Malam itu, langit seolah tumpah. Hujan turun sangat deras, menyisakan suara gemuruh yang menghantam atap kediaman Argawinata. Di tengah ruang tamu, Tamara berjalan mondar-mandir tanpa arah. Kecemasan terpancar jelas dari wajahnya yang pucat.
"Mama, gelisah banget sih? Sabar kenapa, Ma," ucap Lathifa tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya, mencoba mengusir ketegangan yang mulai menular.
"Papa tadi bilang sudah otw dari bandara, tapi kok sampai jam segini belum sampai juga ya?" Tamara berucap lirih, suaranya bergetar menahan kekhawatiran yang kian memuncak.
Lathifa menghela napas, lalu menepuk sofa di sampingnya. "Sabar, Ma. Mending duduk dulu, nanti malah darah tinggi kalau stres terus."
Tamara akhirnya luluh. Ia mencoba duduk dan menarik napas panjang untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Namun, tepat saat ia mencoba rileks, keheningan pecah oleh dering ponsel yang memekakkan telinga.
"Halo?" suara Tamara terdengar gemetar.
"Maaf, apa benar ini dengan istri Tuan Aditya Argawinata?" tanya sebuah suara asing dan berat di seberang sana.
Firasat buruk langsung menghantam dada Tamara. "Iya, Pak. Saya sendiri. Ada apa ya?"
Lathifa yang menyadari perubahan ekspresi ibunya segera beranjak dan mendekat, memasang telinga baik-baik.
"Suami Ibu mengalami kecelakaan hebat di jalan tol. Saat ini korban sudah dilarikan ke Rumah Sakit Medika. Mohon Ibu segera datang ke sini."
Dunia seakan runtuh seketika. Tamara terdiam membatu, ponselnya nyaris jatuh dari genggaman saat air mata mulai membanjiri pipinya. Lathifa yang tidak mendengar jelas percakapan itu segera menyambar ponsel ibunya dan bertanya ulang. Detik berikutnya, wajah gadis itu memucat pasi.
"Ayo, Ma! Kita ke sana sekarang!" seru Lathifa.
Ia segera menyambar kunci mobil dan melaju membelah badai dengan kecepatan tinggi. Di sepanjang jalan, isak tangis Tamara pecah menjadi raungan pilu.
"Mama tenang, Ma... Papa nggak apa-apa. Papa kuat," bisik Lathifa, meski tangannya yang memegang setir gemetar hebat.
"Mama nggak mau kehilangan Papa kamu, Fa! Mama sangat sayang dia!" teriak Tamara histeris, memukul-mukul dadanya yang sesak.