Lathifa

Kim elly
Chapter #3

Chapter 2

Pagi itu, mentari seolah enggan bersinar terang bagi keluarga Argawinata. Meski hatinya masih dibalut duka yang pekat, Lathifa terpaksa menyeret langkahnya. Ujian akhir sudah di depan mata, ia tak punya pilihan selain tetap bersekolah dengan jiwa yang hampa.


"Aku berangkat ya, Ma," ucap Lathifa lirih pada Tamara. Di meja makan, ibunya hanya duduk mematung, menatap kosong piring nasi yang sama sekali tak disentuhnya.


"Kamu harus makan, Nak. Nanti kamu sakit," tegur Bu Wida lembut, mencoba memecah lamunan menantunya.


"Nggak nafsu, Bu..." sahut Tamara dengan suara serak. Matanya kembali berkaca-kaca menatap kursi kosong yang biasanya ditempati suaminya.


Bu Wida menghela napas panjang, mengusap bahu Tamara dengan sabar. "Ikhlaskan, ya. Terus doakan suamimu agar dia mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya."

"Aamiin, Bu," bisik Tamara. Setetes air mata kembali lolos, jatuh membasahi meja makan yang kini terasa begitu luas dan sepi.


Di sekolah, Lathifa bagaikan raga tanpa nyawa. Saat jam istirahat tiba, ia hanya terdiam di pojok kelas, menatap keluar jendela dengan pandangan kosong.


"Fa, jangan sedih terus. Kita ke kantin yuk, kamu butuh tenaga," ajak Clara cemas. Lathifa berdiri tanpa sepatah kata pun, mengikuti langkah sahabatnya itu seperti robot.


Di kantin, Lathifa hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa selera. Tiba-tiba, seorang laki-laki menghampiri meja mereka dengan raut wajah penuh penyesalan. Itu Daren.


"Fa, sorry banget aku kemarin nggak bisa datang ke pemakaman Papa kamu. Aku baru banget sampai dari luar kota," ucap Daren sungguh-sungguh.


"Nggak apa-apa, Ren," sahut Lathifa pendek, tangannya masih sibuk mengaduk nasi yang mulai mendingin.


"Kamu nggak marah, kan?" tanya Daren lagi, mencoba mencari binar di mata Lathifa yang redup.


"Ngapain harus marah? Hidup terus berjalan, kan?" jawab Lathifa dengan nada datar yang menyayat hati.


Daren tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana. "Makan ya? Sini, aku suapin kalau kamu males gerak," ucapnya sambil menyodorkan sendok.


"Nggak usah, malu dilihat orang," tolak Lathifa, meski sedikit rona kembali ke wajah pucatnya.


"Sedikit aja, Fa. Kamu nggak boleh tumbang," bujuk Daren lembut. Akhirnya, Lathifa luluh dan mulai menyuap makanannya sedikit demi sedikit.


Sore harinya, sesuai janji, Daren mengantar Lathifa pulang. Namun, sebelum sampai ke rumah, Lathifa memecah keheningan.


"Ren, ke taman dulu yuk?" pintanya. Daren hanya mengangguk pelan, memutar arah motornya menuju taman kota yang tenang.

Mereka duduk di bangku kayu menghadap danau yang luas. Angin sore meniup helai rambut Lathifa, membawa aroma hujan yang belum sepenuhnya hilang.


"Padahal Papa orang baik, Ren. Kenapa harus secepat ini?" gumam Lathifa lirih, suaranya nyaris hilang ditelan angin.

Lihat selengkapnya