jawab aku!”
Ayah dan anak.
Aku menyeret kakiku mendekat. Pria berambut ikal itu sudah tak bernapas lagi. Matanya masih terbuka, masih menatap ke arahku, ke arah orang asing yang ia coba selamatkan. Di Sangkar, para pelatih menyebut kematian seperti ini sebagai kematian yang terhormat. Mati di medan perang, mati dengan senjata di tangan, mati demi tujuan yang lebih besar.
Omong kosong. Tidak ada yang terhormat dari seorang anak yang meninju-ninju tanah sampai buku-buku jarinya berdarah.
“Kenapa harus kau?” Remaja itu menempelkan dahinya ke dada ayahnya. Bahunya berguncang hebat. “Kau bilang kita akan menang! Kau bilang kita akan pulang dan makan malam bersama Ibu! Kau membawaku ke sini hanya supaya aku melihatmu mati?!”
Aku mengulurkan tangan. “Pinjamkan senjatamu.”
Ia mendongak. Matanya merah dan basah. “Siapa kau?!”
“Pinjamkan senjatamu,” ulangku.
Barangkali karena suaraku. Barangkali karena ia tak lagi punya tenaga untuk bertanya. Remaja itu meraih senapan yang tergeletak di sampingnya dan menyerahkannya kepadaku tanpa sepatah kata pun.
Aku tahu apa yang sedang kulakukan salah. Aku hanya mendengar cerita dari satu pihak, dari seorang pemilik penginapan yang bahkan tak berani menatap mataku. Aku tidak tahu siapa yang pertama kali menembak, siapa yang lebih dulu merampas, siapa yang benar. Aku hanya tahu seorang pria baru saja mati karena berusaha menyelamatkanku, dan anaknya sedang menangis di sampingku. Itu bukan alasan. Itu hanya amarah. Namun, malam itu, amarah terasa cukup.
Senapan itu panjangnya sekitar satu meter, berat, dan teleskopnya retak. Senjata sungguhan untuk manusia sungguhan, tak ada hasrat yang perlu dibaca, tak ada cahaya biru. Aku setengah berjongkok, menyandarkan larasnya di bibir parit, dan membidik ke atas tembok Eretria.
Mataku tak membutuhkan teleskop yang retak itu. Sejak kecil, penglihatan Akila sudah ditempa untuk melihat apa yang tak bisa dilihat manusia biasa. Di bagian tembok yang melepuh terbakar, tempat tak ada lagi bayangan untuk bersembunyi, lima orang penembak jitu berbaring berjajar. Laras senapan mereka berkilat setiap kali api di bawahnya berkobar.
Aku menarik napas. Mengembuskannya.
Peluru pertama melesat. Penembak di ujung kiri tersentak dan tak bergerak lagi.
Empat lainnya bergeser cepat, dua ke kiri, dua ke kanan, membuka celah lebar di tengah. Mereka terlatih. Sebutir peluru memercikkan tanah di dekat kepalaku. Lalu satu lagi. Lalu satu lagi, dan kali ini remaja di sampingku menjerit. Ia memegangi bahunya, darah merembes di sela jari-jarinya.
“Menjauh!” Aku mendorongnya. “Pergi dari sini, Bocah! Lari!”
Ia menurut. Ia berlari terhuyung menjauh dari parit, tetapi langkahnya terlalu pendek, terlalu lambat. Peluru berikutnya menemukan kepalanya.
Ia roboh tanpa suara, beberapa langkah dari ayahnya.
Aku menatap tubuh kecil itu, dan dunia di sekelilingku perlahan menjadi gelap. Dentum senapan menjauh. Jeritan menjauh. Yang tersisa hanya suara itu, suara serak dan berat yang sama dengan yang pernah berbisik di menara, di jalan menuju Dystychía.
Dua orang mati di depanmu, 666. Dua. Dan kau masih bermimpi menyelamatkan dunia?
Pria itu mati karena memperingatkanku. Ia bisa saja tak peduli. Ia bisa saja membiarkan orang asing bodoh yang berdiri di tengah padang itu tertembak. Namun, ia memilih menoleh, dan pilihan itu membunuhnya.
Terimalah. Membunuh juga diperlukan untuk kedamaian. Bunuh mereka, seperti dulu. Kau tahu caranya. Tubuhmu ingat.
Tubuhku memang ingat.
Senapan itu terangkat lagi seolah dengan sendirinya. Empat tarikan napas. Empat peluru. Empat tubuh di atas tembok Eretria yang berhenti bergerak. Aku tak merasakan apa-apa saat melakukannya, dan itulah yang paling menakutkan.
Aku melangkah keluar dari parit. Kakiku membawaku menyeberangi padang, melewati reruntuhan kuil, menuju gerbang Eretria yang masih berasap. Aku tak tahu apa yang hendak kulakukan setibanya di sana. Aku hanya tahu aku belum selesai.