Ketika setiap kutukmu manjur
Ketika tahu itu salah, tapi tetap dilakukan
Ketika beranggapan ulah iblis sebagai pertolongan dari Tuhan
Maka ....
Tidak akan pernah ada kebahagiaan nyata dalam hidupmu
Semua kesenangan hanyalah pelengkap sabda yang akan menuntunmu ke dalam api angkara
LATHI ....
Hati-hati dengan segala ucapan karena apa yang terlontar dari mulut berasal dari hati dan tidak mungkin ditarik kembali, menyesal pun tiada guna.
Ingat ....
Pada dasarnya apa pun yang kita lakukan untuk orang lain, kita lakukan untuk diri sendiri. Pada akhirnya semua akan kembali ke asal. Menabur kebaikan menuai kebaikan. Menabur angkara menuai angkara.
======
Pintu diempas kasar membentur dinding dan memecah hening rumah tua peninggalan zaman kolonial ini. Gadis remaja usia enam belas tahunan melangkah masuk dengan kaki mengentak-entak kasar.
Tas sekolah dilempar ke atas sofa ruang tamu dan membentur sandaran, akhirnya memantul lalu jatuh ke lantai. Zeze tidak peduli. Sambil mengacak rambut yang hanya sepanjang bawah telinga, dia terus melangkah ke ruang dalam.
Dia berhenti di dekat meja makan, lantas menuang air minum ke gelas. Seperti sudah berhari-hari tidak minum, Zeze menenggak seluruh isi gelas sampai tandas. Setelahnya, meletakkan gelas di atas meja dengan kasar sampai terdengar suara benturan tak.
"Papa sialan!" Tiba-tiba saja dia berteriak dan membanting gelas ke lantai. Hancur berantakan seperti rasa hatinya saat ini. "Napa nggak mati aja sih?! Nyusahin tau nggak?! Benci banget! Benci! Aku benciii!"
"Ze, ada apa lagi, sih?" Bu Widya muncul dari pintu yang tembus ke halaman belakang. Matanya fokus pada Zeze, jadi tidak tahu di lantai ada pecahan gelas. "Aish, aduh!"
Perempuan dengan paras khas Timur Tengah, tetap terlihat anggun meski hanya mengenakan daster, segera berpegangan pada tepi meja lalu mengangkat kaki untuk memeriksa. Hanya terkena serpihan kaca yang kecil, tidak dalam pun. "Ini banyak pecahan gelas, kenapa nggak cepat dibersihin, sih, Ze?"
Zeze menatap sendu sang mama. Riak tipis cairan bening pun mulai menggenang di mata belonya. "Ma, cari pembantu dong. Aku nggak bisa kayak gini terus. Aku malu sama temen-temen."