Hari-hari menjelang kelulusan terasa begitu lambat bagi Lathifa. Di rumah besarnya yang kini terasa lebih sunyi, ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan melamun di depan televisi. Pikirannya sering melayang jauh, sementara ibunya, Tamara, sudah kembali sibuk mengabdi sebagai dokter di rumah sakit.
Beberapa kali Tamara mencoba membujuk putri semata wayangnya itu. "Jadilah dokter seperti Mama, Nak. Masa depanmu lebih terjamin," ujarnya di suatu malam. Namun, Lathifa tetap teguh pada pendiriannya. Ia ingin menjadi pengacara, menghidupkan kembali marwah ayahnya yang telah tiada. Baginya, toga hukum adalah bentuk penghormatan terakhir untuk mendiang Aditya.
Di sisi lain, Daren tak henti-hentinya mencoba masuk kembali ke kehidupan Lathifa. Ponselnya bergetar berkali-kali membawa notifikasi pesan dan panggilan dari laki-laki itu. Namun, hati Lathifa sudah membeku. Tanpa ragu, ia memblokir nomor laki-laki yang telah menghuni hatinya selama setahun itu.
Lathifa merasa Tuhan sedang melindunginya. Rencana pernikahan yang awalnya dirancang mendiang ayahnya agar Lathifa "aman" dan tidak terjerumus pergaulan bebas, justru hampir menjerumuskannya pada laki-laki yang salah. Kini, ia merasa bebas untuk mengejar mimpi tanpa beban pengkhianatan.
Hari kelulusan yang dinanti tiba. Gedung pertemuan SMA Taruna Nusantara nampak megah. Lathifa dan Tamara hadir mengenakan gaun yang anggun, memancarkan aura kelas atas namun tetap bersahaja. Lathifa duduk gelisah; ia terpilih sebagai lulusan terbaik tahun ini.
"Rileks, Nak. Mama bangga sama kamu," bisik Tamara sambil menggenggam tangan putrinya yang dingin.
"Iya, Ma... tapi rasanya deg-degan banget," sahut Lathifa sambil mencoba mengatur napas.
Di barisan kursi lain, keluarga Daren duduk dengan gelisah. Bu Ajeng, ibunda Daren, terus mengipasi dirinya dengan raut wajah kesal. Ia tak berani menatap mata Tamara. Rasa malu menghantamnya karena rencana besan yang megah itu hancur berantakan akibat ulah anaknya sendiri.
"Ini semua gara-gara kamu! Kita kehilangan menantu sehebat Lathifa!" desis Bu Ajeng tajam. Daren hanya bisa menunduk dalam, menatap sepatunya dengan rasa penyesalan yang terlambat.
Saat namanya dipanggil, Lathifa melangkah menuju podium dengan anggun. Di depan mikrofon, suaranya bergetar menahan haru.
"Terima kasih untuk Mama yang selalu menjadi pilar kekuatanku. Jika Papa masih ada di sini, kita pasti akan berfoto bersama sebagai keluarga lengkap, ya kan Ma?" ucap Lathifa sambil tersenyum ke arah Tamara. Meski bibirnya tersenyum, hatinya menjerit merindukan pelukan hangat ayahnya.
Tamara menunduk, air matanya jatuh tak terbendung. "Mas, lihatlah... anak kita sudah tumbuh dewasa. Dia adalah kebanggaanmu yang paling nyata," gumamnya dalam hati.
Usai acara, Lathifa dan Clara berdiri di depan gerbang sekolah untuk terakhir kalinya sebagai siswi.
"Cla, kita beneran satu kampus, kan?" tanya Lathifa, memastikan sahabatnya tetap bersamanya di jenjang hukum nanti.
"Iya dong! Aku nggak akan biarin kamu sendirian," sahut Clara mantap. Namun, raut wajahnya tiba-tiba berubah sinis. "Kecuali si pengkhianat itu. Katanya dia mau segera menikah sama Daren karena... dia sudah hamil, Fa."
Lathifa tertegun sejenak, namun ia segera menguasai diri. Kabar itu seolah menjadi palu godam yang mengesahkan bahwa keputusannya meninggalkan Daren adalah hal paling tepat dalam hidupnya.
"Sudah, jangan dibahas lagi ya, Clara," potong Tamara dengan suara lembut namun tegas.