LATHI

M.G. Rosana
Chapter #2

Si Tukang Kutuk


Beberapa gadis di dalam kelas yang tadinya tengah mengobrol seru langsung bungkam ketika Zeze masuk. Kalaupun ingin berbicara mereka hanya saling berbisik. Selain mereka, masih ada satu gadis lagi duduk sendirian di sudut sedang asyik membaca buku.

Setelah melempar tas sekolah ke atas meja, Zeze bergegas menghampiri mereka yang tadi bergunjing tentang keluarganya. Melihat Zeze mendekat dengan wajah mengeras dan tatapan tajam penuh amarah, mereka pun mengerut ketakutan dan mulai saling menyalahkan.

"Kamu sih ...."

"Kok, aku? Dia tuh yang mulai ...."

"Enak aja, aku kan datang belakangan ...."

"Jangan tatap aku. Pura-pura nggak tau aja napa sih?"

Begitu sampai, empat tamparan beruntun langsung mendarat di kedua pipi gadis yang berbicara terakhir. Zeze tidak peduli siapa yang memulai bergosip, tetapi gadis itulah yang tadi didengarnya berkata dasar anak koruptor tidak tau diri.

Tidak ingin menjadi korban berikutnya, yang lainnya pun lari tunggang langgang mencari selamat sambil menjerit-jerit histeris. Abai dengan sekitar, Zeze menarik kerah baju gadis itu, lalu mendorongnya hingga jatuh tersungkur di lantai.

"Zeze, cukup, Ze!" Gadis yang tadi duduk di sudut sedang membaca buku, Vita namanya, sudah berdiri mengadang Zeze yang hendak menginjak gadis yang sudah tersungkur.

"Nggak usah ikut campur, deh! Nggak capek apa terus-terusan jadi pahlawan kesiangan?! Urus urusanmu sendiri, sana! Minggir!" Zeze mendorong gadis itu ke samping hingga menabrak meja.

Gadis yang duduk di lantai wajahnya pucat pasi dan tubuhnya gemetar. Dia beringsut mundur sambil menatap penuh kengerian, seperti sedang melihat makhluk menyeramkan. Saking takutnya dia sampai tidak berani menghapus darah dari kedua sudut bibir yang pecah karena tamparan.

"Zeze!" Vita lagi-lagi mengadang Zeze yang terus melangkah mengikuti gadis yang beringsut mundur ketakutan. "Jangan buat masalah lagi. Kamu nggak kasihan sama mama kamu apa?!"

"Diaaam!" Zeze berteriak sampai urat-urat leher menonjol sambil mengangkat tangan hendak menampar. Namun, sebelum hal itu terjadi seseorang sudah menghentikannya.

"Zeze, cukup!" Guru laki-laki berlari masuk dan berhenti di dekat Zeze. "Vita, kamu bawa Nana ke ruang kesehatan dulu, obati bibirnya."

"Baik, Pak." Vita pun bergegas membantu Nana bangun. Lutut Nana lemas, jadi Vita harus lebih banyak mengeluarkan tenaga supaya bisa mengangkat dan mendukungnya. "Ayo, Na. Pelan-palan berdiri."

Zeze menatap tajam pada Nana yang tengah berusaha bangun. Mulut Zeze terkatup rapat, tetapi tersirat amarah dan kebencian di matanya, jemari mengepal erat sampai gemetaran.

Beberapa detik berselang, Zeze menggumam penuh penekanan, "Mulut nggak dijaga, biarin aja busuk. Busuk, mulutmu busuk."

"Zevaqia Dara, cukup!" Guru laki-laki itu, Pak Santoso, memerintah tegas. "Ikut bapak ke kantor!"

Lihat selengkapnya