Lathifa

Kim elly
Chapter #1

Prolog

Langit malam itu seolah tumpah. Hujan turun begitu deras, menciptakan kebisingan alami yang menyamarkan segala suara dari luar. Di lantai atas, Lathifa terlelap dalam buaian mimpi, tak menyadari badai yang sebenarnya sedang menuju ke arah rumah mereka. Sementara itu, di kamar utama lantai bawah, Tamara, ibunya, juga tengah tertidur pulas demi melepas penat.


Klek.


Suara itu halus, namun mematikan. Sebuah jendela dicongkel paksa dari luar. Namun, karena jarum jam baru saja menyentuh pukul 00.30, keheningan rumah itu membuat penghuninya tak mendengar ancaman yang masuk. Lima pria bertubuh besar menyelinap bak bayangan hitam. Salah satunya adalah Rico—pria yang memiliki obsesi gelap dan gila pada Tamara.


Rico membuka pintu kamar Tamara dengan perlahan, lalu tanpa rasa berdosa, ia merebahkan tubuhnya di sisi wanita itu. Ia memeluk tubuh Tamara dengan erat, menghirup aroma lehernya dalam-dalam seolah itu adalah candu yang memabukkan.


Sentuhan asing itu membuat naluri Tamara terjaga. Ia tersentak, membuka mata, dan seketika jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat wajah Rico berada hanya beberapa sentimeter darinya.


"Sedang apa kamu di sini?!" desis Tamara seraya merayap menjauh dengan tubuh gemetar.


"Ayolah, Sayang... jangan munafik. Kita lakukan ini suka sama suka," ucap Rico dengan kekehan geli yang terdengar mengerikan di telinga Tamara.


Tamara terus mundur, kakinya lemas hingga punggungnya membentur dinding dingin. Rico terus merangkak mendekat, matanya menatap lapar layaknya predator yang telah mengunci mangsanya.


"Pergi!" teriak Tamara, meski suaranya bergetar hebat karena ketakutan.


"Aku tahu kamu juga suka sama aku," bisik Rico tepat di telinga Tamara, membuat bulu kuduk wanita itu berdiri.


"Nggak! Aku masih mencintai almarhum suamiku! Pergi dari sini sebelum aku telepon polisi!" ancam Tamara dengan sisa keberaniannya.


Rico tertawa hambar. "Uuuh, takut..." ucapnya mengejek. Tanpa peringatan, ia mencengkeram lengan Tamara hingga memar, lalu memaksa mendaratkan ciuman kasar.


Dengan kekuatan yang lahir dari rasa jijik, Tamara berontak. Ia menghempaskan tubuh Rico dan berhasil berlari keluar kamar. Namun, harapannya untuk selamat runtuh seketika saat ia tiba di ruang tengah. Di sana, empat pria lain telah menunggu, duduk santai di sofa seolah rumah itu milik mereka.

Lihat selengkapnya