Hujan yang tengah menghujam tubuhnya, tak sekalipun pernah Ia kenali suaranya. Kabut tipis yang mengaburkan pandangan, harus dilaluinya tanpa pilihan. Menjauhi telaga yang telah membenamkan tubuhnya sesuai keinginan, terus Mentari berjalan gontai. Menuruni jalan setapak berkerikil bundar, tak seorang pun terlihat berada di sekitar untuk menawarkan bantuan. Persis bagaimana dirinya telah melewati hampir dua puluh enam tahun kehidupan, dirinya sendirian.
Tepat di sisi sekumpulan iris yang sesekali bergoyang tertimpa hujan, Mentari menghentingkan langkahnya sebentar. Angin yang tiba-tiba melintas, menggigit tubuhnya yang basah membuatnya kedinginan. Lebih dari lemas, kini Ia merasa seperti tak lagi sanggup berjalan.
Membungkuk. Mentari meletakan masing-masing tangannya di atas lutut sebagai penopang. Sekali matanya dipejamkan sebagai upaya merebut kembali kesadaran, bayang seseorang melintas dalam ingatannya.
Bayangan seorang laki-laki tak dikenal yang selalu saja datang dengan lancang. Menariknya keluar dari pintu kematian, tanpa tahu bahwa sebenarnya hal itulah yang begitu Mentari inginkan.
Membuka kembali pejaman matanya dengan perasaan kesal, di tempat yang sama sekali berbeda dirinya kini telah berada. Seolah-olah ada seseorang yang diam-diam memindahkannya dengan mantra. Bukan di jalan setapak berkerikil bundar dirinya kini tengah berada, melainkan halaman sebuah rumah tua yang berada jauh di bawahnya. Sebuah rumah tua yang meskipun begitu tidak sama sekali terlihat asing buatnya.
Bukan hanya karena pasti akan melewatinya selagi hendak menuju Bukit Peri yang belum lama ditinggalkan, beberapa kali Mentari bahkan pernah mampir untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan kembali perjalanannya. Sebuah rumah bergaya kolonial dengan luas melingkar yang menjadi satu-satunya banhunan yang berada di kawasan yang masih asli itu sebenarnya memang sebuah kedai yang dibuka untuk umum.
Meski begitu, bagaimana aku bisa sampai kesini tadi?
Sekali merasa punya sedikit tenaga, Mentari langsung menegakkan tubuh untuk mencari tahu sendiri jawaban dari pertanyaannya. Mengalihkan pandangan dari depan pintu kayu yang berada tepat di hadapannya. Menoleh ke arah pagar yang terbuka lebar di belakangnya. Sebentar. Sebelum pandangannya lalu terpaku pada ukiran huruf di satu bidang dinding yang basah itu.
Kedai Sinar Bulan.
Biarpun bukannya kali pertama Ia datang ke sana, ini merupakan kali pertama Mentari mengeja tulisan yang terukir di satu bagian dindingnya.
Sementara Ia mengeja nama tempat itu dalam hatinya, sepenggal kisah Mama menghampiri kepalanya. Entah kisah itu nyata atau hanya karangan semata. Mamanya bilang kalau kedai itu tidak hanya memiliki pengunjung manusia, tapi juga para Peri yang tengah beristirahat di tengah-tengah tugas mereka di Dunia.
Pernah begitu mempercayai kisah itu, sejujurnya kini Mentari menganggap kisah itu tak lebih dari sekedar kisah biasa. Kisah yang tak lebih dari sekadar kisah yang akan membangkitkan kerinduannya terhadap Mama. Mama yang telah pergi meninggalkannya sendirian di Dunia yang senyap ini.
Lalu, persis tiap kali kerinduan itu akhirnya terbangun sepenuhnya dalam hatinya, air mata mulai mengalir jatuh di atas pipi pucatnya. Setetes, dua tetes, berlomba dengan dingin air hujan yang masih belum berhenti menghujamnya tanpa suara.
Detik berlalu, ketika Ia merasa kesedihan telah mengulurkan tangan untuk menarik lebih jauh pandangannya mendekati nanar, Mentari berusaha menghindar. Berusaha melangkahkan kaki-kakinya yang kian gemetar, pada akhirnya perempuan itu kehilangan pijakan. Tersungkur di hadapan pintu masuk kedai yang belum sempat di gapai, Mentari tak lantas hilang kesadaran. Sementara pandangan matanya yang nanar semakin meredup, anehnya, telinga yang selama ini tak bisa mendengar terasa tengah mendengar sebuah bunyi tak dikenal.
KRIET…
*
KRIET…
Derit pintu ruangan yang baru saja terbuka dengan sendirinya, terdengar tak ubahnya kerinduan lama. Dari arah luar pintu ruangan tersebut, seorang laki-laki datang melewati bagian celahnya. Meninggalkan lorong gelap di belakangnya, masuk ke dalam ruangan berpenerangan temaram yang berada tepat di hadapan. Menunjukan lebih jelas sosoknya dari sekadar bayangan semata.
Mengenakan pakaian hitam-hitam, tubuh laki-laki itu tinggi dengan bobot proporsional. Karakter wajah yang memiliki perbedaan dari pribumi kebanyakan, lebih dari cukup untuk menjadikannya perhatian bahkan di tengah keramaian. Tertuju lurus ke depan, matanya yang bewarna nyaris pudar bersorot tajam. Tak ubah penerangan di dalam ruangan, auranya menguar temaram.
Laki-laki itu, Orion.